Di zaman start-up ini, menjadikan sahabat sendiri sebagai co-partner atau mitra bisnis memang terdengar layaknya ide yang brilian. Tapi sebelum ide ini benar-benar kamu jalankan, ingatlah bahwa mengembangkan bisnis butuh lebih dari sekadar ide yang keren dan co-partner yang membuatmu nyaman. Seberapa yakinkah kamu bahwa sahabatmu itu bisa menjalankan perannya sebagai partner bisnis sebaik dia menjadi teman? Ketika bisnis kalian terantuk batu, seberapa yakin kamu bahwa dia tidak akan mengkhianatimu?

Bukan bermaksud membuatmu ragu, Hipwee justru akan membantumu untuk berpikir ulang baik-tidaknya ide itu. Sebelum mantap memulai bisnis bersama sahabat, inilah hal-hal yang harus kamu perhatikan dengan cermat!

1. Siapkah kamu merelakan posisi bergengsi di perusahaanmu ini pada sahabat sendiri? Atau kamu lebih ingin menjadi yang paling “terlihat” dalam struktur perusahaan?

memulai bisnis tak semudah saat bermain bersama

memulai bisnis tak semudah saat bermain bersama via www.bmoremedia.com

Advertisement

Memulai bisnis bersama dengan tujuan bisnis yang jelas adalah hal utama. Tentu, bisnismu tidak akan jelas kalau struktur organisasinya pun tidak jelas. Kalau ini saja terlupakan, lantas siapa yang bertanggungjawab dalam perusahaan?

Sejak awal, kamu harus tahu siapa yang mengisi posisi apa dan tugas apa yang dibebankan pada orang yang mengisi posisi tersebut. Kesulitan saat memulai bisnis dengan sahabat datang ketika kamu lebih mengutamakan gengsi daripada logika bisnis. Kamu tak mau menyerahkan posisi tertinggi padanya, sementara dia memang lebih punya koneksi dan skill leadership yang dibutuhkan. Kamu tidak mau mengakui bahwa bakatmu ada di posisi lain.

Sebaliknya, bisa juga kamu menyerahkan tampuk paling bergengsi pada sahabat hanya karena tidak enakan. Kamu tahu dia tidak kapabel untuk itu, tapi untuk mengatakannya kamu tidak sampai hati. Padahal, pembagian pekerjaan dan tanggungjawab berdasarkan perasaan tidak enak tak akan pernah berhasil.

Advertisement

Selain itu pikirkanlah juga: jika kamu memilih dirimu untuk berada di puncak kepemimpinan, yakin sahabatmu akan menerima itu dengan mudah? Beruntung jika kamu punya sahabat yang dengan legowo mendukungmu, bagaimana jika tidak? Mungkin persahabatanmu yang sudah baik ini bisa ada dalam zona merah karena perebutan posisi,

2. Dalami betul-betul bagaimana perspektif sahabatmu tentang berbisnis. Jangan sampai, saat sudah mulai berbisnis justru malah kerjanya jadi berat sebelah

hati-hati dengan sesuatu yang sensitif, apalagi berebut posisi

hati-hati dengan sesuatu yang sensitif, apalagi berebut posisi via kroneafrica.com

Betapa sebuah berkah yang luar biasa jika kamu punya teman yang punya minat dan tujuan bisnis yang sama dan sejalan. Bisnis kamu pasti menjadi mudah dan lancar. Tapi, tentu tak semua orang seberuntung itu. Tak jarang kamu yang berpikir untuk memulai bisnis bersama sahabat dengan harapan menjadi lebih sukses lantaran bekerja dengan orang yang kamu percaya dan kenal baik.

Satu hal yang harus diingat, ada juga sahabat yang punya perspektif berbeda soal bisnis. Sadar jika perlu kerja keras untuk membangunnya tapi sedikit bertindak, sedangkan ingin dapat keuntungan banyak dan cepat balik modal. Sahabat yang punya modal begini yang justru akan membuat bisnis kamu cepat usai dan entah bagaimana kelanjutannya. Kenali dulu kepribadian lainnya dari sahabatmu, pastikan dia juga punya jiwa pebisnis yang banyak bertindak dan sedikit menuntut, bukan tipe yang cuma mau dapat enaknya tanpa bersusah-susah.

3. Bagaimana dengan gaji? Apakah kamu atau dia akan mengiyakan besaran gaji yang kalian terima tiap bulan?

masalah gaji memang sensitif, selesaikan dengan kepala dingin

masalah gaji memang sensitif, selesaikan dengan kepala dingin via www.huffingtonpost.co.uk

Memang semua partner akan mempertanyakan soal kemana uang perusahaan pergi? Berapa pembagian untuk produksi? Berapa pembagian keuntungan untukmu dan dia? Semua memang harus transparan.

Dalam sebuah usaha, para pebisnis tentu tahu persis jika seseorang akan dibayar sesuai dengan tanggung jawab yang dibebankan. Kamu wajar jika berpikir perlu dibayar lebih karena usaha kerasmu mengembangkan usaha, dan jika sahabatmu sedikit berbuat untuk bisnis, kamu merasa fine jika dia dibayar lebih sedikit daripadamu. Jangan anggap sepele kasus-kasus seperti ini, justru hal-hal personal seperti ini yang bisa menggerogoti gagalnya bisnismu.

4. Jika ide ini berjalan, kalian tak hanya akan menjadi teman. Bisakah kepentingan bisnis dan pertemanan tetap sejalan?

cobalah untuk fokus tanpa meninggalkan solidaritas

cobalah untuk fokus tanpa meninggalkan solidaritas via www.huffingtonpost.com

Masalah pribadi kadang menjadi hal yang cukup mengganggu bagi bisnis. Misalnya, saat sahabat tertimpa musibah, tiba-tiba ia ingin menarik uangnya dari perusahaan. Mungkin jika partnermu ini bukan teman dekatmu, kamu bisa saja bilang “Tidak” dan menjelaskan bahwa itu adalah demi kepentingan bisnis. Tapi, apakah yang akan kamu lakukan ketika yang meminta hal ini sahabatmu sendiri?

Salah satu tantangan dari melakukan bisnis pada sahabat adalah saat kamu tak bisa bilang “tidak” dan “jangan.” Karena secara psikologis, kamu tak mungkin menganggapnya orang lain. Dan mungkin saja, kamu menganggap bahwa solidaritasmu sebagai sahabat lebih penting  dari bisnis yang kalian jalankan. Bisnis pun akan gagal karena selalu dinomorduakan.

5. Jika bisnis kamu sampai gagal, akan ada harga yang kamu pertaruhkan. Bukan hanya uang, tapi juga hubungan persahabatan.

nilai persahabatan jauh lebih berharga dari sebuah keuntungan bisnis semata

nilai persahabatan jauh lebih berharga dari sebuah keuntungan bisnis semata via www.entrepreneur.com

Tentu tak semua sahabat yang juga partner bisnis akan terima-terima saja jika bisnismu bangkrut atau gagal. Terlebih jika dia telah mengorbankan banyak hal dan uang untuk membangunnya. Yang harus dilihat adalah harga yang ditanggung tentu lebih besar dari sekadar nominal rupiah. Persahabatan kalian juga bisa saja menjadi renggang.

Siapa yang bisa menjamin dia tidak akan apa-apa dengan kegagalan ini? Apakah dia tetap percaya padamu? Apakah dia merasa terjebak pada bisnis yang hanya membuang uangnya untuk sebuah kegagalan? Apakah dia akan tetap melihatmu sama seperti dulu setelah kegagalan bisnis bersama?Jika kamu tak tahu pasti dengan jawabannya, jangan berjudi dengan keadaan. Harga sebuah persahabatan lebih mahal dari semua yang kamu dapatkan dari bisnis.

Jadi, pikirkan baik-baik dengan segala konsekuensinya. Kalau kamu memang punya insting bisnis yang kuat, pasti akan sadar jika memikirkan hal terburuk sama pentingnya dengan rencana cemerlang mengembangkan sebuah bisnis. Namun, selagi kamu dan sahabatmu mampu menghindari konflik-konflik semacam diatas, bukan tidak mungkin bisnis kamu berjalan mulus.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya