6 Gaya Belajar Siswa Korea Selatan yang Patut Ditiru. Pindah Materi Tiap 20 Menit itu Perlu

Gaya belajar

Masing-masing orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Tapi tak ada salahnya juga jika mau menyontek atau menjajal gaya belajar orang lain. Barangkali lebih efektif dan malah membuat proses belajar jadi lebih nyaman. Selain dari teman sekelas, referensi gaya belajar pun bisa didapatkan dari siswa mancanegara, Korea Selatan misalnya. Mengutip laman BBC, Korea Selatan memang dikenal dengan sistem pendidikannya yang ketat. Bahkan sejak zaman Joseon, pendidikan diyakini sebagai satu-satunya jalan untuk memperbaiki nasib dan naik status sosial. Tak heran jika para siswanya rela mati-matian belajar demi masuk universitas impian.

Advertisement

Terlepas dari kontroversi yang ada, nyatanya gaya belajar yang efektif dari siswa Korea ini terbukti bisa membuat mereka jadi salah satu siswa terpintar di dunia, mengutip laman Forbes. Dari banyak gaya belajar siswa, berikut yang kerap diterapkan oleh pelajar Korea. Pantas saja mereka pintar.

1. Demi mewujudkan gaya belajar yang sehat, para siswa di Korea Selatan selalu disiplin waktu

disiplin waktu | credit: Kyle Gregory Devaras via unsplash.com

Gaya belajar anak Korea Selatan bisa dibilang ekstrem. Mereka menggunakan 13 jam untuk belajar, 7 jam untuk tidur, dan sisanya digunakan untuk hiburan, melansir laman Korea Times.  Waktu tersebut sepertinya sulit diikuti oleh siswa di Indonesia, makanya kamu perlu melakukan penyesuaian.

Kamu perlu pintar mengatur jam belajar dan jam tidur dengan benar supaya tubuh tetap fit saat menerima pelajaran di hari berikutnya. Durasi waktunya bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Selama bisa disiplin dan menaati waktu yang sudah ditentukan, niscaya tubuh pelan-pelan akan mengikuti ritmenya dan mulai terbiasa.

Advertisement

2. Belajar di ruang yang nyaman pun merupakan kunci sukses para siswa Korea Selatan

ruang belajar yang nyaman | credit: apartmenttherapy via www.apartmenttherapy.com

Bisa dibilang, gaya belajar adalah strategi awal untuk meraih kesuksesan. Jadi, wajar apabila masing-masing siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Kalau kamu belum tahu gaya belajarmu, lakukan tes gaya belajar secara daring terlebih dulu. Jika sudah ketemu, mulailah belajar di ruang yang nyaman.

Mengutip laman College Info Geek, siswa akan lebih kreatif jika belajar di cahaya yang hangat, sekitar 3000K. Sedang, di bawah pencahayaan yang dingin sekitar 6000K, siswa cenderung lebih bisa berkonsentrasi. Bahkan menurut penelitian dari University of Helsinki and Lawrence Berkeley National Laboratory, rata-rata orang akan memiliki tingkat produktivitas tertinggi jika berada dalam ruangan bersuhu sekitar 22 dan 25 derajat Celcius. Apalagi jika ruangannya didesain khusus untuk belajar, jadi nggak akan mudah teralih fokusnya. Perlu diingat bahwa aturan ini berlaku untuk jenis gaya belajar apa pun, baik itu gaya belajar kinestetik maupun gaya belajar auditori.

3. Menggabungkan dua gaya belajar bisa jadi alternatif untuk meningkatkan fokus dan produktivitas

gaya belajar analitik | credit: Tran Mau Tri Tam via unsplash.com

Dari 8 macam gaya belajar, kamu bisa mengabungkan beberapa di antaranya. Tapi pilihlah yang saling berkaitan dan saling mendukung agar tak bertabrakan. Misalnya saja menggabungkan gaya belajar analitik dan gaya belajar visual, supaya pembelajarannya makin efektif dan mendapatkan hasil maksimal. Meski begitu, cara ini belum tentu efektif untuk beberapa orang, jadi tak perlu dipaksakan.

Advertisement

4. Untuk mengukur kecepatan dalam menyelesaikan soal, siswa di Korea Selatan kerap menggunakan timer saat belajar

pakai timer | credit: koreaherald via www.koreaherald.com

Kebiasaan ini mungkin jarang dilakukan oleh para murid di Indonesia, padahal lumayan efektif untuk mengukur kemampuan dan kecepatan menyelesaikan. Kamu pun dapat mencoba contoh gaya belajar siswa dari para siswa Korea Selatan ini.

Caranya, cukup sediakan stopwatch saat belajar dan pantau waktunya. Dari sini kamu akan mengetahui secepat apa kemampuanmu menyelesaikan soal sekaligus bisa mengukur durasi ketahananmu saat belajar. Bisa dipraktikkan juga pada mereka yang memiliki gaya belajar impulsif alias pengin cepat kelar.

5. Rata-rata siswa di Korea Selatan hanya membaca atau mengerjakan satu subjek dalam 20 menit saja. Setelah 20 menit, mereka akan berganti mengerjakan yang hal lain, kecuali kalau memang sedang mengkhususkan waktunya untuk mempelajari satu materi tertentu

belajar 20 menit | credit: Andrea Piacquadio via www.pexels.com

Mengutip laman Republika, Direktur Pusat Neurosains Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dr Rizki Edmi Edison PhD, menyebut bahwa kemampuan optimal otak manusia dalam menyerap pelajaran hanyalah pada 20 menit pertama, setelah itu kemampuannya akan menurun. Untuk itu, baiknya jangan paksa diri belajar terlalu lama karena mungkin otak sudah cukup lelah. Lebih baik istrihat dulu lalu pindah mempelajari topik lainnya.

6. Masyarakat Korea Selatan gemar mencatat apa yang tidak ia ketahui. Perilaku ini kerap muncul di dalam beberapa K-drama lo!

mencatat yang perlu | credit: Green Chameleon via unsplash.com

Saat belajar, mungkin kamu akan menemukan kosakata baru yang nggak dimengerti. Cobalah cari tahu lalu tulis di buku catatan mengenai hasilnya supaya lebih mudah diingat. Dengan begitu, wawasanmu akan bertambah seiring banyaknya catatan yang dipunya. Ets, jangan salah, metode ini ternyata pun masuk dalam ciri-ciri gaya belajar visual lo! Mengingat dari apa yang ditulis dan dilihat.

Walau sebetulnya gaya belajar cukup krusial, sayangnya hingga saat ini masih ada yang belum mengerti dan mempertanyakan apa itu gaya belajar. Padahal dengan mengetahui gaya belajar yang cocok, kamu akan lebih mudah menyerap materi pembelajaran. Terutama untuk topik-topik yang penting dan menarik. Nah, untuk mendukung gaya belajarmu, barangkali enam trik dari siswa Korea di atas bisa membantu. Yuk, praktikkan!

Gelombang resesi mulai menghampiri, bagaimana kalian mempersiapkan diri menghadapinya? Isi survei berikut ini.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Helga-nya Arnold!

Editor

salt of the earth, light of the world

CLOSE