Cinta semasa sekolah, kenangan 4 tahun silam, saat di mana rasa suka atau kagum diartikan sebagai benih-benih cinta. Memang mungkin saja benar demikian, namun tak akan tumbuh dan berkembang jika rasa itu tak diikuti dengan kasih sayang. Dan semua tumbuh begitu saja tanpa tahu apa dan mengapa alasannya.

Itulah aku dan rasaku, atas rasa yang tak biasa, ketika ku hanya memandang di satu titik namun aku tak bisa menjelaskan ‘mengapa’, ketika menunggu dan kecewa itu sulit untuk ditinggalkan, ketika ketidakjelasanmu itu membuat aku penasaran dan bertahan, ketika masih mencintaimu setelah melepasmu adalah hal terbodoh yang pernah ku lakukan, dan saat itulah mencintaimu adalah rasa perih yang sengaja aku ciptakan.

Kamu, yang membuatku bertahan terlalu lama pada kata menunggu.

Aku pernah berharap pada sebuah ketidakpastian. Suatu ketika ketidakpastian itu menjadi pasti setelah aku menemukan jawaban pada dirimu. Ku pikir setelah memilikimu tak perlu lagi ada kata menunggu. Namun, saat itu juga menunggu menjadi satu nyawa bagiku untuk tetap bersamamu. Menunggu adalah satu-satunya nyawaku, ketika aku tak lagi menunggu maka matilah aku.

Advertisement

Kamu adalah orang yang terlalu mencintai diri sendiri.

Seharusnya cinta itu milik dua orang yang sama-sama memperjuangkan, bukan berjuang sama-sama. Milik orang yang berani mengatakan perasaannya, bukan orang yang diam dan menunggu perasaan itu datang lalu berbicara. Namun, mencintaimu membuatku sadar, bahwa aku hanya menunggu orang yang tak pernah sadar dan menyadari perasaan cinta. Dan ribuan kali mungkin aku mencoba mempertahankan perasaan ini, ribuan kali pula aku terluka. Karena aku dan kamu bukan sama-sama mempertahankan, tetapi hanya bertahan sama-sama. Bertahan pada status belaka, tanpa ada sebuah cinta yang benar-benar cinta. Atau hanya ada satu pihak yang terus mencoba bertahan sendirian. Dan pada akhirnya aku harus menyadari bahwa kamu adalah orang yang terlalu mencintai diri sendiri.

Jika mencintaimu adalah luka, maka aku adalah sebenar-benarnya cinta.

Cinta itu membahagiakan, bukan berarti dia tanpa luka. Kadang dengan luka itu, aku tahu bahwa betapa seriusnya cinta. Bahagia karena aku bisa merasakan bagaimana itu cinta yang bukan hanya sekedar suka. Bahagia dengan ujian cinta, karena mencintaimu adalah ujian terberat sepanjang perjalanan cintaku. Tak menyangka, mencintai harus sesakit ini. Tanpa cakap, tanpa berucap, namun perbuatan itu membuat luka yang sebenar-benarnya luka.

Advertisement

Jika cintamu bukan milikku, maka perlihatkanlah belatimu. Jika perasaanmu tak pernah ada untukku, maka bicaralah pada logikamu dan berfikirlah dengan perasaanmu. Jika mencintaimu adalah luka, maka aku adalah sebenar-benarnya cinta. Dan sekejam-kejamnya cinta, adalah ia yang terus mencintai namun kau tak pernah menganggapnya ada.

Kamu, sebuah kesalahan yang tak pernah ku mengerti.

Melepasmu, bukan berarti aku meninggalkanmu dan melupakanmu. Melepasmu pun bukan jawaban dari permasalahan yang ku hadapi. Malah justru semakin rumit.

Semakin melupakan, justru semakin bertambah ingat. Saat memulai melupakan, saat itu juga dengan campur tangan semesta membawa mu lagi dalam pandanganku.

Sejatinya, aku tak bisa membohongi perasaan ini. Walau dimata orang aku terlihat baik-baik saja. Namun, aku rasa tidak demikian pada hati dan pikiranku. Kini aku seperti mengutuk diriku sendiri, memenjarakan diri sendiri dalam sepi, sejak ku beranikan diri untuk melepasmu dan melepasmu membuatku menyesal. Aku tidak mengerti apakah ini semua terbaik bagi ku dan bagi mu atau tidak. Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, seharusnya aku sadar karena aku telah membebaskan sebuah hati yang telah ku tambatkan. Mengembalikan mu pada alam bebas, dan semestinya aku sadar itu akan membuatmu lebih leluasa. Namun, kenyataannya hati itu tak pernah ku bebaskan. Hati itu masih ada dan entah apa yang menjadi sebuah kesalahan. Nyatanya kesalahan itu tidak pernah aku mengerti.

Untukmu yang selama ini terlalu abu-abu bagiku. Aku hanya ingin tahu apa warnamu yang sebenarnya. Kamu tidak putih tidak juga hitam. Seolah berkata ‘ya’ namun ‘tidak’ yang ku rasa. Hari ini kamu beri satu keyakinan, esok kamu beri aku seribu alasan tuk melepaskan.

Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, mengapa aku tak pernah berhenti menunggu?

Jika melepasmu adalah sebuah kesalahan, mengapa aku belum bisa berdamai dengan luka ini?

Jika memang harus ku lepas, maka kamu kini ku bebaskan dan aku terus berjuang melawan kata ‘tapi’ dalam diri ini.

Dan jika masih ku diberi kesempatan, maka akan ku nanti penjelasanmu suatu saat nanti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya