Di era modern ini, di mana pacaran bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang tabu, malam minggu dimanfaatkan oleh banyak pasangan muda-mudi ataupun yang tidak lagi muda dan mudi untuk memadu kasih. Alun-alun kota, mall, bioskop, sampai kuburan pun dipenuhi oleh mereka yang tengah menghabiskan malam minggu bersama. Namun, di sisi lain, ada kaum yang justru mengenaskan ketika malam minggu datang. Kaum itu disebut jomblo. Ya, karena tidak memiliki pasangan, kaum jomblo dijadikan bahan hinaan di twitter, facebook, dan beragam situs jejaring sosial lainnya.

"Hari gini masih jomblo? Gak banget gitu looohhh!", kata-kata itu mungkin saja terlontar untuk para jomblo. Kasihan sekali. Sepertinya jomblo lebih hina daripada penyuka sesama jenis. Tragis. Well, dalam hal ini saya mencoba untuk memberikan sedikit pembelaan terhadap kaum jomblo karena jomblo pun memiliki alasan atas ke-jomblo-annya. Mari kita simak baik-baik, pemirsaahhh!!!!

Alasan pertama mengapa seseorang memilih untuk menjadi jomblo adalah karena prinsip. Contohnya aja para anggota Cherrybelle. Mereka cantik, tapi HARUS JADI JOMBLO agar mereka fokus kepada karir atas permintaan pihak manajemen sih. Contoh lain, seseorang memilih jomblo karena punya prinsip bahwa dia tidak mau pacaran sebelum menikah. Pacaran dianggap hanya membuang-buang waktu dan menimbulkan dosa saja. Berdasarkan alasan tersebut, kaum jomblo berhak disebut sebagai JOMBLO PRINSIPIL.

Next, seseorang menjadi jomblo bisa juga karena dia terluka atas hubungan yang pernah ia jalani sebelumnya. Ditinggal selingkuh oleh sang mantan kekasih, atau tahu kalau mantan pacar yang dia cintai ternyata penyuka sesama jenis, membuat si jomblo enggan membina hubungan lagi bersama orang lain (tentunya lawan jenis ya). Dalam kata lain, si jomblo merasa trauma untuk kembali membagi cintanya. Ya, sebut saja jomblo jenis ini sebagai JOMBLO TRAUMATIS.

Yang berikutnya adalah JOMBLO DILEMATIS. Varietas jomblo ini tercipta karena si jomblo berada pada situasi yang membuatnya dilema. Contoh kasusnya adalah si jomblo naksir ke seseorang, tapi tidak berani untuk mengutarakan perasaannya. Di waktu yang sama, si jomblo 'ditembak' oleh orang lain. Dalam hal ini, si jomblo merasa dilema karena jika dia menerima tawaran si orang lain, dia tidak lagi bisa berhubungan secara intens dengan orang yang dia suka. Si jomblo juga takut jika sebenarnya seseorang yang dia suka juga sebenarnya punya perasaan yang sama. Dilema, kan? *iyain aja deh*

Advertisement

Dari ketiga alasan di atas, dapat disimpulkan bahwa jomblo bukan sebuah nasib tragis, tapi juga pilihan hidup. Maka dari itu, untuk anda sekalian yang tidak jomblo, janganlah menjauhi atau mengucilkan para jomblo karena mereka bukan penyakit menular, teman-teman. Itu saja, semoga bermanfaat!

Note: Kalau ada yang tanya saya jomblo kategori apa? Saya bukan jomblo, saya single.