Jepang, sebuah negara maju di Timur Asia. Di mana kecanggihan teknologi dan keagungan budaya bisa berjalan berdampingan. Negara yang berpenduduk sekitar 126 juta jiwa ini telah lama dikenal karena sumber daya manusianya yang begitu cemerlang. Tak hanya itu, penduduk Jepang juga terkenal berumur panjang.

Selama lebih dari 50 tahun sejak 1963, pemerintah Jepang bahkan selalu mengapresiasi warganya yang dapat mencapai usia 100 tahun dengan sertifikat dan hadiah. Disamping sebagai ukuran tingginya kesejahteraan sosial di Jepang, penghargaan tersebut juga seakan-akan berlaku sebagai insentif supaya warga Jepang terus menjaga kesehatan dan meningkatkan mutu hidupnya.

Yatsuro Koide, paling tua di Jepang ya biasanya juga paling tua di dunia via cdn1.pri.org

Berbeda dengan realitas kebanyakan negara lain yang angka harapan hidup warganya terus menurun di tengah makin banyaknya wabah penyakit dan permasalahan urban, jumlah warga Jepang yang semakin sehat dan panjang umur tiap tahunnya justru melonjak tajam. Dari hanya 153 penerima penghargaan 100 tahun, sebagaimana istilah populer untuk menyebut mereka yang berhasil melewati usia 100 tahun sebagai centenarians atau manusia satu abad, di tahun 1963 hingga sampai lebih dari 60.000 centenarians di tahun 2015 kemarin.

Makanya kali Hipwee bakal mengulas rahasia di balik kesuksesan pemerintah dan warga Jepang menjaga standar dan kualitas hidup yang sangat tinggi. Siapa tahu bisa jadi inspirasi pagi untuk membuat hidupmu makin sehat dan bermutu.

1. Jadi kepercayaan turun menurun di Jepang kalau hidup manusia itu haram hukumnya jika sampai merusak lingkungan. Meski modern, kekayaan alam yang meredam polusi udara harus terus dijaga

Advertisement

Menjaga tradisi sama pentingnya dengan menjaga alam via fareastfling.files.wordpress.com

Sekarang semisal kamu tanya orang Jepang itu sebenarnya mayoritas agamanya apa, lebih 80% dari mereka bakal jawab gak punya agama. Tapi sebenarnya mereka masih sering ke kuil dan mengadakan ritual tradisional dari ajaran kepercayaan kuno yang di sebut Shinto. Shinto ini pernah jadi agama nasional yang diwajibkan untuk semua warga di era Meiji, makanya nilai dan prinsip turunannya gak bisa dilepasin dari kehidupan orang Jepang sampai sekarang.

Shinto gak punya kitab suci ataupun Tuhan tunggal yang Maha Esa, mereka menyembah kami atau dewa yang dipercayai mewujudkan diri dalam kekuatan alam seperti angin, air, pohon, atau bahkan hewan. Makanya, menjaga keseimbangan alam adalah prinsip utama dalam kehidupan mayoritas masyarakat Jepang.

Akibat prinsip hidup turun menurun itu, sekarang Jepang menjadi salah satu negara paling bersih dan bebas polusi. Wajar aja banyak orang sehat yang gak terkena paparan polusi. Kita yang ngaku punya kitab suci dan Tuhan seharusnya juga lebih giat menjalankan ajaran agama masing-masing yang pastinya mengatur bab kebaikan alam ya.

2.  Salah satu wujud utama penghargaan Jepang terhadap lingkungan dapat dilihat dari pilihan favorit moda transportasi warganya. Di Jepang, bergerak itu mutlak harus efisien dan minim bahan bakar

Rendah energi dan kaya manfaat via www.travelandleisure.com

Bukan pernyataan berlebihan jika mengatakan bahwa jantung kehidupan orang-orang Jepang terletak di rel kereta api. Semua aktivitas warga Jepang ini bergantung pada kepercayaan tinggi pada ketepatan jadwal kereta-kereta yang akan membawa mereka ke tujuan. Harga properti di Jepang pun sangat bergantung pada dekat atau jauhnya letak properti tersebut dari stasiun kereta terdekat.

Kereta yang dengan efisien dapat membawa beribu masa dalam sekali angkut adalah moda transportasi utama yang tak tergantikan di Jepang. Pajak kendaraan bermotor yang selangit semakin menetapkan hati orang Jepang untuk menggunakan transportasi publik ini. Pilihan untuk bermobilisasi dengan kereta ini jugalah yang berkontribusi menciptakan kebiasaan terkenal warga Jepang lainnya untuk berjalan kaki.  Sistem transportasi yang minim polusi sekaligus memaksa warga untuk terus berolah raga, pantas saja ya orang Jepang bisa panjang umur.

3. Tidak terbatas hanya menghargai lingkungan, sejak usia dini orang Jepang sudah dilatih untuk memiliki penghargaan tertinggi terhadap makanan yang mereka masukan dalam tubuh 

Generasi muda yang bangga jadi petani via cdn.modernfarmer.com

Jepang adalah salah satu kasus negara yang selalu sukses bangkit dari keterpurukan, perang, dan ketiadaan sumber daya. Dibandingkan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, Jepang justru miskin besaran lahan subur untuk dapat menghasilkan bahan pangan. Dibandingkan solusi instant untuk mengimpor, kondisi tersebut justru makin mendorong orang Jepang untuk putar otak menciptakan teknologi terbaru yang memungkinkan mereka mengakali keterbatasan alam tersebut. Jadilah Jepang sekarang negara termaju dalam teknologi pertanian.

Tapi hasil yang tidak didapat dengan mudah tersebut, penghargaan terhadap makanan tampaknya selalu dimengerti dan terus diajarkan ke generasi penerus. Sejak usia sekolah dasar, anak-anak di Jepang sudah mendapatkan kurikulum memasak dan bertanggungjawab mengelola sendiri proses persiapan makan siang mereka tiap harinya.

Mengajari untuk bertanggungjawab atas asupan makanan diri sendiri via img.washingtonpost.com

Tiap harinya ada grup piket yang bertugas melayani teman-teman sekelasnya bak ibu kantin. Aturan utama untuk menghabiskan makanan yang kamu ambil adalah mutlak, kelas yang selalu menghabiskan jatah makanannya akan diberi hadiah sedangkan yang gagal akan mendapat hukuman. Bahkan sampai kuliah atau kerja, orang-orang Jepang terbiasa menyiapkan makanan sendiri dari rumah. Terbukti dengan besarnya kultur bento atau bekal makan siang di Jepang.

Pelajaran mengenai pengolahan makanan dan etika makan ini mungkin disepelekan di negara lain. Tapi orang Jepang mengerti betul bagaimana kebiasaan makan anak-anak ini nantinya akan sangat berpengaruh dalam membentuk masa depan mereka. Tidak saja terbatas dalam masalah kesehatan pribadi, tetapi juga bagaimana negara yang terbatas sumber daya alamnya ini terus dapat menjamin pasokan makanan berkualitas untuk warganya.

4. Menjaga kebersihan lingkungan dan makananan saja sudah heboh, apalagi urusan kebersihan tubuh mereka sendiri. Sampai banyak orang luar negeri beranggapan orang Jepang itu rada berlebihan

Salah kaprah dikira sakit via www.japantimes.co.jp

Kalau nyebrang di perempatan ikonis Shibuya, kamu pasti bakal kaget dengan pemandangan umum yang buat kamu merasa – ini apa semua orang Jepang lagi kena flu ya, pada pake masker semua? Jangan parno duluan takut ketularan karena realitasnya justru sebaliknya.

Orang Jepang itu sangat berdedikasi menjaga kebersihan pribadinya, supaya tidak tertular penyakit dan juga karena tidak ingin menulari orang lain. Jadi ya setiap saat pakai masker dan bawa hand sanitizer. Kebiasaan orang memastikan bahwa dia bersih dari kotoran atau kuman setiap bertemu orang lain mungkin juga berakar dari kepercayaan Shinto yang menekankan ritual pensucian hampir di awal semua ritualnya.

Sudah lingkungannya bersih dari polusi, olah raga tiap hari, makananya sehat dan seimbang, ditambah pertukaran kuman serta virus di level minimal, sama sekali gak heran kalau orangnya hidup sampai 100 tahun.

5. Mungkin juga orang Jepang bisa panjang umur sampai 100 tahun karena mereka tahu betul bagaimana menghargai dan menggunakan waktunya

Memuliakan ketepatan waktu via www.japantimes.co.jp

Salah karakter orang Jepang yang tersohor adalah ketepatan waktu. Jam ngaret adalah jam yang sama sekali gak punya tempat di Jepang. Kalau kereta telat semenit aja, pihak pengelola wajib buat pengumuman permintaan maaf resmi yang dikumandangkan di seantero stasiun. Semakin resmi urusan terkait, semakin ngeri konsekuensinya kalau kamu telat.

Penghargaan terhadap waktu itu tidak hanya terbatas dalam artian jam meeting atau jadwal kereta, tapi juga bagaimana mereka ingin mendedikasikan hidupnya terhadap suatu komitmen. Karena sangat menghargai waktu, mereka tidak suka jadi kutu loncat dalam hal pekerjaan. Mereka justru lebih menyukai konsep jadi pekerjaan seumur hidup, dalam artian hanya mendedikasikan hidupnya untuk satu pekerjaan dan menjadi ahli terbaik.

Semua pekerjaan itu penting dan terhormat via nypdecider.files.wordpress.com

Makanya jangan kaget dengan titel pekerjaan orang-orang Jepang yang seringkali gak konvensional. Ada ahli buat miniatur makanan plastik, ahli buat pisau, sampai dewa ramen dengan bayaran selangit. Si ahli ramen misalkan, dedikasinya totalnya untuk makan ramen tiga kali sehari dari umur belia menjadikannya ahli ramen no.1 di Jepang, dimana rekomendasi maupun reviewnya bisa mensukseskan atau menggagalkan sebuah restoran.Dan semua itu adalah pekerjaan legit yang dihargai oleh masyarakat.

Mereka yang tahu benar apa yang ingin dilakukan dengan waktu yang dimiliki akan mendapat kepuasan yang jauh lebih besar dari pencapaian-pencapaian mereka, dibanding mereka yang bersikap acuh. Maka dari itu lansia-lansia di Jepang tampaknya jarang terlihat linglung karena mereka memiliki fokus yang jelas akan segalan pencapaian dalam hidupnya.

6. Semua kualitas-kualitas orang Jepang itu juga disokong oleh dukungan luar biasa yang ditunjukan pemerintah terhadap kelompok penduduk terbesarnya. Makanya gak heran kalau jadi lansia di Jepang itu terjamin makmur

Sejahtera sampai tua walau hidup sendiri via bembu.com

Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Jepang secara keseluruhan adalah populasi yang sedang menua. Tahun 2014 kemarin persentase penduduk lansia mencapai 24%, persentase yang diperkirakan akan berlipat duakalinya di tahun 2060. Kondisi ini merupakan gabungan antara semakin sehat dan panjang umurnya orang-orang tua di  Jepang dan generasi mudanya yang semakin enggan bereproduksi. Untung pemerintahnya sigap menghadapi situasi ini.

Asuransi kesehatan, rumah jompo, dan fasilitas standar lain ya jangan ditanyakan lagi. Yang hebat adalah komitmen pemerintah untuk selalu mengintegrasikan pertimbangan terhadap kelompok penduduk usia lanjut ini ke dalam setiap kebijakan yang dibuat. Misalkan dalam masa restorasi selepas gempa besar Sendai 2011. Bekerjasama dengan perusahaan paket pengiriman dan supermarket setempat, pemerintah lokal membuat program untuk menjaga kesehatan dan pasokan makanan.

Tiap harinya sembari mengirimkan paket, petugasnya juga mendapat tugas mengelilingi rumah warga senior untuk melakukan cek kesehatan sederhana dan mengirim bahan makanan sesuai pesanan mereka. Program ini terus dilanjutkan diseluruh Jepang karena jumlah warga senior yang tinggal sendiri semakin tinggi.

Dengan kedisiplinan, etos kerja, dan gaya hidup sehat mereka, nggak salah kalau penduduk Jepang layak kita  jadikan panutan. Supaya bisa sukses dan panjang umur seperti mereka. Yuk, dipraktikan!

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!