Memasuki usia lebih dari dua puluh tahun, kita akan dihadapkan dengan banyak persoalan hidup. Dari mulai hal sepele sampai yang benar-benar serius. Dulu waktu masih kanak-kanak kita pasti pernah berpikir bahwa menjadi dewasa itu menyenangkan bukan? Dan ya, ternyata sesungguhnya menjadi dewasa tidak semudah bayangan kita dulu, kita akan dihadapkan dengan banyak hal yang harus disikapi dengan bijak.

Ya, ada banyak persoalan dan yang paling sering kita dengar ialah soal pendamping. Di berbagai kesempatan pasti kita akan dihadapkan dengan pertanyaan yang cukup membuat kita bingung menjawabnya terutama soal "menikah". Hal ini pasti akan membuat kita risih terutama bagi kita yang berusia menjelang dua puluh lima tahun.

Advertisement

"Om/tante suka berkata "eh udah gede aja sekarang dulu padahal masih kecil banget, pacarnya mana? Kapan nikah?". Ya dong om , tante kan tumbuh , doain aja ya om dan tante semoga cepet ada yang dateng ke rumah bawa rombongan (ngelamar maksudnya).

Pasti banyak yang mengalami hal ini, mendapati pertanyaan semacam ini, rasanya mau jawab bingung, ga jawab ga enak. But it's ok… Mereka juga dulu mengalami hal yang sama kok, hehe, ya mau gimana lagi mungkin memang fasenya harus seperti itu.

Dan lagi kecemasan dan kekhawatiran orangtua kita, terutama yang memiliki anak gadis berusia menjelang 25 tahun. Mereka pasti akan mempunyai ketakutan akan masa depan putrinya nanti, tentang siapa yang akan mendampingi putrinya nanti. Tentang kehidupan rumah tangga putrinya nanti, semua itu membuat para orangtua resah dan menjadi tak sabaran. Tak jarang hal ini kadang bisa membuat para orang tua dan putrinya berdebat.

Advertisement

"Orangtua : Umur kamu udah bukan abg lagi, cari pendamping kek, cepetan nikah cari suami"

"Anak : Aku kan masih mudah mah, pah. Lagipula karir aku belum bagus, calonnya juga belum ada, santai aja. Belum sampe umur 25 tahun ini kan? Hehe"

Ketika orangtua mulai serius meminta anaknya segera menikah, si anak justru malah dengan santainya menjawab karena alasan memiliki target. Bukan apa-apa tapi mereka biasanya tidak ingin terburu-buru untuk hal seserius ini. Sebagai seorang anak perempuan yang berusia menjelang 25 tahun di sini, rasanya bukan hal mudah untuk menikah terburu-buru seperti itu. Bukan kami tidak memahami kecemasan ayah, ibu dan keluarga lainnya. Kami pun merasakan kecemasan yang sama.

Di saat teman sebaya kami sudah menikah bahkan ada yang memiliki anak, kadang kami pun merasa ingin segera menikah tapi sungguh tidak semudah itu. Bukan juga kami terlalu selektif, tapi kami hanya ingin mendapatkan pasangan yang terbaik, tidak ingin terjebak dalam hubungan yang salah karena ini menentukan kehidupan kami di masa depan.

Kami berusaha memperbaiki diri sebaik mungkin agar dipertemukan dengan lelaki yang baik pula yang akan mempersunting kami nantinya. "Menjelang usia 25 tahun sudah bukan waktunya bermain-main lagi terutama soal perasaan, bukan masanya lagi mengalami fase jatuh cinta, pacaran dan patah hati."

Ya , kami harus sebenar-benarnya menata kehidupan kami, mempunyai rencana untuk sebuah pernikahan impian, untuk sebuah rumah tangga yang sakinah. Terkadang diri sendiri pun bertanya tanya "kapan aku akan menikah?" Tapi sungguh semua ini sudah ada yang mengatur , Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk kita, calon imam bagi para wanita dan calon makmum bagi para lelaki.

Kita cukup memperbaiki diri sebaik baiknya agar kelak kita dipersandingkan dengan orang yang tepat di waktu yang tepat. Jadi ayah, ibu, kakek, nenek, om, tante, hilangkan kecemasan kalian. Kami tahu kalian sangat menyayangi dan menginginkan kami bahagia . Tapi, percayalah sebentar lagi kami akan segera menikah. Kami akan segera bersanding di pelaminan, kami akan melangkah menuju kehidupan baru yang bahagia. Doakan saja yang terbaik untuk kami ya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya