Berkarir Hingga ke Amerika dan Korea, Joe Taslim Ungkap Perbedaan Syuting Film di Hollywood dan Asia

Pengalaman syuting Joe Taslim

Makin ke sini, kualitas aktor Indonesia terbukti mampu bersaing dengan para aktor kelas dunia. Sebut saja segelintir nama seperi Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Joe Taslim yang dalam beberapa tahun belakangan moncer berkarir hingga ke Hollywood, salah satu mata angin perfilman dunia.

Advertisement

Untuk nama yang terakhir, ia sekarang sedang terlibat dalam fim laga sejarah berjudul ‘The Swordsman’ besutan sutradara Korea Selatan, Choi Jae-hoon yang dijadwalkan tayang akhir Oktober 2020 di Indonesia. Sebelumnya, Joe Taslim pernah membintangi beberapa judul film Hollywood, seperti ‘Dead Mine’ (2012), ‘Fast & Furious’ (2013), dan ‘Star Trek Beyond‘ (2016). Nah, karena sudah mencicipi proses syuting di Asia dan Amerika, aktor sekaligus atlet judo ini membeberkan pengalaman syuting di dua benua berbeda ini.

Joe Taslim mengaku suasana syuting di Asia lebih kekeluargaan ketimbang di Hollywood

Joe Taslim (dok. IG/joe_taslim) via www.instagram.com

Secara lugas, Joe Taslim mengatakan perbedaan yang paling kentara dari syuting di Hollywood dan Asia adalah pendekatan industri perfilmannya. Menurutnya, Hollywood sebagai industri raksasa punya suasana yang berbeda dengan pendekatan yang cenderung bisnis. Sementara di Asia, termasuk Indonesia dan Korea Selatan, ia mengaku suasana yang dibangun saat syuting adalah kekeluargaan.

“Hollywood sangat berbeda karena industrinya sudah raksasa, dan ada pendekatan dari segi bisnis. Indonesia dan Korea ada kemiripan bagaimana suasana seperti sebuah keluarga begitu kuat, jadi kami tidak menganggapnya seperti bisnis,” kata Joe dalam jumpa pers virtual, Senin (12/10) seperti dilansir dari CNN.

Advertisement

Selain itu ia menambahkan produksi film di Korea Selatan memiliki kesamaan lain dengan Indonesia, yakni menjunjung rasa hormat tinggi kepada semua orang yang terlibat. Meski memiliki banyak perbedaan, Joe mengaku Hollywood memiliki keunggulan yang belum dimiliki proses syuting di Indonesia. Yakni cara kerja yang cepat dan efisien. Ia menjelaskan, orang-orang di Hollywood harus bisa merampungkan syuting delapan jam pada satu hari, karena jika overtime akan memakan banyak biaya tambahan.

The Swordsman merupakan salah satu proyek terberat Joe Taslim karena harus belajar bahasa Korea

Joe Taslim dalam salah satu adegan film The Swordsman (2020) (dok. IG/joe_taslim) via www.instagram.com

Sedikit menyinggung film anyarnya yang juga dibintangi Jang Hyuk, Joe mengatakan film The Swordsman merupakan salah satu proyek terberatnya. Karena selain harus mempelajari tentang dinasti-dinasti di Korea yang akan jadi bagian film, ia juga harus belajar bahasa Korea sebab akan ada dialog dengan bahasa tersebut. Joe menghabiskan waktu tiga bulan produksi untuk menguasai bahasa Korea, dengan fokus utama mengatakan semua dialog, memahami maksud yang akan ia katakan, dan menyelaraskan cara penyampaian. Dalam hal ini, ia mengaku dibantu oleh seluruh tim produksi yang memang suportif dan ingin Joe mendapatkan hasil terbaik.

Nah, buat kamu yang penasaran, film The Swordsman bercerita tentang kondisi Korea setelah raja dari Dinasti Joseon, Gwanghaegun digulingkan, dan seorang pendekar pedang terbaik Tae Yool, yang diperankan oleh Jang Hyuk, seketika lenyap. Joe Taslim sendiri akan berperan sebagai Gurutai, yakni seorang anggota dari keluarga kekaisaran Qing. Selain Joe Taslim dan Jang Hyuk, film ini juga dibintangi oleh Kim Hyun-soo, Jeong Man-sik, Lee Na-kyung, Lee Min-hyuk, Kim Yung-tae, Choi Jin-ho, serta Jang Hyun-sung.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

colour my life with the chaos of trouble

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE