Ucapan terima kasih kadang lalai dari kita yang telah mendapatkan bantuan. Hal yang demikian semoga tak lagi kita lakukan, karena menjadi lebih baik adalah saat ucapan itu sampai pada mereka yang berhak.

Malam ini, Kamis (6/5/2017) aku mendapatkan kembali pelajaran tersebut dari seseorang yang tak ku kenal. Seorang pria, ku temui di salah satu stasiun di kawasan Jakarta yang ku bilang sopan dalam bersikap. Bukan bermaksud memberikan penilaian cepat tapi nyatanya, perilakunya kepadaku bisa mengantarku pada gambaran kecil ini.

Advertisement

Saat menunggu di stasiun transit, kereta kami akan segera tiba. Tak ingin keliru, pria berkaca mata tersebut memastikan dengan menanyakannya padaku.

"Ini ke (stasiun) tanahabang?" Begitu ia bertanya.

"Iya" jelasku singkat yang saat itu mengenakan masker warna pink bergambar hello kitty.

Advertisement

Setelah puas dengan jawaban singkatku yang menghapus keraguannya, ia mengucapkan terima kasih. Pun dengan terburu-buru.

"Terima kasih" lontarnya padaku.

"Sama-sama" balasku seperlunya.

Diam-diam aku memperhatikan bentuk fisiknya. Bukan untuk urusan hati namun ingin memastikan wajahnya karena aku tak ingin dia adalah orang yang ku kenal padahal aku tak memberikan sapaan. Aku memperhatikannya beberapa kali. Tinggiku yang saat ini lebih dari 150 cm hanya sejajar dengan bahunya, tidak lebih. Dia seorang pria yang tinggi dan ku pikir tingginya mencapai angka 180 cm.

Ia tampak sibuk saat bertanya tentang kepastian tujuan kereta tersebut. Pria ini sedang berbicara dengan seseorang yang ia kenal dari sambungan telefon. Tak tahu apa yang dibicarakan tapi bisa ku prediksi bahwa obrolannya sangat serius perihal aktifitasnya dalam keseharian.

Saat kereta tiba, kami masuk dalam gerbong yang sama berikut dengan pintu yang kami gunakan. Ia tampak sabar saat memasuki kereta karena mungkin sadar bahwa banyak orang yang ingin segera masuk dan mungkin mendapatkan tempat duduk.

Kami sama-sama tak duduk karena posisi bangku di kereta sudah penuh. Ini tak menjadi masalah karena jarak yang kami tuju cukup dekat dan berdiri adalah hal biasa saat seseorang naik angkutan umum semacam ini.

Saat informasi menunjukkan stasiun akhir tujuan kami, kami sama-sama bergegas untuk keluar dan menaiki tangga. Kami harus berada di peron lain dan tak ada jalan lain selain naik tangga atau eskalator yang tersedia. Begitu sampai di atas, kami berpisah karena memang tak memiliki tujuan yang sama. Tapi yang jelas dari pertemuan singkat ini, judul di atas adalah bagian dari hikmah yang berhasil aku simpulkan.

Tak sampai disini, ada cerita lain saat perjalananku dari stasiun tanahabang dimulai. Berbeda topik pembicaraannya, tapi semoga bisa ku lanjutkan meski dengan waktu yang berbeda. Ini tentang nyawa yang seakan berada di ujung waktu. Tak akan ku bocorkan banyak karena tak ada jaminan aku bisa menyelesaikannya dengan sempurna.

Miftah Al Istiqomah

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya