Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Seberapa dalam lagi hati ini harus terluka. Untuk benar-benar berhenti dengan semua ini. Mengabaikan kamu jika kamu datang lagi. Apa kurang cukup luka yang kamu beri pada diri ini. Melihat laki-laki yang pernah ku cintai setulusnya mendua dan pergi dengan cinta barunya.

Advertisement

Bahkan disaat diri ini berjuang bangkit dari dalamnya luka. Kamu sudah berbahagia memulai kisah baru. Maaf jika pergi dan pergi yang selalu ku ucapkan jika kau kembali. Karena jika tidak kukatakan, selalu ada hati yang terluka. Dan itu sudah pasti aku Aku tak pernah menghamba kepadamu untuk selalu disisiku, selalu ada untuk diriku dan memintamu untuk kembali. Tak pernah aku hanya ratusan kali memintamu untuk pergi meninggalkan ku sendiri dan selamanya. Jangan pernah datang lagi.

Jangan pernah mengganggu lagi bahkan untuk sekedar bertukar sapa. Tak lihat kah apa yang terjadi setelahnya ketika kamu datang lagi walaupun hanya sebentar. Hati ini harus kembali di tata seolah porak poranda. Ya dengan mudahnya kamu datang dan pergi tanpa tau apa yang terjadi setelahnya dengan diriku. Menghubungi mu adalah sebuah larangan terbesar untuku. Menghubungimu membuat candu atas suaramu, kabarmu, semua tentang kamu. Dan jika itu semua terjadi ini adalah suatu kesalahan. Jika benteng pertahanan ku tidak begitu kuat seperti yang kamu tau. Tak bisa kah kamu kasihan pada diriku.

Pada diriku yang memperjuangkan disetiap harinya untuk tidak mengingatmu tidak memikirkanmu. Ribuan kali aku bilang berbahagialah dengan dia yang saat ini kamu miliki. Ribuan kali aku bilang aku tidak akan mengganggu. Hanya pergi tingalkan aku yang benar-benar sudah ditinggalkan. Kamu tak akan pernah tau rasanya berada dalam rasa menunggu tapi tak ingin itu semua terjadi. Rasanya penantian. Kamu tidak tahu ketika kamu menghubungiku hati ini kembali bernyawa. Hati ku yang selama ini ku buat mati. Hidup kembali hanya dengan melihat layar hp ku hidup berdering dengan nomer yang tak ku kenal. Dan mingira-ngira apakah itu kamu? Dan ternyata benar itu kamu dari kejauhan. Kamu yang selama ini ditunggu tanpa kesadaran.

Advertisement

Ada perasaan lega namun sekaligus perih yang kurasakan. Diri ini selalu ingin ini adalah salam perpisahan dengan dirimu yang terakhir kalinya. Biarpun hati selalu bertanya apakah ini yang terakhir? Apakah sungguh ini benar-benar yang terakhir kalinya? Dan kamu datang menjawab ini bukan yg terakhir. Lalu aku harus apa, rasa sesak di dada ini selalu ingat perpisahan-perpisahan yang kita lakukan. Mengganggap semuanya untuk terakhir kalinya. Menangisi untuk terakhir kalinya. Tapi apa? kamu datang lagi dan datang lagi. Selalu seperti itu. Kamu datang dengan berbagai hal yang seharusnya tak perlu ku dengar lagi. Kamu datang menawarkan masa depan padahal kamu masih menggengam erat wanita lain.

Aneh bukan. Setelah diri ini menangisi perpisahan yang begitu berat. Tapi ternyata ini hanya sementara. Tak kasihan kah kamu jika aku mengganggap ini perpisahan yang sementara tapi taunya selamanya. Aku tak mungkin menanti seperti itu. Tak bisa kah kamu membuat hatiku benar- benar mati. Benar-benar lumpuh tak merasakaan apapun karenamu. Aku tidak pernah melarangmu untuk pergi. Tanganku selalu terbuka untuk melepaskan sesuatu yang tak ingin tinggal. Tapi bisakah kamu berlaku seperti itu. Melepaskan apa yang seharusnya di lepaskan. Aku hanya ingin terbang dan hidup menjauh dari bayangmu.

Tak ingin mengenalmu lagi. Hanya hidup lebih baik setelah kesendirian yang medewasakan ku. Tak bisakah kau buat diri ini tanang. Bukan untuk berbulan-bulan tapi untuk selamanya. Jangan pernah datang lagi. Bisakah kamu berjanji satu hal. Jangan pernah datang lagi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya