Haruskah ku pendam rasa ini saja
Ataukah ku teruskan saja
Hingga kau meninggalkannya dan kita bersama

Dari awal rasanya aku sudah mengetahui bagaimana akhir perasaanku untukmu, sesosok lelaki yang kutahu telah menggenggam tangan perempuan lain. Berkali-kali aku mengutuki perasaanku sendiri, bagaimana bisa ia hanyut kepadamu?

Advertisement

kupikir kita hanya sebatas teman yang klik ketika hangout bersama, beberapa kecocokan diantara kita ternyata membuatku semakin nyaman terhadapmu. Pribadimu yang hangat, tingkahmu yang konyol, dan sifatmu yang terkadang cuek tetapi tersembunyi perhatian disana membuatku semakin iri, betapa beruntungnya perempuan yang telah memilikimu.

Terkadang aku merasa bersalah kepada perempuan yang sedang menanti kabarmu ketika kita tengah menghabiskan waktu bersama. Kulihat ponselmu kau letakkan begitu saja saat kita sedang menikmati makanan yang telah kita pesan sebelumnya. Atau saat menyusuri padatnya jalan raya, kuyakin ponselmu sudah penuh dengan notif darinya yang menanyakan sedang apa dan dimana kau sekarang. Lagi, kau membiarkannya begitu saja.

Witing trisno jalaran soko kulino, tampaknya pepatah jawa tersebut berlaku untuk kita. Perasaanku kepadamu berbalas. Namun itu justru membuatmu berada di persimpangan jalan. kau harus memilih jalan mana yang akan kau tempuh, dengan dua tangan yang siap kau gandeng untuk menyusuri jalan itu.

Advertisement

Siapa sangka menjadi seseorang yang berada diantara kalian tak merasakan sakit. Perasaan cemburu seringkali menghampiri ketika kau pergi menemuinya, ketika kau mulai menepi dan mengangkat telfon darinya saat kita tengah menyusuri padatnya jalan raya, atau ketika sekedar melihat postingan foto kalian berdua di sosial media milikmu. Sangat menyesakkan bukan? Siapa aku? Layaknya flatshoes yang tak memiliki hak. Aku tak berhak melarangmu untuk menemuinya, mengankat telfon darinya atau memposting kebersamaan kalian di sosial media.

Iya, perasaan ini tak seharusnya kujaga terus menerus. Aku tak suka melihatmu kebingungan setiap kali kutanya tangan siapa yang akan kau lepas dan akan kau gandeng dengan erat nantinya. Kelak, aku juga tak ingin berada diposisi perempuan yang telah lama mendampingimu. Kuyakin hukum karma masih berlaku. Biarlah aku yang melepas tanganmu agar kau tak lagi bimbang, agar kau tak menyesali keputusan yang kau buat sendiri. Terima kasih, untuk pelukan hangat yang untuk sesaat membuatku merasa bahwa kau adalah milikku.

Biar kutemukan sendiri tangan kosong yang akan menggandengku kelak

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya