Senjaku kini tak lagi indah.
Dan aku seolah-olah membenci senja; air mataku tak dapat ku bendung.
Bagaimana tidak?
Kau yang selalu menyenandungkan lagu-lagu tentang cinta kala senja datang, ditemani segelas kopi hitam dan rokok, kini tiada lagi.

Aku sungguh tak percaya bahwa secepat ini aku akan kehilangan dirimu.
Semua ocehanmu ketika aku terkadang tak mau menuruti permintaanmu untuk menyelesaikan tugas kuliahku raib bersama perginya dirimu. Dan aku kini merasa sangat kesepian. Aku benci senja.

Advertisement

"Kalau malas kerja tugas, mendingan pulang saja ke kampung."
Ahh, aku semakin kalut bila harus mengingat omelanmu.
Sungguhkah dirimu kini telah tiada? Aku masih merasakan hadirmu disini. Sungguh.

Kabar dari ibuku yang mengabariku bahwa engkau telah pergi untuk selamanya lantaran kecelakaan yang menimpamu kemarin sungguh membuatku terluka. Aku tak sanggup untuk menerima kepedihan ini.

"Diego, mengapa sikap kepala batumu tak jua berubah? Kau selalu mengingatkanku untuk tidak lupa menyelesaikan tugas kuliahku sedangkan engkau tak pernah mendengar sedikitpun nasihat ayah dan ibumu untuk tidak kebut-kebutan mengendarai sepeda motormu. Engkau egois, Diego. Engkau egois."

Advertisement

Aku memarahi lelaki yang ku pandangi di foto yang ku taruh di meja belajarku.
Air mataku menetes tak henti. Aku hanya mampu memandang, sesekali memeluk foto lelaki itu, lalu kembali melihat dan mengusap wajah lelaki itu.

Jayapura-Surabaya, jarak yang memisahkan keberadaan kami lantaran dia pulang ke kampungnya untuk berlibur membuatku menyesali perpisahan ini.

Aku tak mengira bahwa Diego, kekasihku itu bukan hanya pulang kampung tetapi juga akan pergi selama-lamanya menyisakan rindu yang teramat sangat pilu. Dan hari ini, aku hanya mampu menangisi kepergiannya sambil memandangi fotonya. Aku tak bisa berbuat lebih. Aku kini sedang menjalankan masa praktik.

"Tuhan, kenapa indah yang bermalam-malam lalu kau berikan padaku kini kau ambil? Haruskah kami terpisahkan dengan cara seperti ini? Aku sungguh-sungguh tak menerima ini, Tuhan. Aku tak menerimanya dan sampai kapanpun aku tak akan ikhlas atas kepergiannya. Aku mau dia. Aku mau dia selalu ada untukku, mengingatkanku untuk mengerjakan tugasku, menyanyikanku lagu-lagu tentang cinta, menemaniku hingga kami tua nanti."

Aku semakin meratapi kenyataan pahit yang kualami saat ini.
Semua terjadi begitu cepat padahal belum satu pun mimpi kami terwujud. Hatiku kini hancur.
Tambah lagi bila aku harus memandang tubuhnya yang terbujur kaku dengan kedua mata tertutup. Lebam luka di wajahnya sungguh membuatku semakin hancur dan meratapi kenyataan ini.

"Diego, sungguh engkau kah ini? Yang kemarin masih mengomeliku kini terbaring dengan wajah penuh lebam? Sungguh engkau kah ini? Mengapa engkau melakukan ini padaku? Mudah sekali engkau pergi meninggalkanku sedangkan rasa cinta dan sayangku padamu semakin bertambah seiring berjalannya waktu dan menginginkanmu untuk selalu menemaniku? Engkau egois Diego. Engkau jahat."

Aku lalu merangkul penuh cinta foto Diego yang ada di handphone ku yang dikirimi oleh ibuku kemarin. Ingin aku memeluknya untuk terakhir kalinya namun hanya ini yang bisa kulakukan. Jarak telah memisahkan kami untuk selamanya. Semua kenangan indah bersamanya hanya akan menjadi kenangan pahit. Aku kini akan sendirian. Kesepian. Hilang semua canda dan tawa. Hilang semua omelan. Hilang semua senandung lagu-lagu cinta.

"Diego. Aku mencintaimu. Selamat jalan kekasih hatiku. Terima kasih untuk semua cintamu padaku. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu dan memperkenankan engkau untuk boleh berbahagia bersama para kudus di surga. Selamat jalan Diegoku. Selamat jalan. Jagalah aku. Doakan aku dari surga. Aku mencintaimu. Selamanya."

Aku lalu membisu, memandang dan mengusap wajahnya di foto diatas meja belajarku.
Hari-hariku tak akan lagi indah.
Selamat jalan kekasihku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya