Dari segi pemahaman saya. Bahagia kita bukan ditentukan oleh orang lain atau berasal dari orang lain. Ya. Semua tahu itu. Tetapi semua orang merasa bahwa bahagia selalu berasal dari orang lain. Padahal bahagia tersebut muncul dan menjadi saling bertautan karena dimulai dari rasa bahagia yang tumbuh dari dalam diri kita terlebih dahulu. Kita tersenyum, orang lain pun tersenyum.

Saat bersedih misalnya. Terkadang kita hanya bisa berharap untuk tidak mendapatkan rasa sedih yang lain lagi. Kita menjadi seorang pengemis perhatian. Kita mengutarakan kesedihan tersebut dengan harapan ada seseorang yang rela meminjamkan bahunya untuk bersandar atau pelukannya untuk tetap tegar. Pernahkah kau berusaha memeluk dirimu sendiri? Kadang pelukan terbaik berasal dari dalam diri sendiri. Teman terbaik pun dari dalam diri itu sendiri.

Advertisement

Saya jauh dari kata sempurna. Engkaupun pasti merasakan hal serupa. Namun bukankah kehidupan akan terus dijalani. Dan membuat kita harus semakin terus berbenah diri? Mengapa manusia hidup dengan cara-cara yang memperumit semuanya? Hingga Tuhan semesta raya pun mereka pertanyakan keberadaan-Nya? Jodoh? Siapa yang tidak menggelisahkannya?

Bukankah kita hidup dengan separuh jiwa yang hilang? Serta jantung yang pincang. Menurutmu perempuan itu takut pada usia? Tidak semua. Usia akan terus bertambah. Dan saya tahu itu. Orang sekitarpun selalu mengingatkan. Tetapi, kenapa saya harus merasa cemas karenanya. Bukankah memang jatah hidup kita terus berkurang bukannya bertambah? Yang paling saya cemaskan adalah usia berkurang namun amalan tidak pernah bertambah. Apa yang bisa saya bawa saat pulang nanti?

Jodoh, rezeki, maut. Tiga hal yang Tuhan hembuskan ketika kita masih dalam penyatuan antara sebuih sperma dan telur. Jodoh. Telah Ia tuliskan dalam buku kehidupan. Namamu dan namaku sudah lebih dulu terikat dalam hubungan di hadapan Tuhan. Dunia hanya perjalanan bagi pertemuan-pertemuan yang telah Tuhan gariskan. Ada suatu masa saya lemah karenanya. Ada suatu masa, hati merindukan hadirnya. Namun saya bisa apa? Selain ikhtiar dan doa untuk bisa selalu didekatkan padanya.

Advertisement

Kita sama-sama mengetahui. Karena lelaki, maka perempuan itu ada. Rusuk yang hilang selalu ingin kembali pada pemiliknya. Saya memperhatikan banyak hal perihal kejadian apapun yang Tuhan ingin sampaikan. Terutama pada perempuan. Saya tahu dan kau pun pasti mengira bahwa perempuan adalah makhluk paling lemah. Kau salah. Perempuan mungkin tidak mampu menjadi sekuatmu, karena memang mereka bukan diciptakan untuk menjadi sainganmu. Tetapi perihal kehidupan, perempuan memikirkan segalanya. Ia adalah simbol bagi keseimbangan dan kelangsungan bagi semesta.

Ia mungkin mampu menyembunyikan kesedihan. Ia mungkin mampu menahan kerinduan. Ia mungkin mampu berjuang walau sendirian. Tetapi, ia tetap butuh seorang pemimpin sebagai pegangan. Seorang teman dalam perjalanan. Seorang yang tidak akan pernah meninggalkannya sendirian. Saya memang masih sendirian. Engkau pun mungkin juga sama atau sedang bersama entah siapa. Saya tidak ingin menerka-nerka dan tidak ingin tergesa-gesa saat mempertanyakan perihalmu pada Tuhan.

Kita pasti akan mengalami pertemuan demi pertemuan juga. Sampai pada satu titik yang membuat kita sama-sama yakin bahwa kita memang ditakdirkan untuk terus bersama. Saya tahu, semua peristiwa dan jalan akhir sebuah kisah. Tuhan telah menentukan akhir yang sesuai prasangkaannya. Kita hanya harus berprasangka baik pada-Nya. Sekarang. Atau pun nanti Saya akan menikmati setiap detik yang tuhan beri. Menciptakan bahagia sendiri. Menekuni segala hobi. Membahagiakan orang-orang terkasih. Serta menjelajahi semua negeri.


Sendiri atau membersamaimu. Bukankah hidup akan selalu sama? Jadi mengapa harus risau perihal yang sudah jelas jalannya? Jadi, kita pasti akan bersua jua. Bila kita telah percaya bahwa bahagia akan semakin merekah jika kita bersama.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya