Strategi Marketing untuk Segmentasi Pasar Emak-emak. Salah Langkah Bisa Bahaya!

segmentasi pasar ibu-ibu

Dalam memulai usaha, menentukan segmentasi pasar adalah hal utama yang harus dilakukan selain menentukan produk apa yang akan dijual. Pasalnya, hal ini nantinya akan mempengaruhi bagaimana strategi marketing akan ditetapkan supaya nggak cuma buang-buang uang, tapi juga tepat sasaran. Salah satu segementasi pasar yang jumlahnya cukup besar adalah emak-emak, entah ibu rumah tangga atau ibu bekerja.

Produk yang beragam mulai dari fesyen hingga kebutuhan rumah tangga akan menarik perhatian mereka. Akan tetapi, strategi marketing yang ditetapkan untuk merebut hati mereka perlu disusun dengan matang supaya nggak malah kesan buruk yang ditimbulkan dan akhirnya jadi rumor buruk tentang bisnismu yang cepat tersebar. Lalu, bagaimana caranya? Simak yuk selengkapnya!

ADVERTISEMENTS

1. Untuk menetapkan strartegi marketing yang tepat maka kita harus tahu apa yang mereka senangi dan idolakan

Kalau ada brand yang menggandeng idol group BTS untuk menyasar anak muda, maka sama halnya dengan ibu-ibu, kamu harus tahu apa yang mereka senangi dan idolakan. Salah satu contoh brand yang memanfaatkan hal ini adalah Mama Lime yang sempat menggandeng Choky Sitohang sebagai model iklan mereka atau Sunlight yang menggandeng Raffi Ahmad. Sosok yang tampan, muda, dan diidolakan ibu-ibu akan memberikan ketertarikan tersendiri untuk mereka, apalagi biasanya ibu-ibu ini tak kalah militan lo dari fans yang masih muda.

Nah, tentu kamu tak perlu menggunakan mereka juga sebagai model iklan tapi kamu bisa membuat sesuatu yang berhubungan dengan orang tersebut. Misalnya jika sekarang sinetron Ikatan Cinta sedang hits di kalangan mereka, kamu bisa membuat konten Facebook atau Instagram yang bersangkutan dengan hal ini seperti kuis, ulasan, atau parodi sederhana.

ADVERTISEMENTS

2. Selain menggunakan selebritas, kamu juga bisa lo menggandeng mom influencer untuk ibu-ibu yang lebih muda

Strategi Marketing untuk Segmentasi Pasar Emak-emak. Salah Langkah Bisa Bahaya!

Lewat influencer/ Credit: Pixabay via www.pexels.com

Seorang ibu biasanya senang belajar dan membaca pengalaman orang lain untuk mencari referensi dalam mendidik anak. Nah, untuk itu biasanya media sosial yang diikuti juga tak jauh-jauh dari mom influencer. Kamu bisa memanfaatlan media ini untuk melakukan endorse atau berkolaborasi dengan mereka. Tak harus memilih yang banyak pengikut dan menawarkan rate super mahal kok. Kamu hanya perlu jeli dan melihat apakah dengan pengikut yang dimiliki banyak yang juga berinteraksi dan mengikuti pilihan influencer atau ternyata pengikutnya tak begitu terpengaruh.

ADVERTISEMENTS

3. Ibu-ibu biasanya akan lebih perhitungan namun juga mudah termakan diskon, maka kamu perlu menerapkannya juga

Melihat potongan harga membuat banyak orang, apalagi ibu-ibu kalap untuk belanja. Makanya penting untuk sesekali menerapkan teknik yang satu ini. Tak perlu terlalu sering dilakukan kok agar tak bangkrut. Supaya tetap untung kamu juga bisa lo menerapkan teknik anchoring dan teknik pricing yang lainnya yang akan menghipnotis para ibu yang melihatnya.

ADVERTISEMENTS

4. Emak-emak cenderung akan lebih percaya ketika bisa melihat dan memegang barang secara langsung

Strategi Marketing untuk Segmentasi Pasar Emak-emak. Salah Langkah Bisa Bahaya!

Bisa memegang/ Credit: prostooleh on Freepik via www.freepik.com

Memang sih sudah banyak emak-emak milenial yang melek teknologi dan memilih untuk membeli barang secara online, tapi sensasi yang didapatkan ketika bisa memegang barang secara langsung akan berbeda. Mereka cenderung lebih percaya ketika sudah melihat barangnya, makanya direct selling masih akan jadi strategi yang cocok untuk diterapkan. Membuka toko offline di tempat strategis yang akan mereka datangi atau justru melakukan sistem jemput bola baik online maupuan offline bisa dilakukan.

ADVERTISEMENTS

5. Word of mouth adalah salah satu kekuatan besar yang dipegang oleh emak-emak, mereka akan lebih percaya jika orang lain sudah mencoba

Pernah mendengar kisah tentang Bob Sadino yang menjual telur busuk ke ibu-ibu komplek dan menggantinya dengan telur baru yang lebih banyak? Apa yang membuat telurnya justru makin laris? Ya, karena kekuatan word of mouth dari emak-emak yang merasa puas karena komplainnya ditanggapi dengan baik. Makanya, kualitas produk dan kesan yang bagus harus diberikan supaya mereka bisa menyampaikan rekomendasi produkmu ke ibu-ibu yang lain karena merasa puas setelah berbelanja di tempatmu.

Nah, sekarang kamu sudah siap menghadapi target pasar emak-emak dengan strategi yang sudah dikantongi. Jangan sampai deh mengecewakan mereka, dampaknya bisa berbahaya. Bisa-bisa malah produkmu masuk black list orang sekomplek.

Baca sepuasnya konten-konten pembelajaran Masterclass Hipwee, bebas dari iklan, dengan berlangganan Hipwee Premium.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An avid reader and bookshop lover.