!-- Publift Fuse -->

Untukmu yang Bosan Ditanya “Kapan?”

Mungkin sudah jadi sifat alami manusia jika ingin mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain. Atau juga mungkin itu hanya sebuah sikap baik, sikap ramah, ataupun sebuah perhatian tentang keadaan orang lain. Dan perhatian itu sering kali dimulai dengan sebuah kata tanya "kapan?".

Advertisement

Kamu yang terjebak di gelapnya masa-masa bimbingan dengan dosen, pasti mengerti dengan sakitnya pertanyaan "Kapan wisuda?". Setelah berhasil melewati masa perjuangan berat di kampus, orang-orang akan memperhatikan (red: mempertanyakan) kegiatanmu di masyarakat dengan bertanya "Kapan kerja?". Belum cukup di sana, dengan pekerjaan yang menjanjikan, mereka mulai memperhatikan masa depan hidupmu dengan bertanya "Kapan nikah?"

Ini adalah salah satu pertanyaan terbesar, yang jika salah-salah bertanya bisa menyebabkan pertumpahan darah antara si penanya dan yang ditanya. Dan masih banyak "kapan?-kapan?" lain yang menyusul seperti "Kapan punya anak?", "Kapan punya rumah?", "Kapan punya kendaraan?", "Kapan naik haji?", "Kapan jadi presiden?", dan lainnya lagi. Mulai dari yang masuk akal sampai yang keluar akal.

Mungkin ada sebagian dari kamu yang malah bukan menjadi korban dari pertanyaan ini, melainkan menjadi pelakunya. Ketika kamu berada di posisi yang lebih baik, kamu mempertanyakan "kapan?" kepada orang yang berada pada posisi di bawah kamu. Ketika kamu sudah menikah, kamu mulai bertanya "Kapan nikah?" kepada temanmu yang belum menikah. Ini sungguh suatu perlakuan yang menyakitkan.

Advertisement

Apalagi korban yang ditanya adalah jomblo akut, tampang pas-pasan, dan belum wisuda. Sungguh, ini seperti menusuk pant*t singa kelaparan dengan tusuk gigi bekas!

Untuk lebih baik, bagi kamu yang sering ditanya "kapan?", maka alangkah baik kita bertanya balik kepada mereka yang bertanya. Ketika mereka bertanya "Kapan nikah?", "Kapan wisuda?", maka bertanyalah kembali kepada mereka yang bertanya itu, "Kapan kamu mati?".

Advertisement

Mungkin ini sedikit nyentrik dan menggelitik. Tapi, bukankah pertanyaan ini mempunyai jawaban yang berujung pada satu hal yaitu takdir Tuhan? Kita tidak tahu kapan kita akan mati, seperti mereka yang bertanya 'kapan?' itu meninggalkan dunia ini. Bukankah kita hanya bisa berusaha menjaga kesehatan tubuh kita dan masalah kematian itu kembali kepada kehendak-Nya?

Bukankah semua pertanyaan kapan itu mempunyai jawaban yang kembali kepada-Nya? Kita tidak tahu kapan wisuda karena kita tidak tahu kapan Tuhan menggerakkan hati para dosen itu menerima skripsi kita. Kita tidak tahu kapan mendapatkan pekerjaan karena kita tidak tahu kapan Tuhan memberikan rezeki dan nikmatnya bekerja itu kepada kita. Bukankah jodoh seperti itu juga?

Kita hanya bisa berdoa dan berusaha memperjuangkan perasaan kita, tanpa bisa berbuat banyak untuk meyakinkan hati dia kepada kita. Dan bukankah semuanya kembali kepada Tuhan yang menguasai setiap hati manusia?

Untukmu yang sering bertanya "kapan?", hentikanlah pertanyaan menyakitkan ini. Karena tidak ada yang tahu dengan pasti masa depan ini, kecuali Tuhan.

Untukmu yang sering terluka disiksa pertanyaan "kapan?", maka kembalikanlah jawaban pertanyaan itu kepada Tuhan. Kembalikan pertanyaan itu kepada mereka yang bertanya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

smile, thanks, forgive, and giving . . . i m not a smart man, but i know what love is...

13 Comments

  1. Dwi Purwanti berkata:

    Huakakkakakakakakaak
    “Kapan?”

    “Tanyain sama Tuhan gih. Tar kalo udah dijawab, kasih tau aye ye? Maacih “

  2. Ayu Nurmalasari berkata:

    ahhh biasa aja kok d tanya kapan mah
    tergantung kita menyikapi kata kapan itu aja
    klo d bawa biasa aja ywdh biasa aja .. santai kan

  3. Qinyam Kembali berkata:

    Kapan nikah …..?

    Tak mampu. Manjawab…

  4. KAPAN NIKAH ? ? ? KAPAN KAPAN KALO INGETTT

CLOSE