5 Perjalanan Karier Para Detektif Sungguhan yang Tak Kalah Keren dari Cerita Fiksi. Seru Banget!

real detective story

Apa yang pertama kali terbayang di benakmu saat mendengar kata ‘detektif‘? Mungkin kebanyakan terbayang sosok karismatik nan misterius, jago mengusut bermacam kasus pelik di dunia antah berantah. Yup, setidaknya sejak abad ke-19, detektif ganteng, karismatik, jenius dan punya beragam alat canggih mungkin telah jadi satu gambaran sosok imajinatif banyak orang.

Advertisement

Gambaran kalau detektif handal hanyalah fiktif, salah satunya disebabkan oleh kehadiran novel dan film yang mengusung tema tersebut.

Edgar Allan Poe merupakan salah satu orang yang bertanggung jawab, karena dari tangannyalah kisah detektif pertama lahir, jauh sebelum kita mengenal Sherlock Holmes. Nah, tapi semua kisah heroik tentang detektif nggak melulu fiktif lo. Sepanjang sejarah bisa ditelusuri, ternyata detektif di dunia nyata ada yang telah melakukan prestasi luar biasa. Bahkan mungkin banyak yang nggak tahu malah sukses jadi inspirasi banyak kisah fiksi untuk novel atau film. Melansir List Verse, berikut Hipwee Sukses rangkum nama-namanya untuk kalian!

1. Sukses menangani kejahatan secara langsung, Jhonny Broderick malah nggak disukai para politisi

| Photo: Screenshoot Youtube/The Story Behind via www.youtube.com

Bertugas sebagai anggota kepolisian New York dari tahun 1923 hingga 1947, Jhonny Broderick dikenal seluruh kota sebagai “polisi yang nggak boleh diganggu”. Sepanjang kariernya, Jhonny banyak terlibat dalam aksi-aksi hebat menangani kejahatan, di samping juga bertugas sebagai pengawal untuk petinju kelas berat, Jack Dempsey.

Advertisement

Diketahui Jhonny pernah memukuli gangster legendaris New York bernama Legs Diamond, dan melemparnya ke dalam tong sampah. Selain itu ia juga terkenal karena sering berhadapan dengan tahanan bersenjata di Manhattan Detention Complex. Pada satu waktu ia sempat jadi satu-satunya polisi yang memburu para narapidana yang hendak kabur dengan berondongan tembakan. Aksi berani Jhonny yang secara langsung menangani kejahatan ini banyak diapresiasi oleh masyarakat New York. Kendati demikian ia dibenci banyak politisi dan sering tersangkut kasus perdata yang menuduhnya melakukan kebrutalan.

2. Izzy Einstein dan Moe Smith mendapatkan reputasi terbaik setelah sebelumnya sempat diragukan sang atasan

| Photo by World Telegram staff photographer, public domain via commons.wikimedia.org

Izzy Einstein dan Moe Smith merupakan detektif yang bertugas di New York pada tahun 1920-an. Sepanjang kariernya, duo ini telah berhasil menangkap 4.932 pelanggar hukum, dan mengangkut sekitar lima juta botol miras ilegal.

Advertisement

Nah, sebelum jadi detektif, Izzy merupakan pedagang asongan yang juga bekerja sebagai juru tulis. Sedang Moe adalah pemilik toko cerutu. Mereka berteman sejak sama-sama bergabung dengan biro yang menggaji mereka sebanyak 40 dolar per minggu. Pada saat awal kiprah mereka, sang penanggung jawab tugas nggak begitu terkesan dengan duo Izzy dan Moe dengan alasan penampilan fisik. Tapi Izzy dan Moe berhasil meyakinkan sang atasan, dengan mengatakan bahwa penjahat nggak akan pernah mencurigai dua orang gemuk seperti mereka sebagai detektif.

Benar saja, mereka berhasil mendapatkan reputasi terbaik, di mana penyamaran demi penyamaran nggak pernah ketahuan. Mereka bahkan pernah berdiri tepat di depan orang yang mereka selidiki tanpa ketahuan. Kendati demikian, karier mereka akhirnya redup jua. Bukan karena gagal tugas, melainkan karena rekan kerja mereka sendiri yang sirik dengan kesuksesan reputasi tersebut. Filmis banget, kan?

3. Sempat sukses sebagai detektif cikal bakal FBI, William J. Burns yang terlibat skandal banting setir jadi penulis cerita detektif

| Photo by Unknown author, public domain via commons.wikimedia.org

Oleh otoritas Amerika, William J. Burns yang bekerja sebagai detektif BOI (sekarang FBI) pada paruh 1910 ini digadang-gadang sebagai “America’s Sherlock Holmes”. Ia banyak memimpin penyelidikan beberapa kejahatan yang paling banyak ditutupi pada awal abad ke-20. Misalnya pada tahun 1920, William dipekerjakan sebagai salah satu penyelidik utama untuk memecahkan kasus pengeboman gedung Los Angeles Times. Setahun kemudian ia sukses menciduk pembom tersebut, yakni John J. dan James B. McNamara.

Beberapa tahun kemudian, William kembali terlibat dalam penyelidikan kasus domestik serupa. Tepatnya pada tahun 1920, ia menyelidiki kasus bom yang merobek Wall Street. Sayangnya, kasus tersebut mencapai jalan buntu. Dan nggak berselang lama, saat menjabat sebagai direktur BOI, William malah terlibat skandal. Ia pun lantas mengundurkan diri, dan menghabiskan sisa hidup dengan menulis cerita detektif.

4. Sebagai detektif daerah pedesaan, Ellis Parker menangani cukup banyak kasus dan mewariskan gaya penyelidikan

| Photo: dok/detectiveelishparker via detectiveellishparker.com

Sama seperti William J. Burns, Ellis Parker juga digadang sebagai “America’s Sherlock Holmes”. Bedanya, Ellis bertugas sebagai detektif di daerah pedesaan Burlington County, New Jersey. Kendati demikian, kejahatan yang ia selidiki nggak sedikit. Sepanjang kariernya ia telah menyelidiki sekitar 300 kasus kejahatan. Oleh media lokal, kasus-kasus yang ditangani Ellis Parker bahkan disebut sebagai misteri yang nggak akan terpecahkan.

Salah satu kasus yang pernah ditangani Ellis dan jadi ‘warisan’ adalah menghilangnya seorang kurir bank yang membawa cek sebanyak 42 ribu dolar dan 40 ribu dolar dalam bentuk tunai. Kasus ini dimulai 5 Oktober 1920, dan 11 hari kemudian mayat kurir bank tersebut ditemukan di kuburan dangkal oleh pemburu bebek. Kasus ini jadi ‘warisan’ Ellis karena memiliki gaya deduksi yang tepat, forensik awal dan pekerjaan detektif yang cermat.

5. Dikenal brilian, kisah Raymond C. Schindler bahkan sempat diangkat jadi serial TV

Ilustrasi | Image by Tumisu from Pixabay via pixabay.com

Menjadi detektif di usia muda, Raymond yang pada saat itu berusia 25 tahun bekerja bersama kepolisian San Fransisco dalam kasus korupsi yang melibatkan politisi tingkat tinggi. Ia terkenal sebagai detektif brilian, yang pada saat itu mengandalkan teknologi mutakhir yakni diktograf dalam tugasnya. Diktograf adalah sejenis alat perekam yang pada saat itu hanya Raymondlah pemegang hak eksklusif benda tersebut.

Setelah kematiannya pada tahun 1959, nama Raymond identik dengan kehebatan pendeteksian kejahatan. Ada satu kasus yang tak bisa diselesaikan Raymond, yaitu kasus pembunuhan seorang introver kaya yang berprofesi sebagai pencari emas dan operator tambang bernama Sir Harry Oakes. Kendati demikian, reputasi Raymond nggak pernah berkurang. Pada tahun 1952, kisah Raymond bahkan diangkat jadi serial TV berjudul Case One.

Gimana, kisah nyata ternyata nggak kalah potensial untuk dikembangkan jadi novel atau film yang seru kan? Jadi penasaran, kalau di Indonesia sepak terjang berkarier jadi detektif gimana ya~

Gelombang resesi mulai menghampiri, bagaimana kalian mempersiapkan diri menghadapinya? Isi survei berikut ini.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

get me away from here I'm dying

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE