Saya, jatuh cinta dan patah hati. Memiliki sebuah hubungan yang sangat (mungkin) erat dan amat rumit menurut perasaan yang mengalaminya waktu itu.

Anggaplah cerita ini adalah cerita cinta dari seseorang yang menamai dirinya sebagai ‘saya’, entah siapa nama sebenarnya.

Saya bahkan lupa sejak kapan perasaan itu bermuara lalu menghanyutkan. Yang jelas, jatuh cinta, dan patah karenanya membuat Saya harus menghilangkan segala puncak dari muasalnya. Bahkan sengaja menanamkan benih benci kala itu. Mungkin benar juga apa yang pernah saya dengar bahwa mencintalah sekadarnya agar bencinya juga sekadarnya.

Delapan puluh empat hari tanpamu, saya mencoba kembali menuliskan perihal sebuah kisah yang dulu pernah membuat dirinya berharap dan terus berharap kamulah tokoh utama. Setelahnya, saya menyadari bahwa kamu hanya orang yang lewat begitu saja.

Ah, barangkali itu benar. Jika saja cinta itu tepat. Tepat menurut versi Tuhan, kemungkinan kita tidak akan pernah mengenal kesakitan apalagi kehilangan.

Advertisement

Di hadapan q-w-e-r-t-y, saya sedang mencoba mengendalikan hati yang ingin menyusun sebuah kata K.A.N.G.E.N. Saya hanya tidak berani menuliskan karena saya yakin pasti hati sedang butuh. Dan butuh adalah puncak dari masalah.

Waktu itu tepat pada hari ke lima puluh, saya memutuskan untuk berbahagia. Meski ya, walau kamu sendiri paham dan amat paham. Para anonim hanya melihatmu sebagai sosok yang rapuh jika sendirian tanpa seorang pendamping. Ditambah dengan cekikikan tawa sindiran berkamuflase dalam guyonan melontarkan pertanyaan yang kamu sendiri tidak mengetahuinya. Lalu, saya sendiri sampai sekarang mencari-cari semua jawaban atas pertanyaan mereka. Apakah untuk mengakhiri sebuah usia harus dengan memiliki tangan yang beriringan? Memang usia adalah musuh paling nyata. Tapi bukan berarti kamu merasa tak berguna.

Satu hal yang membuatku menjatuhkan pilihan untuk bahagia adalah karena jodoh adalah hal yang pasti sama halnya dengan kematian. Saya memilih bahagia karena begitulah cara mensyukuri kehidupan yang Tuhan berikan. Bisa saja Dia sengaja membuatmu bimbang, lalu mengutuk usia yang makin matang. Ah, teman haruskah kita membuat hati usang hanya karena usia yang makin lama makin berkembang?

Lagipula kebahagiaan tidak datang pada mereka yang berpasangan saja bukan? Bisa jadi ketika kamu berharap seperti mereka yang berpasangan, di lain sisi yang berpasangan berharap waktu mudanya kembali pada genggamannya. Percayalah, keterlambatan hari ini adalah kebersamaan yang hakiki nantinya.

Bukankah sudah kamu dan aku ketahui, sebaik-baiknya kebahagiaan adalah mempercayakannya pada Tuhanmu? Lalu, kenapa masih menyimpan risau dalam kepala?

Bagimu yang sedang merasakan kembali sebuah kehilangan dan kegagalan, kamu tidak sendirian selama menyimpan harapan pada Tuhan semata. Jangan juga merutuki kesendirian saat ini. Sebab ketika kamu mengutuk diri, seseorang di luar sana sedang meramu doa untuk semua kebaikanmu.

Hai kamu yang sedang mengulum sepi kesekian, pasti sekarang mulai mempertanyakan tentang doa-doa yang telah kamu panjatkan. Kamu yang terlalu amat menginginkan dia segera. Padahal jika sudah tentangnya, kamu rela berbagi waktu. Bahkan waktu dengan Tuhanmu yang menjadi sedikit karena prioritasnya berbeda. Ya, tidak ada yang bisa menyangkal keinginan hati yang mendambakan teman. Tapi, haruskah Tuhan menjadi pilihan kesekian?

Kamu yang sebenarnya. Kamu yang kukenal betul. Kamu yang sangat kusukai ketika membiarkanmu utuh sebagai dirimu begitulah caraku mencinta. Saat ini tepat pukul 01.42 wib sepertinya ada debar yang mengetuk-ngetuk dalam dada. Kamu.

Sebenarnya saya sangat ingin kamu ada saat ini tapi cukuplah di antara spasi dan kata-kata saja membuatmu ada. utuh sebagai dirimu. Di sana. Dalam dada. Dalam doa.

Jangan mengutuk keadaan, sebab Tuhan memberi kepada hati yang tabah meramu doa-doa. Kisah yang tertunda bukan berarti tidak ada. Tuhan hanya terlalu senang kamu selalu bersemoga dalam doa. Hai teman. Tetaplah kuat tetaplah semangat meski kata-kataku tidak membantumu sama sekali.

Anggap saja saya sebagai tokoh yang sedang berperan atau sebagai pengamat dari cerita yang diperdebatkan.