Memahami Background Check Calon Karyawan. Proses ‘Dikepoin’ yang Tentukan Langkahmu ke Depan

background check calon karyawan

Saat menjalani proses rekrutmen, kejujuran adalah kunci. Selain hal ini akan menguntungkanmu karena mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian dan pengalaman, kamu juga tak perlu repot membuat skenario yang malah bikin gagal di tengah jalan. Pasalnya ternyata HR memiliki seribu mata untuk mengetahui dirimu yang sebenar-benarnya. Jadi, selain melakukan wawancara, mereka juga akan melakukan background check untuk mengetahui latar belakang profesional yang kamu miliki.

Advertisement

Banyak yang bisa dilakukan, mulai dari ngepoin media sosial sampai mengirim pesan ke mantan atasanmu. Kalau hubunganmu nggak baik, ya siap-siap saja deh. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang proses pengecekan yang satu ini, kita simak yuk penjelasannya!

Kamu mungkin sudah mulai ada gambaran mengenai proses pengecekan background yang satu ini, namun ada penjelasan lebih detailnya lo

Dilansir dari The Balance Career, background check calon karyawan adalah sebuah proses untuk mengulas latar belakang komersial, kriminal, pekerjaan, hingga kondisi finansial seseorang. Walaupun sudah dilakukan wawancara namun background check ini menjadi proses penting untuk memastikan apa yang dipasang pelamar di CV dan dikatakan saat wawancara benar adanya. Hal ini juga dilakukan agar perusahaan tak salah mempekerjakan orang yang ternyata pernah melakukan kriminal yang melewati batas atau bahkan terjerat kasus tertentu.

Secara umum, hal yang dicek ketika proses ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Contohnya jika kamu melamar di sebuah bank maka biasanya akan ada pengecekan apakah pernah ada kasus seperti penggelapan uang hingga pencurian yang akan rawan dan merugikan perusahaan.

Hal-hal yang dicek biasanya berbeda tergantung dari posisi serta perusahaan yang sedang dilamar, metodenya pun berbeda juga

Ada banyak yang bisa dilakukan oleh HR untuk melakukan background check seperti melihat isi media sosialmu hingga menelpon pihak ketiga, biasanya atasan di perusahaan sebelumnya atau kolega ketika kerja di sana. Untuk itulah biasanya kamu diminta untuk menulis kontak referensi di form yang diisi sebelum wawancara.

Hal yang ditanyakan saat menelpon meliputi pengecekan fakta, seperti apa kamu di kantor sebelumnya, hingga seberapa disukai kamu saat masih kerja di sana. Saat inilah informasi tentangmu dikorek termasuk jika ada hal-hal yang mencurigakan. Jika atasan atau kolegamu memberikan penilaian yang buruk maka kesempatanmu untuk diterima bisa berkurang.

Untuk menghadapi proses yang satu ini, kamu tak cukup diam saja tapi ada beberapa persiapan yang harus dilakukan

Advertisement

Udah jujur belum ya?/ Credit: assumption111 via www.freepik.com

Agar peluangmu tak berkurang atau justru malah bertambah besar, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat proses ini akan dilakukan antara lain meminta izin dulu kepada mantan atasan atau kolega saat akan menjadikan mereka referensi sehingga mereka bisa tahu lebih dulu dan tidak kaget serta malah berkata buruk tentangmu.

Kemudian yang tak kalah penting adalah media sosial, tak peduli seberapa manis kamu di hadapan pewawancara jika unggahan media sosialmu penuh dengan SARA maka persona itu yang dilihat oleh para perekrut. Jangan lupa, yang terpenting adalah untuk selalu jujur dalam menyampaikan informasi sehingga perekrut tidak menemui  kejanggalan di tengah jalan dan malah jadi bumerang bagi diri sendiri.

Jika kamu mencantumkan informasi yang benar, mengatakannya dengan jujur tanpa dibuat-buat, serta berkelakuan baik selama bekerja di kantor sebelumnya maka proses background check seharusnya tak membuatmu khawatir. Jika lolos tahap ini maka kemungkinan peluangmu lolos ke depannya akan semakin besar.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE