Kisah Sukses Jan Koum, sang Pendiri WhatsApp. Sempat Jadi Gelandangan dan Antre Makan Bersubsidi

kisah sukses jan koum

Coba cek apakah di telepon pintarmu, temanmu, orang tua, atau tetangga ada yang tidak terpasang aplikasi WhatsApp?Kemungkinan besar aplikasi yang satu ini sudah terpasang di sebagian besar telepon pintar kita. Tentu alasannya karena praktis dan memiliki fitur yang cukup lengkap untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik untuk berbisnis maupun ngobrol biasa saja. Tak hanya mengirim pesan, WhatsApp juga bisa digunakan untuk menelpon dan video call. Makanya, penemuan ini menjadi sebuah kesuksesan besar bagi pendirinya.

Advertisement

Ia adalah Jan Koum yang kini jadi pengusaha paling kaya nomor 3 di Amerika, dengan usia di bawah 40 tahun. Akan tetapi, jangan dikira ia berasal dari keluarga berada. Ternyata ia pun pernah mengalami masa pahit di mana untuk makan saja harus menunggu bantuan pemerintah. Nah, kita simak yuk cerita selengkapnya!

Jan Koum kecil hidup dalam keadaan ekonomi pas-pasan dan karena keadaan politik maka kehidupannya juga terancam

Pernah hidup susah/ Credit: Fortune via fortune.com

Jan Koum lahir pada tanggal 24 Februari 1976 di Ukraina, di daerah yang fasilitasnya tergolong serba terbatas baik untuk listrik maupun mandi yang harus mengantre di tempat mandi umum. Belum lagi, dilansir dari Biografiku, Jan Koum berasal dari keluarga Yahudi yang pada masa itu keadaan politik sedang bergejolak sehingga ia dan keluarga harus berhati-hati karena identitas tersebut.

Disebabkan oleh keadaan politik tersebut akhirnya ia pindah ke Amerika bersama ibu dan neneknya, di sana hidupnya makin kekurangan

Sempat sangat miskin/ Credit: Fortune via fortune.com

Karena keadaan politik yang makin bergejolak, akhirnya ia memutuskan ke Amerika pada tahun 1990 tanpa ayahnya. Di usianya yang masih 16 tahun, ia harus mulai bekerja keras. Sementara sang ibu mengasuh anak, ia menjadi tukang sapu di toko untuk memperoleh penghasilan yang ternyata tetap saja kurang. Bagian terburuknya adalah untuk makan, ia rela mengantre bersama gelandangan dan tunawisma untuk memperoleh makanan subsidi dari pemerintah. Ia juga tak jarang tidur di tempat umum tanpa alas, tanpa atap.

Advertisement

Walau harus bersusah payah, Jan Koum berhasil sekolah dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Sayangnya ia ternyata badung walaupun sebenarnya cerdas

Nakal tapi cerdas/ Credit: Daily Motion via www.dailymotion.com

Dilansir dari beberapa sumber, ternyata Jan Koum adalah sosok yang nakal karena sulit beradaptasi dan sering berkelahi. Padahal sebenarnya ia anak yang cerdas lo, pun ketertarikannya terhadap pemograman sudah ia tunjukkan di bangku sekolah ini. Ia sering belajar otodidak mengenai topik ini melalui buku-buku bekas dan berhasil bergabung dengan grup hacker Woowo. Dengan pengalamannya ini, ia kuliah di San Jose University sambil bekerja sebagai seorang penguji sistem keamanan komputer di Ernst & Young.

Karier Koum di bidang teknologi semakin terasah ketika ia bergabung dengan Yahoo, tapi sebelum kesuksesannya mendirikan WhatsApp ia pernah ditolak Facebook lo

Sekarang kaya/ Credit: Geek Nack via www.geeknack.com

Dengan bekal tentang komputer, Koum mantap mendaftar Yahoo atas saran pegawai bernama Brian Acton yang kemudian jadi teman dekatnya. Di sana ia memegang jabatan sebagai programmer dan mengurus iklan. Akhirnya ia memutuskan untuk drop out dari kampusnya karena ia sempat kena marah oleh CEO Yahoo kala itu. Ia dan Brian memutuskan mundur dari Yahoo 7 tahun setelahnya, lalu mengambil gap year untuk liburan dan mendaftar menjadi pegawai Facebook, sayangnya mereka ditolak.

Akan tetapi, ia malah mendapatkan ide untuk menciptakan WhatsApp ketika mengutak-atik iPhone. Setelah melalui berbagai drama akhirnya terciptalah aplikasi ini yang merangkak naik sedikit demi sedikit sampai akhirnya aplikasi ini malah dibeli oleh Facebook yang membuat kekayaannya melonjak sebanyak Rp80 triliun dan ia memutuskan untuk mundur di tahun 2018. Kini dilansir dari Forbes kekayaanya mencapai Rp150 triliun dan ia menjadi pengusaha paling kaya nomor 3 di Amerika dengan usia di bawah 40 tahun.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE