Sebenaranya tulisan ini lebih pantas dibaca oleh kalian yang bertitel jomblo, suatu gelar yang berat untuk dipertahankan. Semakin kedepan maka semakin banyak sarjana jomblo yang meninggalkan kesendirian dengan mengikat hubungan perpacaran dengan seorang yang dicintainya. Ia sudah tidak betah memelihara perasaan acakadut yang menghiasi detik demi detik hari yang dilalui. Tetapi hebatnya kamu masih bisa bertahan hingga sekarang, segala impian dan pendirian teguh karena agama menjadi benteng kuatmu untuk tidak mencoba-coba dunia begituan. Kamu tidak ingin menggunakan cara untuk menjemput jodoh dengan berpacaran.

Kamu hanya bisa jalan, nonton dan makan bareng dengan teman-temanmu, sepertinya tidak ada beban yang dirasakan selama kita memiliki teman dekat yang bisa menemani kesendirian. Teman dekat dalam artian sesama jenis atau lawan jenis yang tidak memiliki suatu perasaan. Temanmu itu sangat setia menemanimu kemanapun kamu mau, sesibuk apapun ia, ketika kamu sudah merayunya untuk minta pergi jalan, maka ia akan menyetujuinya.

Lambat laun, skenario berubah seketika. Ia mengenal seseorang yang lebih membuatnya nyaman, lebih memberinya rasa dag-dig-dug nggak karuan. Acara jalan-jalanmu dengan temanmu itu sudah sangat jarang terjadi. Karena ia lebih memprioritaskan seseorang yang baru saja sah jadi pacarnya. Kini hari-harimu mulai terasa mengenaskan, makan-makan sendiri, jalan-jalan sendiri, nonton-nonton sendiri dan kesendirian-kesendirian lainnya.

Rasanya pasti sakit! intesitas percakapan antara dirimu dan temanmu semakin berkurang. Ia lebih tertarik untuk menerima telfon dari pacarnya, saling merayu, menggombal dan percakapan-percakapan yang nggak penting sebenernya. Ketika itu kamu mulai siklus kegalauan akut, apakah aku harus merasakan bahagia dengan pacaran juga?

Sekali, dua kali hingga berkali-kali selanjutnya kamu sudah biasa melihat pemandangan temanmu itu berdua-duaan dengan pasangannya. Mungkin awalnya kamu merasa panas, seperti berada diantara gumpalan magma yang baru menyembur. Namun semakin kesini, hal seperti itu sudah menjadi kelumrahan yang bisa kamu terima.

Advertisement

"Mengikhlaskan kebahagiaan saat ini, demi suatu kebahagiaan masa depan yang lebih bertahan lama"

Sudahlah, jangan terus-terusan menggrutu ini itu,merasa tidak dianggap teman lagi, merasa kalah dengan pacarnya. Dia berhak memilih siapa yang membuatnya lebih nyaman. Percayalah masih banyak sesuatu yang bisa menciptakan senyumanmu setiap hari.

Pertama, orang tua, malaikat dunia yang selalu ada untukmu, kapanpun dan dimanapun. Mereka itu segalanya, harta karunmu di dunia yang harus dijaga sebaik mungkin. Bisa menjadi sahabat, guru, bahkan teman jalan sekalipun. Mungkin sifat setiap orang tua berbeda, tapi mereka sudah mencintaimu sebelum kamu hadir di dunia ini. Tuhh kan, masih ada yang mencintaimu didunia ini, jangan khawatir. Kedua, teman, sebuah anugerah tuhan untukmu menjalani kehidupan di dunia. Inget, cari temen yang memang sama-sama jomblo. Takutnya frustasi akut lagi, mewek lagi gara-gara ga diperhatiin sama teman sendiri. Mereka bisa menemanimu jalan-jalan, makan bareng, nonton, meskipun memang beda rasanya bila jalan dengan si x. Terakhir, buku bacaan, dialah teman paling setia bahkan dia bisa mengajarimu berimajinasi dengan liarnya. Ia ada kapanpun kamu butuhkan, saat kamu merasa kosong.

Bersabarlah, pasti ada waktu yang tepat untuk hidup bahagia dengan pasangan halalmu nantinya. Bahagianya mereka yang berdua-duaan belum tentu abadi, bisa jadi karena putus atau akan abadi bila memang menikah. Tawa canda mereka belum ada artinya apa-apa dibandingkan tawamu bersama pasanganmu ketika dipelaminan nanti. Karena kau tahu rasanya menjadi seseorang yang ditinggal oleh teman dekat demi kekasihnya, tolong jangan dibales ke temanmu lainnya ya. Sayangilah temanmu yang kesipian itu, bahagiakan mereka mumpung masih bisa bertemu. Sudah ya, jangan cemberut menanti malam-malam sepimu, tanpa ada seseorang yang mendatangi dan memanggil namamu didepan pintu. Pantaskan diri untuk seseorang didepan nanti. Hidup mbloo!