Oh, Jadi ini 8 Alasan Kenapa Orang Jepang Lebih Suka Tidur Lesehan Pakai Kasur Lantai?

Kasur lantai

Menyoroti tradisi orang Jepang rasanya nggak akan ada habisnya. Salah satu yang terkenal adalah gaya tidurnya yang lesehan menggunakan kasur lantai lipat. Berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia yang ‘nggak nyaman kalau nggak springbed‘, orang Jepang justru dengan santainya pakai kasur lantai tebal untuk lesehan yang bisa dilipat dan disimpan di dalam lemari. Sama kayak Doraemon dan Nobita itu lo!

Advertisement

Jadi, kasur lantai Jepang yang sering mereka pakai untuk tidur itu namanya futon. Lebih tepatnya perangkat tidur sih, karena biasanya sudah lengkap dengan selimutnya. Penasaran nggak sih kenapa orang Jepang terbiasa tidur melantai alih-alih pakai ranjang yang agak tinggi? Nggak kalah sama anak kosan deh pokoknya. Berikut Hipwee Tips rangkum alasan mereka memilih tidur lesehan dengan kasur lantai. Rupanya semua alasannya masuk akal dan layak kita contoh juga!

1. Tidur dengan kasur lantai tanpa ranjang sudah menjadi tradisi turun-temurun

sudah tradisi | credit: lusia83 via id.depositphotos.com

Jepang terkenal dengan masyarakatnya yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi peninggalan nenek moyangnya. Terlepas dari semakin banyak teknologi yang berkembang di negeri Sakura ini, nggak lantas mengubah kebiasaan menggunakan kasur lantai karakter khasnya. Cara tidur orang Jepang bahkan telah disempurnakan selama ribuan tahun, dan tidur dengan kasur lantai bisa jadi adalah yang ter-update dan masih diterapkan hingga saat ini.

2. Kasur lesehan seperti futon lebih cocok diterapkan untuk lantai rumah-rumah Jepang yang kebanyakan beralaskan tatami, terutama di kamar tidurnya

matras tatami | credit: surachetsh via id.depositphotos.com

Sudah ribuan tahun, masyarakat Jepang menggunakan matras khusus yang disebut ‘tatami’ untuk menutupi lantainya — sebagai pengganti karpet. Tatami sendiri terbuat dari jerami potong segar yang berubah warna seiring bertambahnya usia, teksturnya empuk dan bisa meredam suara. Nah, permasalahannya, tatami ini nggak bisa menopang furnitur yang besar dan berat seperti ranjang. Makanya, penggunaan kasur lipat seperti futon lebih cocok diletakkan di kamar tidur yang menggunakan alas tatami.

Advertisement

3. Lebih menghemat ruang dan nggak menuh-menuhin tempat

bisa langsung dilipat | credit: varandah via id.depositphotos.com

Rumah-rumah di Jepang mungkin ukurannya lebih kecil dari rumah di negara barat, tapi bukan berarti nggak punya ruang cukup untuk beraktivitas. Menggunakan kasur lantai adalah salah satu trik untuk menghemat ruang. Kasur lantai hanya akan digelar pada saat akan tidur saja, sedang di siang harinya, kasur lantai akan dilipat dan disimpan dalam lemari supaya area kamar tidur bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. Ruangan jadi tampak lebih lega.

4. Bisa disesuaikan dengan musim yang sedang berlangsung

Menariknya lagi, futon Jepang tersedia khusus untuk musim panas dan musim dingin. Nggak kayak kita yang sepanjang musim bakal pakai kasur yang itu-itu terus. Untuk musim panas, futon yang digunakan lebih ringan dan memiliki pori-pori khusus untuk membantu mengeluarkan aliran panas dari tubuh. Sedang di musim dingin, futon yang digunakan lebih padat agar tetap hangat sepanjang malam, mirip kasur lantai bulu kali ya~

5. Pakai kasur lantai futon jelas lebih hemat biaya ketimbang harus beli seperangkat kasur springbed yang mahalnya nyata

Sadar nggak sih kalau beli kasur itu mahal? Apalagi springbed, dengan dipan, sandaran kepala, selimut, bantal, seprai, dan macam-macam pelengkap lainnya. Sebaliknya, futon ini murah banget, nggak ada $100 per satu perangkatnya (sudah termasuk selimut). Bisa beli lengkap sekalian untuk dua musim! Terus kalau pas pindahan, kasur lantai murah ini nggak bakal repot-repot saat diangkut dan yang pasti irit ongkos jasa angkut kan~

Advertisement

6. Tidur lesehan dengan kasur lantai dipercaya dapat meluruskan punggung dan mencegah pegal-pegal

meluruskan tubuh | credit: Rawpixel via id.depositphotos.com

Ketika bicara soal kesehatan dengan tidur di lantai, sebagian besar manfaatnya akan sangat terasa di punggung. Mungkin di awal-awal mencoba, badan terasa nggak enak. Tapi lama kelamaan, rasa sakit di sepanjang leher hingga pinggang, juga postur tubuh perlahan membaik. Ini adalah efek yang paling sering dirasakan.

Permukaan futon yang relatif keras dan nggak memberi efek ‘tenggelam’ pada tubuh saat berbaring akan memaksa leher, bahu, punggung, dan pinggul dalam satu garus lurus. Inilah yang kemudian bisa meredakan nyeri dan membenahi postur tubuh. Keren, kan?

7. Menggunakan kasur lantai memudahkan penyelamatan diri saat terjadi bencana gempa

Saat terjadi gempa, akan lebih baik jika permukaan tubuh langsung menyentuh lantai untuk merasakan goncangannya dengan lebih jelas. Lagipula, penataan kasur lantai seperti futon yang mudah dilipat dan dimasukkan ke dalam lemari akan memudahkan penghuni rumah sewaktu-waktu terjadi bencana gempa. Ya, meski alasan ini bukan yang terpenting, tapi juga ada manfaatnya.

8. Lebih mudah menyediakan tempat dan sarana untuk tamu yang akan menginap

memudahkan tamu menginap | credit: darrinahenry via id.depositphotos.com

Menggunakan kasur lantai juga memudahkan orang Jepang untuk menyiapkan tempat bagi teman atau tamu yang akan menginap. Nggak perlu lagi menyuruhnya tidur di sofa atau harus berbagi kasur berdua, karena jika mereka menyiapkan futon cadangan, maka tinggal digelar saja untuk tempat tidurnya. Tentu saja ruangannya sudah clear dari perabotan yang bikin sesak, ya!

Terbukti ya, apa pun yang orang Jepang kerap lakukan itu nggak mungkin tanpa alasan. Di balik kebiasaan tidur lesehan menggunakan kasur lantai, rupanya terselip sederet manfaat yang mengagumkan, bukan?

Kalau kamu ingin mengadopsi gara tidur orang Jepang, bisa saja menggunakan kasur lantai busa, kasur lantai Palembang, bahkan kasur lantai ukuran 180×200 yang bisa untuk tidur berdua dengan pasangan. Pastikan lantainya kamu bersihkan secara berkala untuk mencegah debu atau kotoran beterbangan, ya. Jangan lupa juga gunakan alas yang nyaman agar hangat!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

salt of the earth, light of the world

Editor

salt of the earth, light of the world

CLOSE