Bukan masalah cintanya, tapi ini persoalan sakit hati. Bahwa ditinggal dan dibuang begitu saja sakitnya tak pernah berujung.


Malam gerimis, bertepatan dengan datangnya seorang sahabat ke rumah, sebut saja namanya David. Datang dengan penuh isak tangis. Aku bertanya dalam hati, ada apa gerangan pria yang biasanya ceria dan penuh lelucon bisa begitu sedihnya. Usut punya usut, dia baru saja bertengkar dengan kekasihnya.

Advertisement

David telah menjalin hubungan kurang lebih selama 3 tahun dengan Alya. Keluarga kedua belah pihak sudah saling mengenal. Maklum, 3 tahun bukan waktu yang sebentar, sudah banyak proses berliku dan kebersamaan yang dilewati berdua. Penilaianku sebagai sahabat terdekat David terhadap Alya yaitu dia seorang wanita yang penuh kasih sayang, setia, baik hatinya, dan yang paling penting Alya pun serius dalam menjalin hubungan dengan David. Ya, mereka sudah pernah merencanakan pernikahan bertahun-tahun lamanya dan juga membahas visi hidup bersama. Tahun ke-3 mereka berpacaran sudah banyak yang direncanakan. Akan menikah pada tahun sekian, punya rumah di daerah x, punya anak dengan jarak hamil sekian tahun, sampai hal terkecil sudah mereka rencanakan dengan serius.

Nah, kebetulan David adalah seorang pria yang menurutnya pendidikan adalah harga mati. Dia telah menempuh berbagai pendidikan dan pelatihan untuk mengembangkan potensi dirinya. Pada tahun ke-3 ini, David melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar Master of Engineering di salah satu Universitas di Jogja. David berjanji kepada Alya bahwa setelah kelulusannya, mereka akan melangsungkan pernikahan. Namun, entah kenapa sepertinya Alya tiba-tiba menjadi sangat terburu-buru untuk ingin segera melangsungkan pernikahan pada tahun ke-3 itu juga. Alya menolak mentah-mentah permohononan David untuk menikah setelah kelulusannya, sebab waktu itu terlalu lama baginya.

Mati-matian David menjelaskan alasannya bersekolah adalah sebagai investasi untuk adik-adiknya kelak, ditambah kenyataan bahwa kedua orang tuanya akan segera pensiun dalam waktu 3 tahun yang akan datang. David sudah memikirkan matang-matang bagaimana cara agar adik laki-lakinya bisa bersekolah setinggi-tingginya tanpa membebankan kedua orang tuanya. Namun lagi-lagi, Alya seperti tidak paham apa yang dipaparkan David. Ia tetap menolak untuk menunggu sampai tahun kelulusan David.

Advertisement


Pertanyaannya, kalau wanita ini sudah mau berkomitmen bersama sebelumnya, kenapa dia tidak mau menunggu 1 tahun lagi?


Singkat cerita, tanpa ada masalah yang berarti, David dan Alya memutuskan mengakhiri hubungan mereka. Tepatnya, Alya yang mengakhiri. Seakan dia tidak mau repot dengan beban di pundak David sebagai kakak yang punya kewajiban menjaga adik-adiknya. Seakan dia tidak peduli lagi perjuangan 3 tahun yang dibangun bersama-sama. Alasannya, Alya bilang David terlalu egois, memikirkan kebutuhan sendiri, hanya melulu memikirkan kuliah, dan dia tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. David sempat menghubungi keluarga Alya berkali-kali untuk menanyakan apa yang terjadi sebenarnya, namun seolah David ini penagih hutang, teleponnya pun tak ditanggapi sama sekali. Oh God, "Aku sampai bingung orang macam apa Alya ini," aku membatin sembari menenangkan David.

David, orang yang paling gokil di lingkungannya, menangis pun tidak pernah, bahkan di depan sahabatnya sendiri. Berbanding terbalik dengan itu, malam ini dia menangis, sesenggukan, hatinya hancur, perasaannya sakit. Orang ceria ini bahkan bercerita sempat terpikir ingin mengakhiri hidupnya. Tapi, sayangnya David adalah orang yang kuat, terlalu kuat untuk dihancurkan dengan mudah, dia berhasil bertahan hidup, mempertahankan kestabilan jiwanya. David bagai tisu yang dipakai untuk mengelap ingus, kemudian dibuang begitu saja tanpa peduli tisu itu akan terbang atau terinjak.

Butuh waktu berbulan-bulan buat David mengangkat kembali kehidupannya yang jatuh. Hanya selisih 2 minggu dari keputusan hubungan mereka, Alya sudah menjalin hubungan dengan pacar barunya. Tepat 4 bulan setelah hubungan mereka berakhir, aku mendapat kabar Alya menikah. Tentunya dengan pria lain, pacar barunya itu, bukan dengan David. David yang telah bangkit bersusah payah, sontak terguncang mendengar kabar ini. Di manakah ada orang setega Alya ini?

Namun, sahabatku ini selalu bisa bangkit. Bahkan prestasinya tetap gemilang meski sedang dirundung masalah yang sedemikian berat. Semangatnya untuk terus mengembangkan potensi diri seakan semakin berkobar dibandingkan dengan saat dia masih menjalin hubungan dengan Alya. Seolah menegaskan pada diriku, bahwa pria harus selalu kuat dan tidak cengeng di manapun berada, apapun kondisinya.

Dari kisah ini, bisa dilihat bahwa pacaran bertahun-tahun tidak menjamin kita akan menikah dengan orang tersebut. Namun, ada juga pasangan beruntung yang bisa menikah setelah bertahun-tahun menjalin hubungan. Dalam pengalaman David dan Alya ini, yuk memetik beberapa poin penting serta hikmah yang bisa kita ambil.

Pertama, jangan berharap pada manusia. Bertahun-tahun David mengharapkan dan berkomitmen akan menikah dengan Alya nantinya, menjadikannya teman hidup seumur hidupnya, nyatanya Alya tidak peduli dengan hal itu. Apapun alasannya, bagi Alya yang penting dia bisa menikah dengan atau tanpa David. Bukan tidak boleh berharap, manusia tetap harus punya harapan untuk dapat menjalankan kehidupannya. Akan tetapi, sebaiknya berharaplah sewajarnya, karena manusia tetaplah manusia, hatinya mudah untuk berubah-ubah. Tidak ada yang pantas diharapkan dari janji seorang manusia. Maka, berharaplah hanya pada Pencipta, yang sudah jelas bisa membuat kamu hidup sampai detik ini.

Kedua, seberat apapun masalah kamu, bangkitlah kalau tidak mau ketinggalan kereta waktu. Merasa punya masalah terlalu berat? Nggak sanggup melanjutkan hidup? Coba deh teman-teman lihat di luar sana, masih banyak orang yang punya masalah lebih berat daripada kita. Mereka tidak bisa makan, tidur di emperan toko, dan mengais sampah. Hello, kamu hanya ditinggal pacar kok tidak bisa seperti mereka berjuang dan bangkit dari masalahmu. Kalau memang dia wanita atau pasangan yang baik untuk kamu, dia tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun alasannya. Jadi, kalau seperti kasus Alya ini, mari kita simpulkan saja, dia bukan wanita yang baik. Simple, kan!

Jangan mau hanya terpaku dalam kamar merenungi betapa terpuruknya kamu ditinggalkan seorang wanita, betapa jeleknya kamu sampai dinilai tidak berharga. Justru, anggap saja karena kamu terlalu berharga makanya dia meninggalkan kamu, bukan? :)

Satu-satunya cara, yang pertama kali kamu harus lakukan ketika menghadapi keterpurukan seperti David, yaitu, niatkan dari dalam dirimu untuk bangkit, meninggalkan masa-masa kelam, masa-masa perenungan yang tidak berarti.

Ketiga, dunia itu tidak selebar Daun Kelor loh kawan! Yang artinya untuk jangan mudah berputus asa. Hal ini sudah dibahas pada poin sebelumnya. Namun, arti lain dari peribahasa ini adalah dunia ini tidak sempit, tentu saja lebih-lebih dari Daun Kelor. Aku menyimpulkan dari peribahasa ini dan aku refleksikan pada kehidupan era sekarang, bahwa dunia ini tidak sempit, sehingga bukalah pergaulan sebanyak-banyaknya, jalin relasi dengan banyak orang siapapun itu, dan kembangkan potensi diri seluas-luasnya. Rugi donk jaman sudah ramai begini teman kamu masih itu-itu aja.


Buat orang yang sedang patah hati, bersosialisasi dan berkumpul dengan banyak orang baru di lingkungan baru dinilai ampuh untuk membangkitkan semangat.


Keempat, hobi adalah obat. Kamu benar-benar tipe orang yang sulit bergaul atau beradaptasi? Bingung mau menghapus kegalauan? Yaudah, nge-hobi aja. Apapun hobi kamu, just do it. Namanya hobi pasti kamu cinta, kan. Pasti ngelakuinnya juga dengan penuh kenyamanan, rileks, santai. Makanya, nge-hobi ini dijamin ampuh mengusir kegalauan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya