Tak cuma mereka yang sedang melamar pekerjaan yang perlu memperhatikan etika. Jika tak mau kehilangan muka di depan calon karyawan atau bakal rekan sekantor Anda, sebaiknya jangan ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut saat menjadi pewawancara:

1. “Deskripsikan diri Anda.”

Pertanyaan ini terlalu luas untuk bisa dijawab dengan baik. Para pelamar yang siap mental akan merancang jawaban mereka terlebih dahulu di rumah, sehingga yang akan Anda dengar hanyalah versi hapalan. Ini seperti rekaman lagu yang terdengar bagus berkat editan studio. Sebaliknya, para pelamar yang tak menyangka pertanyaan ini akan keluar hanya akan menjawab dengan “Eh…um…yah….” dan beberapa kalimat pendek yang tak terstruktur.

Ujung-ujungnya, Anda yang akan rugi.

2. “Asalnya dari mana? Anda orang Jawa?”

Ini wawancara kerja, bukan basa-basi di pesawat atau kondangan. Yang perlu Anda “korek” dari para pelamar bukanlah latar belakang SARA, tapi kepribadian dan gambaran tentang kinerja profesional mereka.

Pertanyaan tentang suku bisa terkesan diskriminatif, apalagi di Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan budaya ini.

3. “Berapa usia Anda? Sekarang tinggal dimana?”

Advertisement

Bukankah detil-detil ini sudah ada di CV? Jangan biarkan para pelamar kerja berpikir bahwa Anda tak sempat membaca CV mereka.

4. “Kok belum nikah?”

Apa hubungannya status lajang dan profesionalitas seseorang? Ditanyai oleh orang tua atau teman sendiri saja orang-orang bisa tak suka, apalagi oleh Anda – yang baru mereka temui saat wawancara kerja.

5. “Kok sudah punya suami/istri, tapi belum punya anak?”

Walaupun mungkin Anda kepo, hal-hal semacam ini sejujurnya bukan urusan Anda.

6. “Anda sering sakit?”

Sebagian pewawancara menanyai ini untuk memperkirakan tanggungan perusahaan terhadap asuransi kesehatan seseorang jika orang tersebut dipekerjakan. Bisa juga untuk memperkirakan seberapa sering orang itu akan izin tak masuk dengan alasan sakit.

Ajukan pertanyaan ini HANYA jika sang pelamar sering izin sakit di kantornya yang dahulu. JANGAN PERNAH bertanya hal semacam ini pada pelamar kerja yang punya cacat fisik bawaan, karena akan terkesan diskriminatif.

7. “Anda rajin sholat / pergi ke gereja?”

Mungkin pelamar kerja di hadapan Anda adalah orang yang benar-benar taat agama. Tapi, bukan berarti ia adalah orang yang paling tepat untuk perusahaan Anda.

8. “Anda pendukung PDI-P, Golkar, Demokrat, PKS, atau…?”

“Oh, saya sih kemarin golput.”

9. “Apa passion Anda?”

Anda sedang mencari karyawan perusahaan atau anggota Komunitas Pecinta Topeng Monyet? Banyak orang memiliki passion yang berbeda dari karir profesional mereka. Mereka bisa saja gila kuliner dan traveling, tapi berprofesi sebagai dokter. Mereka bisa saja suka Topeng Monyet, tapi berprofesi jadi bankir. Passion kerap tidak relevan terhadap profesionalitas seseorang.

10. “Wah maaf, ini wawancara-nya membosankan, ya?”

Kalau Anda sampai mengajukan pertanyaan ini…mungkin memang wawancara Anda membosankan.

11. “Anda rajin olah raga?”

“Yep. Pertanyaan selanjutnya?”

12. “Sebutkan tiga judul lagu Dewi Perssik!” (atau pertanyaan-pertanyaan “kejutan” lainnya)

Tujuan pertanyaan semacam ini adalah untuk mengetes reaksi pelamar kerja terhadap tantangan-tantangan tak terduga. Tapi apa tantangan yang kerap dihadapi oleh karyawan Anda bisa dilukiskan dengan tantangan menebak judul lagu Dewi Perssik?

13. “Jika rumah Anda kebakaran dan Anda hanya bisa menyelamatkan satu barang, barang apakah itu?”

Sebenarnya apa yang para pewawancara harapkan melalui pertanyaan ini? Tak mungkin pelamar kerja menjawab “folder kerja” atau “proposal untuk klien”, ‘kan?

14. “Anda pernah terlibat kriminalitas?”

Surat Keterangan Kelakuan Baik ada agar Anda tak usah bertanya hal-hal ini saat wawancara. Jika sang pelamar memang pernah ikut geng motor atau hal-hal lain yang menyebabkannya berurusan dengan polisi, Anda harus perhitungkan juga bahwa ia sedang berusaha mencari kerja. Itu mungkin adalah bagian dari usahanya mengubah diri.

15. “Anda punya pacar?”

Duh…Anda ini pewawancara, bukan kontak jodoh!