Di zaman milenial ini sangat memprihatinkan pada kehidupan sosial di tengah masyarakat. Zaman tersebut tidak jauh dari kata remaja yang identik dengan kata "anak kemarin sore" yang masih belum mengerti hitam putihnya dunia. Pada umumnya remaja tidak berfikir secara real namun mereka berfikir secara emosi dan seringkai emosi tersebut masih labil.

Pada remaja sekarang ini sangat malas sekali untuk beraktivitas dan mereka lebih memilih menghabiskan waktunya di depan layar kaca bersinar kecil daripada olahraga fisik yang mengakibatkan banyak remaja kian semakin lupa akan aktivitas yang selayaknya dilakukan.

Advertisement

Seperti halnya beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa yang kini kian lebih mementingkan kepada teknologi kepada teknologi yang super canggih padahal semua itu yang menciptakan adalah tuhan mereka melalui para ilmuan-ilmuan terdahulu yang sampai sekarang remaja gunakan bukan pada batasnya melainkan melebihi batas.

Sosial remaja ditengah masyarakat kini sangat tenggang itu juga merupakan ulah dari remaja sendiri yang memakai alat canggih itu terlalu berlabihan. Misalnya ketika masyarakat mengadakan acara oba Agustusan yang diadakan di kampung mereka untuk memeriahkan hari kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia para masyarakat dari anak-anak sampai orang dewasa bahkan kakek-kakek dan nenek-nenek ikut andil dalam acara tersebut.

Tetapi dalam acara tersebut tidak bisa kompak sebagaimana mestinya dikarenakan para remaja sibuk dengan alat canggih yang bisa disebut juga batu tempel. Yang semestinya adaah membantu masyarakat dalam mengatur acara tersebut agar sukses.

Advertisement

Pada kenyataannya yang kini jadi perbincangan adalah interaksi sosial remaja dengan remaja maupun remaja dengan masyarakat kian putus dikarenakan batu tempel tersebut. Imbas dari interaksi sosial yang semakin tenggang adalah tercipta suasana individual yang seharusnya memiliki jiwa sosial yang tinggi demi persatuan dan kesatuan bangsa yang terdapat pada pancasila sila ke 3 yaitu persatuan indonesia.

Pada zaman sekarang kesadaran remaja dalam mengamalkan pancasila kurang dari ambang batas. Bahkan pancasila disepelekan oleh kalangan remaja karena mereka lebih mementingkan batu tempel tersebut daripada ideologi bangsa.

Remaja milenial kerap dengan kata selfie. Selfie yaitu kegiatan memotretkan kamera kepada diri sendiri dengan objek yang menarik. Oleh karena itu sebenarnya tidak aneh kalau siapapun yang beribur diakhir pekan, pasti ingin mengabadikan momen spesial tersebut. Namun kini hal tersebut jadi perdebatan. Seiring dengan menjamurnya panggunaan batu tempel, semakin banyak orang yang berselfie di tempat-tempat yang berbahaya seperti di jurang, bukit, puncak, tebing, dan lain-lain yang menjadi background menarik.

Ternyata di lain liburan, selfie juga dapat mengganggu banyak pihak. Diantaranya adalah selfie haji maupun umrah tersebut dapat mengganggu kekhusyukkan ibadah.

Di zaman milenial ini banyak sekali pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap berita hoax yang disebarluaskan ke berbagai media sosial. Misalnya akhir-akhir ini banyak berita HOAX yang beredar di masyarakat. Sebenarnya tidak hanya isinya yang berbahaya, namun penyebarannya juga membahayakan.

Apalagi jika berita tersebut berisikan kebohongan-kebohongan tentang negara dan seisinya. Keutuhan bangsa dan negara bisa terancam dibuatnya. Maka dari itu, tidak asal menyebarkan berita menjadi salah satu wujud rasa cinta pada tanah air ini. Mencari tahu dari suatu kebenarannya dan benar-benar memahami isi beritanya bisa menjadi langkah untuk menyelamatkan negeri.

Dalam media sosial sekarang ini banyak ditemui pembulian yang berujung maut. Awalnya pihak media sosial tersebut menggunakan media sosial sebagai ajang bersenang-senang. Tetapi dalam kenyataannya dalam menggunakan media sosial tersebut sudah melampaui batas yang berujung maut. Misalnya, pihak A berkenalan dengan pihak B melalui media sosial yaitu facebook lalu mereka sangat akrab sampai kenal terhadap keluarganya tetapi di kemudian hari pihak A mempunyai pacar yang sangat cantik.

Lalu pihak B mengetahui informasi tentang si A. Dengan iri hati si B ingin merebut si cewek tersebut dari genggamam temannya itu. Ternyata si B berhasil merebut si cewek tersebut dengan tidak sepengetahuan si A. Dan ternyata si A merasa curiga dengan perubahan si cewek tersebut. Akhirnya si A mengetahui perbuatan si B.

Dengan adanya perbuatan si B tersebut si A marah besar. Awalnya si A mengancam lewat percakapan di facebook tersebut. Lalu setelah lewat percakapan tersebut si A langsung pergi ke tempat keberadaan si B dengan membawa senjata tajam.

Lalu ketika kedua pihak tersebut bertemu perkelahian antar kedua pihak tidak bisa terbendung. Dan akhirnya pihak B meninggal dunia karena tertusuk benda tajam dari si A tersebut. Dalam contoh kejadian tersebut merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Dengan adanya kejadian itu di zaman milenial ini sangat rendah kesadaran masyarakat terhadap hak asasi manusia.

Bagi generasi milenial, memiliki ribuan teman di media sosial dan mendapat ribuan likes setiap kali mengunggah foto di media sosial seolah jauh lebih penting ketimbang memiliki teman di dunia nyata, teknologi menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Ketika berkumpul dengan teman-teman sebaya pun, generasi milenial cenderung lebih asyik dengan ponselnya sendiri daripada mengobrol seperti yang penulis singgung pada paragraf sebelumnya.

Teknologi benar-benar memisahkan manusia satu dangan manusia lainnya. Tak heran jika milenial dikatakan sebagai generasi yang individual . Dan bahayanya, hal tersebut dapat berujung pada kesepian dan gangguan mental seperti depresi bahkan sampai berujung maut yang bukan merupakan cerminan moral bangsa indonesia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya