Untuk aku, kamu, kita, generasi yang ditangga dewasa. Sebagian masa telah berlalu seperti kereta yang baru saja melintas meninggalkanku di stasiun hari ini. Baru menyadari waktu telah berganti begitu cepat. Mungkin terlambat, tapi marilah sadari beberapa hal yang sama (mungkin) terjadi disekitar kita. Hal-hal yang membuat kita sempat termenung dan ragu dalam melanjutkan perjalanan yang telah dimulai sekian lama. Tidak perlu khawatir, kamu tidak sendirian. Ada aku, dia, mereka yang hidupnya bahkan lebih pedih dari imajinasi yang pernah otak kita khayalkan.

1. Masih sibuk kuliah? Dia udah kerja lho

Advertisement

Jalan hidup kamu dan temanmu, bahkan orang tuamu berbeda. Mereka melewati masa yang berbeda dengan kamu, melalui proses jatuh bangun yang tidak sama, perjuanganmu adalah hakmu. Penghargaan atas dirimu bukan hanya saat kesuksesan telah didapat, proses yang kamu lalui adalah langkah kebangganmu. Kesuksesan tidak pernah sama, kamu dan mereka jelas beda. Namun, pada akhirnya kita toh selalu melalui hal yang sama, melampaui batas kemampuan dan membuat impian kita nyata.

2. Dia sudah menikah, kamu kapan?

Apa pun perayaan hari besar, sebuah pertanyaan wajib seperti sabda pun keluar dengan sendirinya meski dari seseorang yang bersikap malaikat, sekalipun. Seorang perempuan memilih baju untuk dikenakannya sehari-hari saja masih berfikir, seorang laki-laki bahkan mencoba beberapa permainan agar tau mana yang cocok untuk menemaninya menghabiskan waktu. Apa lagi menikah? Menghabiskan seluruh waktu, tenaga, mengalahkan cita-cita, ego, dan harapan demi mewujudkan kebahagiaan bersama tidak semudah mengetik artikel ini, tentunya. Pernikahan dengan patokan usia ideal tidak berujung menghasilkan pernikahan yang bahagia juga. Kematangan diri, keyakinan penuh dan keteguhan hati untuk bersama seseorang tidak dilalui dengan waktu singkat. Lebih baik, tidak memaksakan ke-lega-an orang lain dengan pertaruhan kebahagiaanmu sendiri. Karena kelak kebahagiaanmu, kesedihanmu, perjuanganmu di masa perkawinan yang buruk, ya kamu sendiri yang menghadapi. Sabar lah, untai nafsu jadi benang, rajut dengan handal hingga keyakinanmu untuk bersamanya menjadi kain yang sempurna. Kamu tidak sendiri kok, satu jomblo diantara semua keluarga besar di Indonesia pernah merasakannya.

Advertisement

3. Para mantan sudah move on, kamu kunaon?

Di terik siang stalking foto para mantan, ada yang memasang cincin, mengenakan baju pengantin, mencium perut sang istri yang membuncit, dan bahkan menggendong anaknya dengan senyuman bahagia. Senyum tertarik keluar, mata berubah jadi sayu, mereka yang dulu sempat berusaha aku bahagiakan dan membahagiakan-ku, kini sudah bahagia tanpa-ku. Masalah hati, kita berhenti di sini. Waktu berjalan dengan cepat, benar? Mereka menemukan tambatan tanpa pemberitahuan kepada diriku yang masih belum siap apa-apa. Berbahagia lah mereka dengan jalannya dan berbahagialah aku dengan jalanku. Suatu saat kita akan bertemu dengan senyum mengembang bersama kebahagiaan masing-masing yang kita miliki. Bukan berarti mereka lebih maju, hanya saja jalan yang mereka lalui berbeda. Bagi yang juga merasakan, teruslah berjalan, ada aku.

4. Dia sudah jalan-jalan ke luar negeri, kamu kok tidak ikut?

Bersyukur itu berat, menghadapi teman-teman yang tidak bersikap “teman” juga berat. Tarikan nafas panjang menyesuaikan ritme jantung yang mulai berdetak keras. Ingin berkata kasar. Tahan, emosimu tidak perlu kau habiskan cuma demi pertemanan khusus “senang-senang” itu. Caramu membahagiakan dirimu (mungkin) berbeda dengan mereka, cara mereka menghabiskan uang (mungkin) berbeda denganmu dan kebutuhanmu dengan mereka? Jelas berbeda. Tidak perlu malu atau bersikap sungkan, liburan atau tidak bukan patokan kebahagiaan dan kesuksesanmu. Lebih baik menghabiskan uangmu dengan kebutuhanmu, ketimbang berhutang dan kebahagiaanmu hanya jadi ke-semu-an sesaat. Banyak diantara kita yang rela mengalahkan diri hanya untuk kebahgiaan semu, mengakulah. Kamu tidak sendiri kok. Hanya saja, lebih baik tidak melakukan itu lagi. Atau, belum kapok? Mau masuk Penjara?

Namun, orang lain di luar sana tidak selalu berfikir demikian, sebagian orang telah mengetahui sampai mana batas pertanyaan mereka apakah menyangkut privasi atau tidak. Jangan sampai pun kamu menjadi salah satu dari mereka yang berkata demikian, sadari kewajiban dan hakmu bukan untuk dirinya juga. Jika ada seseorang yang merasakan hal-hal di atas mereka itu bukan korban, bukan si lemah atau malah yang tidak merasakan adalah si kuat. Selalu ada masa dimana seseorang untuk menjadi lemah. Tidak apa-apa berlaku masa bodoh kepada dunia ketika mulai mengucilkanmu, tapi hindari untuk jadi bodoh karena tidak mepelajarinya. Kita tumbuh, berkembang, lalu mati, jangan berhenti ditengah lah. Habiskan masa itu dengan semua perasaan yang ketika mati tidak kau sesali lagi. Ingat! Kamu tidak sendiri, berbagi, menerima dan saling mendengar akan jadi solusi terbaik dimana pun kamu berada. Pahami situasi dan selalu berjuang. Fighting!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya