Terkadang Masalah Iman Harus Dikesampingkan, Agar Kita Bisa Mengkritisi Suatu Permasalahan Yang Sebenarnya

Dia, yang ku sebut dengan nama Tuhan selalu saja menjadi permasalahan yang tidak ada akhirnya. Dia selalu disebut dalam setiap permasalahan-permasalahan manusia. Manusia dengan mudahnya mengatakan itu dan ini dengan mengatasnamakan Tuhan. Memang ada apa dengan Tuhan? Siapakah Dia menurut pribadimu? Apakah yang Maha Besar, Maha Pengampun dan Maha Segalanya? Dia adalah yang tidak bisa kita logikakan karena Ia diluar kemampuan berpikir manusia. Seberapa keraspun kita berpikir kita tidak akan bisa menemukan jawabannya. Mempercayai bahwa eksistensi-Nya saja sudah cukup.

Advertisement

Tapi seringkali manusia salah kaprah yang mengakibatkan kesesatan berpikir. Manusia zaman sekarang tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan yang bernar. Mana yang dilarang dan tidak dilarang. Bahkan, terkadang diputar balik antara benar dan baik itu. Entahlah, kenapa bisa seperti demikian? Lagi-lagi masalah kepentingan yang menjadi penyebabnya. Padahal, kalian tidak bodoh untuk mengerti.

Iya benar, kalau bicara masalah iman, kepercayaan, agama dan yang berbaur tentang religiusme sangat sensitif sekali. Apalagi di zaman yang semakin aneh ini. Mau berdebat sampai kapanpun, tidak ada yang namanya kalah dan menang. Karena kita hanya bisa menemukan kebenaran itu dalam sudut pandang kita masing-masing. Kalau pola pikirmu mengatakan itu benar ya anggap saja benar tapi kalau pola pikir orang lain mengatakan salah, ya tetap saja pada pola pikirmu. Tidak peduli itu salah atau benar, yang terpenting kamu bisa membedakan mana yang baik dan benar. Itu sudah lebih dari cukup, kok.

Manusia itu boleh berkomentar, berpendapat tentang apapun dan tidak ada yang melarang. Kita hidup di zaman demokrasi. Akan tetapi ingat, semua ada batasnya. Kewenangan itu dilarang ketika sudah berada di luar batas. Manusia juga boleh beragama, beriman dan lain-lainnya, bahkan diberi kebebasan untuk memilih. Tapi, akan sangat tidak pantas jika kita saling mengolok-olok manusia lainnya dengan alasan keagamaannya. Jangan sampai akal budi kita menjadi kabur akan hal tersebut.

Advertisement

Bukan bermaksud untuk mengatakan kamu tidak boleh seperti ini dan itu. Tapi sesungguhnya, terkadang masalah iman harus dikesampingkan agar kita bisa melihat dan mengkritisi suatu permasalahan yang sebenarnya. Apa sih yang sebenarnya terjadi? Kenapa itu bisa terjadi? Apa penyebabnya? Untuk menjawab ini semua, kita harus pakai logika. Bukan berarti orang beragama, orang beiman tidak berlogika, lho. Bukan! Tapi, ketika kita mencoba mengkritisi suatu permasalahan dengan memakai iman tentunya akan jadi tidak rasional. Masalah iman tidak boleh dicampur adukkan dengan masalah realitas. Kita ini butuh yang namanya realistis, tidak hanya idealis. Jadi keduanya ini harus benar-benar kita pisahkan. Jika tidak, semuanya akan menjadi rancu.

Hal inilah yang terkadang membuat logika manusia menjadi tidak lurus. Apapun selalu dihubungkan dengan imannya. Ada saatnya suatu permasalahan membutuhkan iman dan ada saatnya yang dibutuhkan logika berpikir. Itulah kenapa ilmu pasti itu dipahami secara logika. Terkadang jengkel melihat orang-orang berdebat sesuatu permasalahan yang pasti bisa dilogika tapi tetap saja menjawabnya dengan mengatas namakan Tuhan.

Bukan berarti masalah iman, agama itu tidak baik, tidak benar dan tidak pasti. Banyak masalah di dunia ini yang tidak bisa dilogikakan. Oleh karenanya, kita harus bisa memilah dan meletakkannya pada posisi yang pas. Jangan sampai salah kaprah. Sudah tidak zamannya lagi hidup seperti kodok dalam tempurung.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya