Mengenal Strategi Retail Rejection. Sengaja Remehkan Konsumen Biar Mereka Jadi Membeli!

strategi marketing remehkan pelanggan

Mungkin kamu sering mendengar cerita tentang seseorang yang pergi ke sebuah toko yang menjual barang-barang mahal namun merasa tak diperhatikan oleh pihak pelayan atau malah cenderung diremehkan.

Advertisement

Mulai dari sikap acuh tak acuh hingga mengatakan “Yang ini harganya mahal lo, Kak.” Seolah si calon pembeli diremehkan karena dianggap tak punya uang untuk membayarnya. Menerima perlakuan tersebut bisa jadi pembeli langsung memanas dan tanpa pikir panjang membelinya untuk membuktikan bahwa ia mampu juga.

Yah, kena deh! Bisa jadi pembeli tersebut sedang terjebak dalam strategi marketing, tapi bisa juga hal ini terjadi begitu saja karena pelayan memang memiliki sikap buruk. Pasalnya beberapa toko ternyata ada saja yang menerapkan strategi yang satu ini lo. Akan tetapi, nyatanya penerapan trik ini sebenarnya cukup berisiko untuk sebuah brand. Simak yuk penjelasan selengkapnya!

Istilah untuk strategi marketing yang satu ini adalah retail rejection, biasanya dilakukan oleh brand-brand barang mewah. Catat ya, hanya barang mewah!

Konsumen yang nggak disapa dengan ramah oleh para staf ketika memasuki toko barang mewah merupakan salah satu bentuk dari retail rejection. Walaupun banyak yang mengubah sikap para staf sales supaya lebih ramah dan menyambut dengan senang hati namun tetap ada yang menganggap bahwa retail rejection juga bukan merupakan sebuah ide yang buruk.

Advertisement

Pasalnya banyak orang yang justru lebih ingin merasa diterima di dalam sebuah kelompok yang menolak mereka. Sebuah penelitian yang dilakukan Darren Dahl dari University of British Columbia’s Sauder School of Business dan Morgan Ward dari Emory University’s Goizueta School of Business menunjukkan bahwa para staf yang meremehkan justru meningkatkan keinginan konsumen untuk diasosiasikan dengan brand tersebut dan keinginan untuk membayar produk mereka.

Walaupun kelihatan menguntungkan, namun ternyata strategi ini nggak bisa asal diterapkan lo tapi hanya pada bisnis-bisnis tertentu saja

Kurang ramah/ Credit: pressfoto on Freepik

Biasanya yang berani menerapkan strategi marketing ini adalah brand-brand dengan produk berupa barang mewah atau memiliki harga yang mahal. Makanya, kalau ada yang masuk dengan pakaian atau aksesori biasa saja mereka akan langsung bertindak berbeda. Berdasarkan penelitian terbaru, tingkat keberhasilan retail rejection akan tinggi jika toko memiliki ciri ini:

  • Brand merupakan brand yang merepresentasikan citra atau status yang diinginkan oleh konsumen.
  • Seseorang memiliki dua konsep dalam diri yaitu konsep aktual dan ideal. Konsep aktual adalah di mana mereka saat ini dan barang seperti apa yang bisa dibeli, sedangkan konsep ideal adalah di mana mereka ingin berada dan barang seperti apa yang ingin dibeli. Sebuah brand bisa masuk ke konsep ideal jika konsumen ingin menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang memakai barang tersebut. Makanya, nggak heran kalau mereka rela membayar mahal untuk membeli suatu produk.
  • Bukan hanya tokonya saja namun ternyata staf yang tak ramah juga menjadi bagian pembeda. Jika staf yang tidak ramah adalah seseorang yang berpakaian rapi dan berbicara dengan cerdas efeknya akan berbeda dengan mereka yang tidak ramah memakai pakaian berantakan dan kurang cerdas.

Strategi ini mungkin memang memberikan keuntungan tapi risikonya juga turut mengikuti dari belakang

Benar sih mungkin seseorang yang merasa tersinggung akan rela mengeluarkan uang untuk membeli suatu produk sehingga mendatangkan kentungan namun ternyata keuntungan ini hanya bertahan dalam jangka pendek lo, sedangkan jangka panjangnya justru kurang bagus. Pasalnya, emosi yang diingat oleh konsumen adalah perasaan di mana mereka merasa direndahkan yang merupakan emosi negatif sehingga bisa merusak citra dari brand itu sendiri.

Alih-alih memperlakukan konsumen dengan kasar dan tidak ramah, sebaiknya memberikan pelayanan yang ramah dan memuaskan bagi mereka apalagi jika bisnis yang dijalankan masih belum memiliki branding yang kuat. Pasalnya kekuatan word of mouth dari konsumen juga akan berdmpak besar pada brand milikmu. Kalau yang mereka katakan kepada orang lain adalah hal-hal baik kan bisa lebih menguntungkan~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE