Menyandang status sebagai mahasiswa akhir bukan hal yang mudah untuk dilalui. Meski perjuangan meraih gelar Sarjana tinggal beberapa langkah lagi. Namun, di sini kadang membuat rapuh sebuah pertahanan. Tinggal seberapa tangguh menghadapi cobaan dan mengalahkan rasa malas dalam diri.

Skripsi, bagian dari tangga menuju kesuksesanmu.

Mau dihindari atau tidak, skripsi itu akan tetap ada dan hanya soal waktu yang akan membawamu sampai di hadapan Skripsi itu. Seharusnya tidak membuatmu lemah, saat mulai memasuki semester-semester Skripsi, melainkan membuatmu semangat karena saat kamu berhasil melaluinya, kamu sudah selangkah lebih tinggi menuju kesuksesanmu. Ingat kan saat awal masuk kuliah, apalagi bisa diterima di universitas impian dengan jurusan yang diidam-idamkan. Ingin bisa menyelesaikan kuliah jenjang Strata 1 dengan tepat waktu, bukan? Tujuan kuliah itu untuk menjadi lebih berkualitas, bukan? Masuk dengan membawa segenggam harapan, dan keluar (lulus) dengan membawa impian?

Advertisement

Nah, ingat selalu impian itu. Karena saat Skripsi selesai, urusan akademik pun selangkah lagi menuju kata selesai.

Karena skripsi adalah bagian dari tangga-tangga yang sedang kamu lalui menuju kesuksesanmu sendiri. Jadi, hadapi lah. Jangan terlalu lama terlena dengan kata malas. So, enggak mau kan jadi mahasiswa legendaris dengan hati miris?

Skripsi merupakan hasil karya sendiri, bukan berarti harus mengerjakannya sendiri.

Setiap mahasiswa pasti memiliki ide yang berbeda. Skripsi dengan topik yang berbeda. Topik atau ide untuk skripsi memang satu dengan yang lain berbeda, namun, jika mengerjakan bersama dengan teman bukankah itu lebih menambah semangat dalam menyelesaikannya?

Advertisement

Sebagus-bagusnya kamu mempunyai ide, bukan berarti kamu tidak punya hambatan dalam menyelesaikannya. Jadi, janganlah gengsi untuk meminta bantuan teman. Selagi masih ada teman seperjuangan yang sama-sama sedang menyelesaikan Skripsi, jangan kamu sia-siakan, agar bisa saling bertukar pikiran bersama. Meski skripsi itu tetap urusan kita sendiri, tetap harus diselesaikan sendiri, namun dengan adanya teman yang saling mendukung dan menyemangati, bukankah beban dan hambatan itu akan sedikit teratasi? Ingat kamu tidak sendirian, dan di antara manusia tidak ada yang tidak saling membutuhkan.

Setidaknya kamu tidak berjuang sendirian. Masih ada teman yang menemanimu berjuang.

Tak Sepenuhnya skripsi ialah soal ide dan konsep, melainkan ialah ujian mental.

Dalam menyelesaikan Skripsi ujian mental itu pasti ada. Entah itu harus merasakan penolakan judul, harus menunggu dosen dan menghadapinya, harus mencari responden yang hidup nomaden, ditolak responden, tempat penelitian yang susah diakses, harus revisi berkali-kali, dan masih banyak lagi, sampai akhirnya sedikit demi sedikit mulai melemahkan semangat. Ingat tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, kecuali kamu menyerah dan tidak mau menyelesaikannya. Skripsi membuatmu harus menyelesaikan ujian mental itu. Ujian mental ini akan membuatmu satu tingkat lebih tinggi dari tingkat kedewasaanmu sebelumnya. Yang kamu tak sadari ialah kamu sedang diuji, dan kamu hanya perlu usaha, doa, dan sabar dalam menghadapinya. Sepenuhnya skripsi adalah untuk melatih mental (bagiku).

Jangan melemah, karena kamu tidak pernah tahu bila saat kamu melemah, kamu sedang berada di satu tingkat lebih dekat dengan kesuskesanmu. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk melemah lalu berhenti berusaha.

Beda pendapat dengan pembimbing tak seharusnya membuatmu lemah.

Konsep awal disusunnya skripsi adalah dari hasil ide kreatifitas sendiri. Tentu kamu ingin membuat suatu hasil karya yang baik dan tanpa mengurangi kualitas, bukan? Tak usah dipusingkan, ide yang biasa-biasa saja jika kamu yakin dan mampu mengemasnya dengan baik dan rapi, ide itu akan menjadi suatu hasil karya yang baik dan berkualitas. Namun, muncul lagi masalah jika ide yang sudah kamu rancang sedemikian rupa rapinya, malah ditolak pembimbing atau pembimbing tidak sependapat dengan topik yang kamu ajukan lalu harus diganti. Apa yang harus dilakukan? Diskusikan kembali apa yang telah kamu rancang. Mungkin saja pembimbing belum mencapai titik mengerti dengan apa yang telah kamu susun, atau mungkin cara kamu menyampaikan ide itu kurang to the point atau kurang tepat. Jangan takut, dan jangan melemah, diskusikan kembali secara baik-baik dengan runtut apa yang kamu maksudkan dalam skripsi yang akan kamu susun. Pembimbing pasti akan menyampaikan saran dan masukannya yang terbaik untuk kamu. Beda pendapat itu pasti, karena skripsi adalah ide kamu sendiri. Yang kamu perlukan adalah meyakinkan pembimbing, ikuti sarannya dengan mencari referensi pendukung, dan apapun masalah/hambatannya, serta sedikitpun perubahan dalam skripsi itu harus tetap dikonsultasikan. Tidak ada hasil karya yang tidak bermanfaat. Mungkin bukan sekarang manfaat itu bisa dirasakan, tetapi dengan hasil karyamu ini dapat menyumbangkan satu temuan terbaru untuk perkembangan ilmu pengetahuan dikemudian hari.

Bukan soal waktu, tetapi seberapa besar mengupayakan agar semangat itu tetap ada.

Setiap mahasiswa menyelesaikan skripsi dengan waktu yang relatif berbeda. Ada yang bisa cepat dan ada yang perlu proses panjang (tergantung topik, atau malah tergantung keberuntungan). Namun, kamu harus tetap punya semboyan ‘tidak ada hari tanpa skripsi’. Jangan pernah lewatkan seharipun tanpa skripsi. Meski kamu ingin liburan untuk merefreshkan otak, lakukan saja, namun setelah itu kembalilah pada skripsimu. Jangan terlalu lama terlena dengan kesenangan. Sehari saja kamu meninggalkan skripsi, maka kamu butuh berhari-hari untuk menjadi semangat lagi dengan skripsi. Skripsi, jika terlalu lama akan membuat semangat berkurang. Yang kamu perlukan adalah menjaga semangat itu tetap ada. Kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kemungkinan terbaik dan terburuk itu akan selalu ada. Dan saat kemungkinan itu datang, kamu masih dan akan selalu mempunyai semangat untuk menghadapinya.

Nah, hanya perlu dihadapi bukan untuk dihindari. Karena sampai kapanpun kamu akan menjumpainya jika kamu tidak menyelesaikan skripsi. Kecuali jika kamu ingin menjadi mahasiswa yang legendaris. Tentu tidak mau, bukan? Maka berjuanglah..

Yang tersusah adalah membangun kembali semangat yang pelan-pelan terkikis oleh waktu. Kita tidak pernah tahu kapan semangat kita benar-benar menyala dan seberapa lama semangat itu menyala. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga dan mengupayakan agar semangat itu tetap ada dan menyala.

Hanya sekedar berbagi. Keputusan tetap ada pada pribadi masing-masing. Semoga bisa menyemangati.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya