Tak mudah memang, mengupas hikmah yang bisa kita ambil dari pertemuan kemarin. Pertemuan yang sesungguhnya terselip diinginku sejak beberapa tahun silam. Ya, ternyata Allah baru menyetujui kita bertemu kemarin.

"Allah mempertemukan untuk satu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya. Akan tetapi tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut. Lakukan dengan tulus. Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan. Tidak ada yang sia-sia, karena Allah yang mempertemukan."

Advertisement

Ya, aku melakukan peranku itu sebaik mungkin. Baik di mata dia, dan belum tentu baik di mata Allah. Aku sungguh terlalu malu, Pada Allah, yang dalam setiap kesempatan yang Ia berikan selalu menyelipkan tanda tanda kekuasaanNya. Allah selalu memberikan aku jawaban atas apa yang terlintas, walau hanya sekelebat di anganku.

Termasuk tentang kamu. Yang sedikitnya ada dalam benakku dalam beberapa tahun yang lalu itu. Akhirnya, kemarin waktunya, Allah mengizinkan aku mengenalmu lebih dekat. Bahagia tak terkira, sosok yang aku ingini ada di kamu. Aku malu pada Allah. Setelah kesempatan itu ada, justru anganku semakin melesat melampaui batas kekuasaan-Nya.

Aku terlalu percaya pada angan dan pikiranku, lupa bahwa Allah Maha Perencana Terbaik. Lupa bahwa ada batas-batas yang seharusnya kita jaga, bahkan hati ini pun lupa menaruh harapan pada selain Allah. Lupa sampai mendesak doa yang melulu tentang kamu.

Advertisement

Aku sangat malu, pada Allah yang selalu menunjukan jalan terbaik-Nya. Aku sangat malu mengapa bisa sesakit ini setelah dipertemuan kemarin. Aku sangat malu mengapa ada perasaan menyesal setelah dipertemukan kemarin. Aku sangat malu, bukankah aku yang ingin tahu jawaban takdir diantara kita? Ketika Allah menginginkan aku mendampinginya hanya sampai saat itu saja, mengapa aku masih menangis merasa ada ketidakadilan? Tidak adil yg mana? Bukankah Allah telah memberi aku kesempatan? Mana syukur di hatimu?

"Segala luka dan kecewa tampaknyakan malu dan meniada, ketika kita insyafi bahwa, Allah Yang Maha Mengatur, tak pernah keliru tak pernah aniaya," Ust. Salim A. Fillah.

Aku sungguh malu yaa Rabb, Tolong jaga hati ini, bantu aku memaafkan diriku sendiri, sampai aku ikhlas lalu dapat tersenyum penuh syukur mengingat semua kasih sayang-Mu kepadaku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya