Panduan Switch Career: Hal yang Harus Dipertimbangkan dan Langkah-langkahnya

Langkah Angga seperti diberi beban pemberat berkilo-kilogram setiap hari Senin saat akan berangkat ke kantor. Di hari selanjutnya, langkah itu bertambah berat dan bertambah berat hingga ia tiba di suatu titik hampir berhenti.

Beban itu berbentuk demotivasi karena pekerjaannya saat ini terlalu sulit untuk dijalani, dengan gaji yang rasanya jadi tak sepadan. Mendengarnya, beberapa orang mungkin akan berpikir untuk menyuruh Angga lekas mencari pekerjaan baru. Namun, ritme kerja seperti itulah yang kemungkinan besar akan ia dapatkan lagi di pekerjaan-pekerjaan sejenis. Satu-satunya cara yang mungkin dilakukan Angga adalah berpindah ke bidang pekerjaan yang baru. Akan tetapi, hal ini tentu nggak mudah juga dilakukan.

Mungkin kamu mengalami dilema yang sama dengan Angga. Merasa bahwa apa yang kamu jalani saat ini sebenarnya bukan hal yang ingin benar-benar kamu lakukan setiap hari, tapi ragu-ragu jika ingin melakukan “switch career”. Untuk membantumu, simak beberapa tips berikut ini yuk!

Sebelum masuk ke tips, kamu perlu tahu apa aja tanda sebaiknya kamu mulai mempertimbangkan hal ini

Switch career berarti melakukan pergantian dalam kariermu, bisa pindah industri atau bisa juga tetap di industri yang sama, tapi posisi atau perusahaan yang berbeda. Biasanya ada beberapa alasan masuk akal yang digunakan oleh orang-orang yang melakukan switch career, misalnya ingin mengurangi stres, ingin gaji yang lebih besar, ingin fleksibilitas, atau keinginan untuk berkembang.

Makanya, saat akan melakukan switch career, ada baiknya kamu mempertimbangkan beberapa hal, seperti mencari pekerjaan dengan jadwal yang cocok denganmu, gaji dan benefit yang lebih baik, budaya kerja yang berbeda, tingkat stres yang masih bisa ditangani, dan membuatmu merasa dihargai.

Kalau masih bingung, beberapa hal ini mungkin bisa jadi tanda kamu sebaiknya lekas melakukan switch career.

  • Kamu merasa lesu dan disconnected saat melakukan pekerjaan. Performamu menurun jauh, kamu sering nggak menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, akhirnya kamu nggak bisa menyelesaikan project atau misi dengan baik.
  • Saat kamu merasa bahwa pekerjaanmu saat ini nggak membawa dampak apa pun dan akhirnya kamu hanya merasa buang-buang waktu. Skill yang kamu miliki akhirnya juga jadi nggak berguna.
  • Kalau mendapatkan gaji yang relatif besar pun nggak menolongmu untuk kembali termotivasi bekerja, artinya kamu benar-benar perlu meninggalkan pekerjaanmu saat ini dan memulai pekerjaan yang baru.

Meskipun begitu, kamu mungkin mengalami berbagai dilema karena sudah mengerjakan pekerjaan ini dalam waktu yang cukup lama. Nah, gimana caranya supaya kita bisa switch career tanpa rasa menyesal?

Kenali apa yang kamu suka dan nggak suka dalam suatu pekerjaan, amati bentuk kepuasan seperti apa yang pernah kamu dapat

Sebelum membiarkan rasa jengah dan stres mendominasi, coba evaluasi dulu kerjamu selama ini. Apa yang membuatmu merasakan demikian, kejadian seperti apa yang membuatmu merasa senang dan kejadian apa yang membuatmu merasa tidak cukup baik. Lalu, lihat juga ke belakang kapan biasanya kamu merasa puas akan pekerjaanmu.

Selain mengevaluasi diri sendiri, kamu juga bisa melihat apakah lingkungan pekerjaanmu selama ini sudah cocok dengan gaya bekerjamu atau belum, termasuk bagaimana gaya kepemimpinan atasanmu. Bisa jadi kamu sebenarnya sudah cocok dengan posisi yang dijalani, tapi kurang cocok dengan budaya kerjanya.

Jika sudah ketahuan apa yang membuatmu merasa nggak nyaman dan mantap akan melakukan switch career, kamu bisa membuat daftar keahlian, visi, dan value yang kamu miliki. Mungkin kamu sudah beberapa kali melakukan pekerjaan di berbagai bidang meskipun hanya menjadi volunteer, magang, atau proyek kecil-kecilan. Dari situ, kamu juga bisa melihat minatmu, lo.

Jika sudah mengenali diri sendiri, kamu bisa memastikan apakah kamu ingin pindah perusahaan atau pindah industri juga. Perhatikan contoh kasusnya

Nah, setelah paham skill, ketertarikan, hingga value yang kamu punya, kamu bisa mulai mempertimbangkan apakah kamu akan pindah perusahaan, pindah posisi, atau pindah industri. Irisan yang kamu punya mungkin akan membantumu menentukan hal ini. Perhatikan contoh kasus berikut ini yuk!

Kamu adalah seorang content writer sebuah perusahaan media digital, lalu kamu ingin pindah menjadi seorang social media officer sebuah perusahaan korporat. Maka, kamu bisa menggunakan skill brainstorming, ideation, dan menulis konten untuk membuat editorial plan ketika menjadi seorang social media officer. Meskipun mungkin tetap ada yang disesuaikan, tapi kemampuan untuk melihat berbagai angle dan menciptakan ide bisa kamu tawarkan.

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis