Salah satu hal didunia ini yang belum pernah aku alami adalah menikah. Menikah bagiku bukan perkara cinta atau uang saja. Tapi yang terpenting adalah komitmen dan terutama iman seagama. Apa yang terjadi pada pernikahan ibuku tidak bisa aku pungkiri. Karena saat itu pun aku masih usia 2 tahun. Aku pun belum mengerti apa-apa. Bahkan perceraian itupun tidak bisa aku cegah. Dan aku pun tidak tahu kalau sebenarnya orangtuaku telah berpisah. Salah satu penyebabnya mungkin karena perbedaan agama. Yang aku tahu aku hanya hidup bersama dengan ibuku saja. Dan ayah kandungku telah menikah lagi.

Tidak ada seorang anak pun didunia ini yang menginginkan hidup dalam keluarga broken home. Karena dampak yang paling terkena adalah anak itu sendiri. Demikian pula aku. Saat menulis ini, tanpa sadar aku pun meneteskan air mata, jika mengingat semua perjalanan hidup yang aku alami. Meskpun tidak hanya aku sendiri didunia ini. Dulu saat penerimaan raport sekolah, rata-rata yang datang adalah ayah siswa. Berbeda denganku, yang datang adalah ibuku. Sempat rasanya iri kepada mereka yang bisa melihat mereka datang ke sekolah bersama dengan ayah mereka.

Advertisement

Hari-hari yang kulewati sewaktu kecil rasanya sudah biasa hanya dengan ibuku saja. Yang membuatku malas adalah ketika saudara-saudaraku membahas soal ayah kandungku. Mungkin rasa marah membuatku tidak ingin sama sekali membahas apa saja yang berhubungan dengannya. Bahkan akupun tidak tahu wajah ayahku itu seperti apa.

Saat kelas 5 sekolah dasar, ibuku akhirnya menikah lagi dengan seseorang yang juga belum lama aku kenal sebelumnya. Usianya juga terpaut jauh dengan ibuku. Tapi mulai dari pernikahan yang ketiga ini, setelah yang kedua juga gagal, aku baru mulai merasakan bagaimana memiliki seorang ayah dalam hidupku.

Bagaimana rasanya diantar jemput waktu sekolah. Datang kesekolah untuk mengambil raport. Yang repot-repot mencariku saat aku pulang telat dari sebelumnya. Dan terlebih saat aku sakit waktu SMP dulu. Dan saat itu aku harus membutuhkan transfusi darah. Disini aku melihat perjuangan ayah tiriku yang harus bolak-balik mencarikan darah untukku. Pertanyaanya, dimana ayah kandungku? Meskipun adik dari ayah kandungku datang menjenguk, tapi bagiku itu mengecewakan sekali. Meskipun aku tidak tahu alasan apa yang membuatnya tidak bisa menemuiku.

Advertisement

Aku pernah menulis cerita hidup perjuangan ayah tiriku ini dalam tugas Bahasa Indonesia ku dulu saat duduk dikelas 1 SMP. Saat membacanya akupun tak kuasa menahan air mataku. Sambil menangis pula aku tetap membacakannya. Padahal aku tidak anak kandung, tapi kasih sayang ayah tiriku sangat besar kepadaku. Tidak semua orangtua tiri itu jahat. Jika ada yang beranggapan seperti itu, ayah tiriku tidak ada dalam barisan orang-orang jahat seperti yang dianggapkan.

Perihal penulisan nama ayah di setiap persyaratan yang membutuhkan nama seorang ayah, sebenarnya berat bagiku. Karena bagiku ayahku ya ayah tiriku ini. Meskipun sampai kapanpun ayah kandung adalah ayah darahku. Sebenarnya aku ingin sekali menulis nama ayah tiriku, tapi yang dibutuhkan pasti nama ayah kandung. Aku tahu ayah tiriku pasti sedih dan dalam hati ingin pastinya jika yang aku tulis adalah nama beliau. Tapi bagaimana lagi. Aku harus mengikuti prosedur yang ada meskipun sangat sulit bagiku juga.

Sebenarnya, tahun 2017 kemarin, aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan ayah kandungku. Saat itu adik ayah kandungku menggelar acara keluarga dan akupun diminta untuk bisa datang. Aku tidak tahu kalau sebenarnya seorang laki-laki memakai topi dibelakangku adalah ayah kandungku. Siapa sangka seperti orang asing saja. Aku tidak tahu jikalau tidak karena ibu dari ayah kandungku yang mempertemukan kami. Tapi pembicaraan saat itu yang sempat membuatku tidak habis pikir adalah ayah kandungku memintaku untuk tinggal bersama dengannya dan beliau akan memberikanku pekerjaan juga. Tanpa berpikir panjang, jelas saja aku menolaknya. Dengan mudahya berkata seperti itu. Lantas sejak aku kecil sampai aku usia sekarang ini kemana saja? Sepertinya dengan mudah sekali memberikanku tawaran seperti itu.

Bukan bersikap tidak adil. sekali lagi, sampai kapan pun ayah kandung adalah ayah darahku. Namun, Tanpa harus diberikan pilihan sekalipun, aku akan tetap memilih bersama ibu juga ayah tiriku. Karena uang tidak bisa mengganti pengorbanan serta kasih sayang yang sudah diberikan oleh ayah tiriku terhadapku.

Tapi, bagaimanapun juga aku tidak bisa sejahat ini lalu melampiaskan kebencianku ini terhadap ayah kandungku sendiri. Juga akupun tak berhak menyalahkan Tuhan tentang apa yang menimpa keluargaku. Terlebih ibuku sendiri.

Sampai saat ini pun aku tidak tahu alasan pasti beliau dulu meninggalkan ku juga ibuku. Tapi semua ini memberikanku pembelajaran kedewasaan pasti. Meskipun sampai sekarang aku tetap saja merasakan iri bilamana saja dulu aku dilahirkan dari keluarga yang utuh tanpa ada kata perceraian.

Meskipun ini sangat dilarang oleh Tuhan. Terkadang aku takut kalau Tuhan menghukum ibuku. Aku selalu berharap Tuhan memaafkan ibuku karena harus menikah untuk ketiga kalinya. Dan aku selalu berharap ini untuk terakhir kalinya dan sampai selamanya.

Teruntukmu ayah tiriku. Terima kasih darimu aku bisa memanggilmu, ayahku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya