Di sini, lo nggak memihak satu gank pun. Lo bebas, lo merdeka, lo bisa jadi diri lo apa adanya!

Pernah nggak sih kamu merasa kikuk atau canggung ketika berada di satu lingkungan pergaulan? Kamu sih biasa saja, tapi kok pandangan orang-orang ke kamu itu rasanya beda. Mereka seolah membuatmu ‘tersingkir’ pelan-pelan dan ogah mengajakmu ikut bergabung saat ada diskonan gede-gedean di mall, atau sedang ada promo buy 1 get 1 free di cafe favorit semua orang. Duh, ini sih bencana sosial. Hmmm…

Lalu, apakah ini berarti kalau kehadiranmu nggak berharga? Atau justru mereka yang sebenarnya sirik saja dengan slogan ‘biasa aja’ yang kamu punya? Ya, beginilah jawabanya…

Benar, jika kamu selalu menjadi pribadi yang biasa saja. Btw, mereka tahu apa sih?

mereka tahu apa sih? via livestrong.com

Dandananmu biasa saja. Pakaian yang kamu pakai juga nggak eye catching, asal pantas dan sopan. Atau, isi dompetmu yang cuma beberapa lembar, tapi kamu selalu kecukupan. Sekilas, inilah nikmat Tuhan yang sebenarnya. Kamu jujur, minimal pada diri sendiri.

Advertisement

Kalau ada celetukan, ‘dandan kek, nggak ngikutin zaman banget!’ ‘tas lo kuno banget, nggak malu sama anak SMA yang tasnya jauh lebih kekinian?’, anggap saja ini pujian yang tertunda. Anggap saja mereka hanya mencercamu bukan berdasar fakta, tapi ketidakmampuan semata.

Tapi masalahnya, mengapa kamu selalu jadi yang kesekian? Jawabannya mungkin ada di belahan dunia lain. Selamat mencari dan mulailah menjelajahi diri sendiri!

Saat yang lain berlomba-lomba mem-posting foto OOTD di Instagram, kamu tak perlu ikut-ikutan. Sejatinya, pakaian itu identitas, bukan ‘barang dagangan’

OMG, plz grow up! via wsj.com

“Belum sah masuk kuliah kalau belum posting foto OOTD!”

Gila pujian atau penghargaan itu bukan sesuatu yang layak ditiru. Toh masih banyak cara lain bahwa keberadaanmu di muka bumi ini bisa diakui. Sekadar ikut-ikutan atau mendewakan gengsi tentu bukan satu-satunya solusi. Meski berat hidup di zaman yang serba digital ini, kamu tetap bisa jadi pribadi yang rendah hati.

Maraknya narsisme di Instagram itu memang tak ada salahnya, tapi tak bisa dibenarkan juga. Memamerkan sesuatu yang membuat orang lain merasa tersaingi, atau bahkan memupuk hal-hal negatif berbuah iri dan dengki.

Sungguh tidak perlu untuk berpura-pura nyaman berada di tengah-tengah mereka. Di luar sana, masih banyak lingkungan yang mau ikhlas menerima

masih banyak jalan via reddit.com

“Demi dianggap populer di kantor atau kampus, gue harus bisa masuk gank mereka. Gue harus baik-baik di depan mereka.”

Kecanduan popularitas di lingkungan tertentu memang sudah jadi penyakit sosial di abad ini. Seolah anggapan populer itu lebih mulia dibanding prestasi dan kebaikan diri, banyak orang yang rela berdarah-darah hanya demi menyandang predikat ini.

Sesuatu yang sebetulnya kurang perlu menjadi dipaksakan, sehingga tak jarang malah melukai perasaan. Harus memaksa diri bergaul dengan tim cheerleader, padahal fisiknya lemah dan gampang sakit. Atau rela menghabiskan uang jajan untuk beli make-up yang sedang tren, dan banyak teman yang memakainya. Duh, ini sih nyakitin diri sendiri namanya.

Jika lingkungan orang keren tak mau menerimamu, mengapa kamu tak menciptakan kesenanganmu sendiri? Toh, di sana akan jauh lebih nyaman

create your life! via rachmartino.com

Life is not about finding your self. Life is about create your self. –George Shaw

Sebab, kita bersuka cita bukan karena bisa memotong padi. Kita bersuka cita karena bisa memotong padi yang kita tanam sendiri. –Multatuli

Hidupilah hidupmu sendiri, Kawan. Karena jujur, tak ada yang lebih nyaman daripada semua itu. –Anonymous

Definisi keren dan bisa dibanggakan itu macam-macam. Bukan ketika kamu berhasil membuat cowok tertampan di kampus tergila-gila saja, menjadi seseorang yang bisa mengontrol diri sendiri juga merupakan bagian dari sebuah kuasa. Cukupkan dirimu pada segala sesuatu yang menyilaukan dan bisa melukaimu kapan saja. Di sini kamu bisa menciptakan segalanya sendiri, walau pernah direndahkan sana-sini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya