Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang paling diminati oleh masyarakat di seluruh dunia. Mulai dari nama pemainnya, klub, pelatih, sampai turnamennya pun juga sudah sering melintas di telinga kita. Tak heran jika sepak bola terus menerus berkembang di setiap tahun dan musimnya.

Namun, dibalik semua keindahan itu, seringkali terjadi masalah dalam sepak bola, seperti dalam keputusan wasit. Contohnya gol indah dari Frank Lampard pada saat Inggris melawan Jerman yang akhirnya dianulir oleh wasit, gol tendangan ‘kalajengking’ dari Henrikh Mkhitaryan yang sebenarnya berbau offside, sampai kasus Diego Armando Maradona yang terkenal dengan tangan ajaibnya ketika mencetak gol ke gawang lawan.

Advertisement

Seperti yang kita ketahui, dalam suatu pertandingan sepak bola, pasti selalu ada yang namanya wasit yang bertugas sebagai pemimpin dari laga tersebut, Ia juga harus menegakkan keadilan. Di setiap pertandingan, akan selalu ada 4 wasit. Pertama, wasit tengah yang bertugas untuk mengatur jalannya pertandingan, yang dimana Ia harus selalu berlari mengikuti kemanapun dan kapanpun bola berpindah tempat.

Advertisement

Kedua, hakim garis kiri dan kanan yang menjaga garis pinggir atau bertugas dalam hal offside. Dan yang terakhir ada asisten wasit yang memiliki tugas untuk mencatat waktu yang telah terbuang, mengatur pertambahan waktu, serta memberitahukan jadwal pergantian pemain dari setiap klub yang sedang bertanding.

Pada akhirnya, FIFA bertindak dengan cepat. Mereka membuat teknologi canggih dan telah memperkenalkannya kepada dunia. Teknologi itu disebut sebagai Video Assistant Referee atau disingkat sebagai VAR, yang juga dianggap sebagai wasit ke-5 dalam pertandingan sepak bola.

Awalnya, VAR diperkenalkan pada Juni 2016. Turnamen bergengsi seperti Piala Dunia Antarklub pada tahun 2016, serta Piala Konfederasi di tahun 2017, telah menggunakan VAR untuk membantu semua wasit dalam menjalankan dan memimpin pertandingan.

Salah satu hasil kerja VAR dapat dilihat pada saat Tottenham Hotspur menjamu Rochdale dalam laga FA Cup di Inggris. Ketika Erik Lamela mengubah kedudukan menjadi 1-0 untuk Tottenham, wasit harus menggagalkan gol tersebut karena melihat Fernando Llorente yang merupakan rekan satu tim dari Erik Lamela, menarik baju salah satu pemain Rochdale, Harrison McGahey. Hal tersebut telah menguntungkan Rochdale, dan semua keberuntungan tersebut terjadi berkat adanya rekaman ulang dari VAR.

Setelah dianggap sukses dalam membantu jalannya pertandingan, VAR akhirnya diperbolehkan untuk dipergunakan dalam berjalannya Piala Dunia yang di selenggarakan pada tahun ini, karena telah mendapatkan izin resmi dari International Association Board atau IFAB.

IFAB merupakan suatu bagian dari FIFA yang dibuat untuk mengambil keputusan dalam dunia sepak bola. Tidak hanya itu saja, tujuan dibuatnya bagan tersebut adalah untuk membuat, menyusun, serta mengubah hukum dan peraturan yang ada dalam sepak bola. Mereka juga telah menyatakan bahwa VAR merupakan langkah bersejarah dan sangat tepat untuk menegakkan kebenaran.

Dengan adanya VAR, tidak akan terjadi lagi pro dan kontra dalam berjalannya pertandingan sepakbola, keputusan-keputusan yang dianggap tidak benar, dan yang paling penting adalah, teknologi ini bisa menghindari terjadinya pertengkaran antara para wasit, pemain, pelatih, dan pendukung. Tidak hanya VAR yang harus bekerja dalam menjunjung tinggi yang namanya sportvitas, tetapi para pemain juga harus jujur dalam bertanding.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya