Untuk menjadi produktif di bidang tulis-menulis, tentunya tulisan yang berkualitas dan tidak abal-abal. Seorang penulis tidak cukup mempunyai semangat dalam menulis saja. Ia harus membekali diri dengan bekal yang dapat memudahkan ia ketika menorehkan tulisannya, ibarat seorang yang ingin berperang, maka ia harus meniyiapkan amunisi, peluru, fisik yang sehat dan persenjataan yang dibutuhkan.

Menulis tanpa membaca adalah hal yang fatal, karena ketika menulis ia membutuhkan inspirasi dan gaya bahasa yang menjadikan tulisan nikmat dibaca. Andaikan ia bergegas menulis sedangkan sebelumnya ia tidak pernah membaca, ditambah tipenya sebagai orang yang malas untuk membuka, menelusuri, menjelajah, dan tenggelam dalam samudera kata-kata dan kalimat yang termaktub dalam buku bacaan, entah apapun bukunya, sastra maupun sejarah, fiksi, nonfiksi dll, walhasil rasa bingunglah yang akan ia dapatkan, bahkan biasanya diakhiri lewat rasa frustasi dan tidak terselesaikannya tulisan, atau selesai tapi kurang berkualitas dan tidak sedap dibaca.

Mulailah terlebih dahulu dengan membaca karya-karya orang lain, pelajari cara penyampaian dan tata bahasanya. Biasakan aktifitas seperti ini, maka insyaAllah akan terbiasa dan menulis pun menjadi mudah, mengalir seperti aliran air dari atas pegunungan, tanpa ada hambatan.


Proses adalah suatu kelaziman dalam menapaki jalan kesuksesan, bersabar adalah kuncinya.


Setelah melengkapi perbekalan, barulah ia bisa mencari tambahan untuk menambah referensi tulisannya, misalkan berkeliling melihat sekitaran alam dan lingkungan, pergi ke warung kopi dan masih banyak lagi, gunanya untuk menambah inspirasi ketika menulis, sehingga tulisan dapat disajikan olehnya, sekaligus dinikmati oleh para pembaca.

Advertisement

Selamat menulis, semoga bermanfaat.