Bertemu kembali dengan rekan, sahabat dan keluarga yang sudah lama tidak kita jumpai tentu menjadi bagian yang tak terhingga. Dapat kembali berkumpul dan bercengkrama bersama mereka dengan dihiasi canda tawa akan membuat suasana menjadi semakin hangat.

Ya, perpisahan memang sebuah kepahitan yang mau tidak mau harus kita jalani. Namun kembali dapat dipertemukan dengan orang yang telah lama berada di samping kita tentunya akan kembali membawa kebahagiaan dalam hidup kita. Namun bagaimana jika orang yang terpisah dari kita tersebut adalah orang yang begitu penting dalam hidup kita? Yang mana seharusnya orang tersebut senantiasa berada di samping kita. Tanpa kehadiran sosok tersebut tentunya akan membuat kita merasa hampa. Apalagi jika kepergiannya bukan dalam waktu yang sebentar, namun dalam kurun waktu yang begitu lama. Hal ini tentu saja tidak akan membuat kita merasakan cinta dari orang tersebut. Karena ia jauh, dan tidak saban hari selalu ada di samping kita.

Advertisement

Seperti halnya sosok seorang ayah. Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan kita jika harus terpisah dari ayah kita dalam waktu yang begitu lama. Ayah yang semestinya berada di samping kita dan menjaga kita serta melindungi dengan kasih sayang dan tulus cintanya, terpaksa harus pergi karena ada kepentingan dan harus tinggal jauh dari kita. Namun setelah ia kembali lagi, tentu hati kita akan merasa senang dan bahagia. Hal inilah yang dirasakan oleh gadis yang kembali bertemu dengan sang ayah setelah keduanya lama terpisah.

Jelas waktu tersebut bukanlah waktu yang sebentar, bukan lagi kebahagiaan yang dirasakan oleh keduanya. Kisah haru pun dituai oleh aiapa saja yang melihat. Pasalnya, pertemuan yang mengharukan tersebut hanya berlangsung singkat sebelum akhirnya sang ayah pergi untuk selama-lamanya.

***

Advertisement

Inilah kisahku. Adalah aku yang mengalami nasib yang mengharukan tersebut.

Usiaku kini 20 tahun. Sejak usiaku 10 tahun, aku sudah tidak mengenal cinta dan sosok kehadiran papa lagi. Jika di usiaku dulu yang masih kecil, teman-teman sebayaku mendapatkan cinta dari ayah-ayah mereka dan dihujani banyak kasih sayang, hal serupa tidak dirasakan olehku. Indahnya masa kecil hanya ditemani oleh mama.

Ua (kakak papaku) menuturkan, saat itu papa yang telah menjadi pria tua dan begitu renta masih saja menyimpan fotoku, bahkan diakuinya setiap saat papa selalu memandangi fotonya bersama dengan aku, satu-satunya putrinya. Papa pernah berkata dengan yakin, jika putrinya yang begitu iya rindukan, telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang mungkin tak bisa iya kenali.

Waktu terus saja berjalan, usia papa yang sudah tidak muda lagi membuat dirinya tak lagi sekuat dan segagah dulu. Kini ia jadi sering batuk dan sakit-sakitan. Pada bulan Januari 2006, ia sakit parah dan harus dibawa ke Rumah Sakit. Di sana papa dirawat kurang lebih satu bulan lamanya. Kemudian kami mendapati kabar yang benar-benar memilukan: papa menderita kanker stadium akhir.

Setelah mendengar kabar dari Ua, dan mengetahui bahwa papa sakit parah, tanpa menunggu lama, aku dan mama langsung pergi ke Jatinangor, Sumedang dan menempuh perjalanan kurang lebih 185 kilometer dengan menggunakan jasa angkutan umum. Sesampainya di rumah sakit, akhirnya aku dan papa bertemu dalam kondisi yang memilukan.

Mungkin untuk papa, melihat kehadiran sang putri ada di dekatnya sewaktu dirinya berjuang melawan penyakit sontak saja menjadi kekuatan untuk dia yang sedang terbaring lemah. Semua yang hadir saat itu, termasuk semua anggota keluarga papa yang hadir, perawat serta dokter yang menyaksikan pertemuan ini hanyut dalam haru yang mendalam. Cucuran air mata sontak tumpah di pipi mereka. Aku dan papa dengan tidak canggung langsung berpelukan dan menumpahkan kerinduan setelah lama kami tidak bertemu.

Pertemuan yang begitu singkat, sayangnya pertemuan bahagia dan mengharukan itu tak berlangsung lama. Perpisahan yang penuh dengan kerinduan ini hanya ditebus dengan mungkin dalam kurun waktu kurang lebih satu setengah jam saja. Setelah itu aku dan mama lantas kembali pulang ke kampung, soalnya di Hari Senin nanti aku Ujiian Akhir Sekolah tahap Sekolah Dasar.

Di situlah penyesalanku memuncak, di mana aku pulang tanpa menunggu papa sembuh kembali, atau setidaknya dalam kondisi yang sudah membaik.

***

Aku sudah di rumah. Kamis setelah ujian selesai, mengapa aku tidak lantas berangkat, mengapa menunggu Jumat pagi yang baru ku dapati kabar bahwa papa telah pergi?

Hal ini tentu saja membuatku menelan kenyataan pahit. Baru saja bertemu, aku kembali ditinggalkan, malahan untuk selamanya. Di mana aku tidak akan lagi dapat melihat wajah papa, bahkan merasakan dekapannya lagi.

Karena papaku, telah pergi untuk selama-lamanya. Januari 2017, hampir 11 tahun papa pergi. Januari, lagi-lagi mengingatkan aku tentang 11 tahun yang lalu, yang sebenarnya setiap detikpun aku tak pernah lupa kejadian itu.

Selalu aku membaca surat terakhir papa yang sempat mama sembunyikan dariku, katanya mama tidak mau kalau aku selalu bersedih. Kata mama, "Bersedih boleh, berlarut jangan."

Aku kutip surat papa di sini.

"Surat untuk Permataku, Tri Indah Itcun."

Teruntuk Anandaku tercinta, kau adalah putriku yang demi Tuhan aku dan mamamu sungguh mengharapkan kehadiranmu ada di tengah-tengah kami, dan setelah 10 tahun penantian kami, akhirnya kau hadir mengisi hari hari kami. Terbahagialah kami, nak, waktu itu.

Dan sampai kini, memilikimu. Anandaku, aku sangat mencintaimu. Anandaku, adalah takdir jika suatu hari nanti kita harus terpisah. Jika semua itu terjadi, maka ikhlas dan bersabarlah!

Anandaku, pelajari setiap masalah yang kau hadapi. Satukanlah dengan pengalaman dan belajarlah dari segala sesuatu. Anandaku, jadilah kamu hamba yang '"ihsan" sehingga selama nafasmu berhembus, di manapun kau berada, kau akan merasa takut kepada Allah SWT.

Selalulah berkata jujur, di manapun kau berada, dan bagaimanapun kondisimu. Karena sejatinya kejujuran adalah mata uang yang berlaku di berbagai penjuru dunia manapun. Anandaku, jika kelak aku pergi memenuhi panggilan Tuhan, berdoalah selalu untukku. Terangi aku dengan Alquran yang kau bacakan, sebutlah namaku disetiap selesai salatmu!

Anandaku, seperti kekasih mengintai kekasihnya, atas nama Allah azza wa jalla jaga dirimu baik-baik. Di kehidupan kedua, aku menunggumu berbalut cahaya rahmat-Nya.

– Papa.

Itulah kalimat-kalimat indah dari papa untukku, untuk terakhir kalinya. Papaku memang tidak meninggalkan warisan kekayaan, emas, ataupun jabatan bergelimang kekuasaan. Namun, papa memberikanku lebih dari itu semua.

Papa, sekarang putri kecilmu ini sudah beranjak dewasa. Namun sedewasa apapun, sebenarnya aku akan tetap membutuhkanmu.

Papa, kali ini ananda berada di puncak kangen kepadamu. Namun lagi-lagi ananda sadar, hanya doalah yang sekarang memang sangat engkau butuhkan.

Dalam diam, ananda mencurahkan rasa kangen ananda untuk papa. Untuk ananda, papa adalah bahasan yang tidak pernah habis ananda ceritakan kepada Tuhan. Ketahuilah, ananda sangat bersyukur terlahir sebagai putrimu. Dan jika ada kehidupan kedua, ketiga, dan kesekiannya, ananda tidak berharap dan tidak akan meminta apapun pada Tuhan, selain ingin kembali menjadi putrimu, lagi, lagi dan lagi.

Papa, terima kasih telah kau ajarkan aku bertahan dikehidupan yang memang tidak seindah dan sehangat di pelukanmu. Terima kasih kau ajarkan aku bertahan dari sakit yang tak menangis. Terimakasih kau ajarkan aku bagaimana caranya untuk bisa bertahan hidup dari limbung angin, dan dari mengkerut di cengkram dingin.

Kelak, dikehidupan abadi, jemputlah ananda dan mama dengan senyummu, dan dalam balutan selimut Surga-Nya. Amin.. Inilah curahan kangen Ananda untuk papa..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya