Bertemu lalu berkomunikasi jauh berbeda dengan berkomunikasi lalu bertemu. Sebenarnya begini, dua kategori ini tidak akan jauh berbeda jika orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak memasang harapan tinggi terhadap satu sama lain. Banyak kejadian konyol seperti hilang kontak setelah ketemuan dikarenakan wajah si dia beda jauh dengan foto di akun sosial medianya.

Taiklah!

Mari bahas mulai dari sejarah.

Kamera pertama di dunia dikenal dengan sebutan kamera Obscura, ditemukan oleh ilmuwan muslim bernama Ibnu al-Haitham pada abad ke-10 M. Lalu, dari Obscura ini perkembangan kamera mulai terlihat dan makin canggih. Kamera Obscura kemudian dijadikan sample bagi Joseph Kepler (1571-1630 M) untuk pengembangan kamera dengan menambahkan fungsi perbesaran proyeksi gambar.

Pada tahun 1989 kamera digital pertama mulai dipasarkan di bawah perusahaan Fuji di Jepang. Pengambilan foto menggunakan kamera digital akan lebih jernih dibandingkan menggunakan kamera telepon genggam dikarenakan perbedaan megapixel. Oleh karena itu, anak muda zaman sekarang terlihat lebih kece jika berjalan sambil menenteng kamera digital sebesar binder di depan dada atau perut mereka.

Penemuan kamera didasari oleh indera penglihatan manusia, mata. Lensa mata jauh lebih hebat dibanding lensa kamera paling mahal di dunia. Lensa mata kita bisa dengan cepat melakukan penyesuaian untuk melihat benda dengan jarak 20 cm lalu berpindah ke benda dengan jarak tak terhingga dalam satu detik. Setiap mata memiliki sistem pengendali tekanan yang berfungsi untuk mempertahankan bentuk bola mata, sehingga bila “penyok” mata bisa dengan cepat kembali ke bentuk semula. Bandingkan dengan kamera digital zaman sekarang.

Advertisement

Maraknya merk kamera digital juga mendorong beberapa perusahaan untuk meluncurkan aplikasi edit foto di telepon genggam berbasis android dan iOS, seperti C360, beauty plus, dan B612. Aplikasi edit foto ini menyediakan beragam filter yang bisa digunakan pengguna untuk mempertajam atau mengurangi ketajaman gambar. Bahkan, di aplikasi C360 wajah seseorang bisa terlihat lebih cantik atau tampan dibanding aslinya.

Hampir semua media sosial mengharuskan pengguna akun untuk mengunggah foto sebagai bukti identitas diri. Dan tidak sedikit juga pengguna akun tersebut menggunakan jasa edit foto untuk membuat dirinya tampil lebih menarik pada foto akun mereka. Sebenarnya sah-sah saja jika seseorang ingin terlihat lebih cantik di dunia maya ketimbang di dunia nyata. Tapi yang menjadi tidak sah adalah mereka yang menilai orang hanya dari tampilan luar, terlebih lagi dari informasi akun dunia maya.

Jika semua orang hanya mau menerima lewat apa yang ada di dunia maya, bukankah kehadiran mereka di dunia nyata hanya akan menyesakkan tempat?

Pencarian teman lewat sosial media bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya Jones Attack. Tapi faktor ini tidak akan dibahas lebih jauh. Biasanya pencari akan menyaring teman lewat wajah yang ditampilkan secara acak di hasil pencarian. Bila tampan atau cantik maka perkenalan berlanjut, bila tidak sesuai selera mesin pencarian akan kembali bekerja. Masalahnya, semua orang berharap menemukan sosok yang "sempurna" di dunia maya untuk dijadikan pendamping di dunia nyata. Dan dari sinilah bermula niat untuk tampil sempurna dengan jasa edit foto.

Perkenalan sederhana bisa membawa ke dampak lebih besar, bisa jadi berlanjut ke arah yang serius atau malah berhenti di tengah jalan hanya karena ada beberapa faktor yang tidak sesuai antara informasi maya dan kehidupan nyata. Sebut saja, tampang. Jangan salahkan orang yang memiliki hak untuk menggunakan edit foto karena beberapa alasan. Bisa jadi mereka menggunakan edit foto karena dalam misi penyamaran FBI atau CIA.

Don’t judge someone without knowing their reasons.

Slogan di atas sulit sekali diterapkan dalam kehidupan bersosial media. Apalagi bila kehidupan jenis ini berlanjut ke roda kehidupan yang sebenarnya. Toleransi hanya akan muncul bila satu pihak memohon hingga terluka. Mau bagaimana lagi, setiap orang punya level rasa iba. Ada yang tinggi, ada pula yang super tinggi. Sulit menemukan orang dengan level iba di bawah rata-rata saat peradaban mulai bergeser ke arah bodo amat.

Teori mengatakan bahwa rasa kecewa tidak akan muncul jika ekspektasi tidak melewati ambang normal. Tapi kebanyakan orang salah kaprah dan sulit mengenali ambang normal masing-masing. Ada yang mengira ambang normal ekspektasi mereka adalah ketika berusaha 25% dan berharap 75%, jarang yang melakukan sebaliknya. Dan ketika merasakan kecewa, sebagian orang akan menyalahkan takdir, bukan kebodohan mereka.

Pertemanan yang diawali lewat sosial media bukanlah hal menjijikkan. Memperbesar jaringan kontak adalah hal menguntungkan jika kontak yang ditemukan bisa membawa dampak positif bagi pendidikan dan karier. Hanya saja, zaman sekarang orang cenderung menggunakan sosial media untuk mencari pasangan, meski tidak serius, demi mengurangi rasa kesepian. Tidak ada yang salah dengan kesepian.

Banyak kejadian konyol yang terjadi lewat pertemanan dunia maya, seperti hilang kontak setelah bertemu hanya karena wajah si dia tidak semenarik yang ada di foto akunnya. Beach please, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, bukan laki-laki yang tampan untuk wanita yang cantik. Jika sudut pandang kamera bisa membuat mereka secantik di foto, mengapa sudut pandang mata tidak bisa membuat mereka lebih cantik di kehidupan nyata? Komponen mata satu juta lebih baik dibanding komponen kamera, tapi mengapa hanya kamera yang bisa melakukan toleransi tampang? Tidak ada kamera yang langsung error ketika diberikan gambar jelek untuk diedit. Tapi ada banyak bahkan, mata yang langsung pura-pura buta ketika melihat tampang jelek.

Jangan mau terlihat rendah dari teknologi buatan manusia. Era sekarang tampang bukan lagi prioritas utama untuk mencari kekasih atau pasangan hidup. Pilihlah dengan bijak, jangan mengandalkan selerah tinggi yang terlihat murahan. Semua orang punya hak untuk menentukan, memilih, dan memilah. Jangan hanya memilih saja menjalani hidup tidak sesederhana memilih tampang orang secara acak di mesin pencarian sosial media.