Berani “Wawancarai” Kursi Kosong Menkes Terawan, Sosok Najwa Shihab Makin Dikagumi Publik

Najwa Shihab Terawan

Sudah enam bulan berlalu sejak pandemi corona merebak Indonesia pada Maret silam. Tetapi, hingga kini kondisi masih mengkhawatirkan dan jumlah kasus Covid-19 terus bertambah setiap hari. Padahal negara-negara lain sudah mulai membaik. Kondisi tersebut membuat banyak orang khawatir, terlebih Terawan Agus Putranto selaku Menteri Kesehatan RI dianggap kurang memberi penjelasan.

Advertisement

Untuk mengatasinya, Najwa Shihab mengundang Terawan untuk berbicara langsung di acara Mata Najwa. Dia menjelaskan bahwa undangan ini bukan bermaksud menantang, melainkan agar Terawan betul-betul bisa menjelaskan kondisi seputar pandemi pada masyarakat. Tetapi, Terawan malah “menghilang”.

Najwa Shihab mewawancarai kursi kosong sebagai pengganti Menkes Terawan. Pasalnya, Terawan menolak setiap kali diundang untuk menjelaskan kondisi pandemi

View this post on Instagram

Teman-teman, cukup banyak alasan mengapa diperlukan kehadiran pejabat negara untuk menjelaskan kebijakan yang berimbas kepada publik. Mengundang dan/atau meminta pejabat untuk menjelaskan kebijakan yang diambilnya adalah tindakan normal di alam demokrasi. Jika tindakan itu dianggap politis, penjelasannya tidak terlalu sulit. Pertama, jika “politik” diterjemahkan sebagai adanya motif dalam tindakan, maka undangan untuk Pak Terawan memang politis. Namun tak selalu yang politik terkait dengan partai atau distribusi kekuasaan. Politik juga berkait dengan bagaimana kekuasaan berdampak kepada publik. Kami tentu punya posisi berbeda dengan partai karena fungsi media salah satunya mengawal agar proses politik berpihak kepada kepentingan publik. Kedua, setiap pengambilan kebijakan diasumsikan adalah solusi atas problem kepublikan. Siapa pun bisa mengusulkan solusi, namun agar bisa berdampak ia mesti diambil sebagai kebijakan oleh pejabat yang berwenang, dan mereka pula yang punya kekuasaan mengeksekusinya. Menteri adalah eksekutif tertinggi setelah presiden, dialah yang menentukan solusi mana yang diambil sekaligus ia pula yang mengeksekusinya. Ketiga, tak ada yang lebih otoritatif selain menteri untuk membahasakan kebijakan-kebijakan itu kepada publik, termasuk soal penanganan pandemi. Selama ini, penanganan pandemi terkesan terfragmentasi, tersebar ke berbagai institusi yang bersifat ad-hoc, sehingga informasinya terasa centang perenang. Kami menyediakan ruang untuk membahasakan kebijakan penanganan pandemi ini agar bisa disampaikan dengan padu. Bedanya, media memang bukan tempat sosialisasi yang bersifat satu arah, melainkan mendiskusikannya secara terbuka. Keempat, warga negara wajib patuh kepada hukum, tapi warga negara juga punya hak untuk mengetahui apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan oleh negara. Warga boleh mengajukan kritiik dalam berbagai bentuk, bisa dukungan, usulan, bahkan keberatan. Padu padan dukungan, usulan, atau keberatan itu tak ubahnya vitamin yang — kadang rasanya dominan pahit tapi kadang juga manis — niscaya menyehatkan jika disikapi sebagai proses bersama. #MataNajwaMenantiTerawan #CatatanNajwa

A post shared by Najwa Shihab (@najwashihab) on

Selama pandemi, Najwa telah mewawancarai sejumlah menteri untuk memberi informasi yang jelas pada masyarakat. Tetapi, Terawan yang merupakan Menteri Kesehatan menolak undangannya berkali-kali. Sosoknya memang sudah cukup lama “menghilang” setelah dikritik publik karena dianggap menyepelekan penanganan Covid-19 sehingga kondisi Indonesia jadi mengkhawatirkan.

Advertisement

Pada akhirnya, Najwa mewawancarai kursi kosong sebagai pengganti Terawan. Publik menganggapnya sebagai sindiran yang cerdas. Selama proses wawancara itu, Najwa mengajukan sejumlah pertanyaan pada kursi kosong alias Terawan. Misalnya tentang jumlah tes corona yang belum memenuhi target, banyaknya kematian tenaga kesehatan, data kasus corona yang berbeda antara pemerintah pusat dan daerah, hingga resapan anggaran kementerian yang masih rendah.

Keberanian Najwa Shihab membuat banyak orang kagum, terutama saat dia mempertanyakan kesiapan Terawan untuk mundur. Bahkan artis dan figur publik ikut mendukung

Komentar di Instagram via www.instagram.com

“Yang jelas bukan hanya desakan ke presiden, tapi publik di antaranya lewat petisi meminta kebesaran hati Anda untuk mundur saja. Siap mundur Pak? Atau bagaimana Anda bisa meyakinkan publik bahwa memang masih layak menjalankan atau menduduki posisi yang berat ini?” tanya Najwa.

Advertisement

Pertanyaan tersebut diajukan Najwa karena banyak menteri kesehatan dari negara-negara lain yang mundur akibat penangan pandemi. Misalnya menteri kesehatan dari New Zealand, Polandia, Brazil, Pakistan, dan masih banyak lagi. Najwa pun mempertanyakan apakah Terawan siap mencontoh tindakan itu.

Keberanian Najwa membuat publik kagum. Bahkan sejumlah artis seperti Tompi dan Kunto Aji turut memberikan dukungan. Di Twitter, nama Najwa dielu-elukan karena telah menunjukkan sebuah keberanian dan menjadi contoh terutama bagi kaum perempuan. Hingga akhirnya nama Najwa, Terawan, dan hashtag #MataNajwaMenantiTerawan menjadi trending di media sosial.

Namun, hingga kini Terawan maupun Kementerian Kesehatan belum memberi tanggapan terbuka pada undangan Najwa. Semoga akhirnya Terawan mau tampil di depan publik untuk menjelaskan realita terbaru seputar pandemi di Indonesia. Dengan begitu, diharapkan penanganan Covid-19 bisa menjadi lebih baik.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE