Berbicara tentang kuliner di Indonesia memang tidak ada matinya. Keberagaman budaya menjadikan tiap kota punya ciri khas kuliner yang berbeda. Bahkan khazanah kuliner ini adalah salah satu hal yang membuat kita bangga dengan Indonesia.

Nah, kali ini kita akan menjelajahi ragam rasa yang bisa ditawarkan Semarang. Ibu kota Jawa Tengah ini tak hanya terkenal dengan Lawang Sewunya saja, lho. Dari yang klasik seperti loenpia dan wingko babad hingga yang belum tentu kamu tahu seperti es cong lik, ada banyak harta karun kuliner yang menunggumu di kota ini. Harta karun apa saja itu? Yuk cek satu per satu!

1. Semarang memang surganya toko lunpia. Tapi, lunpia dari Gang Lombok adalah yang paling wajib dicoba.

Lunpia gang lombok via yudivika.blogspot.com

Lumpia, lunpia, loenpia. Makanan yang menjadi saksi akulturasi budaya Cina dan Jawa ini menjadi salah satu kuliner yang wajib kita coba di Semarang. Di antara ratusan toko lunpia yang ada di sana, yang paling wajib kamu coba adalah “nenek moyang” dari semuanya: Lunpia Gang Lombok.

Lunpia Gang Lombok adalah toko lunpia paling tua di seluruh kota. Ya, gara-gara toko inilah jajanan yang awalnya berasal dari tradisi Tionghoa ini sekarang menjadi ciri khas Semarang. Di warung lunpia ini, kamu bisa memilih lunpia basah atau lunpia goreng. Kulit lunpianya terasa lembut di mulut, dipadu dengan isian rebung muda, udang, dan telur yang pas dan tidak berbau amis. Tidak lupa ada saus tauco, daun bawang segar, dan cabe rawit untuk menemanimu makan.

Advertisement

Siem Swie Kiem membuka kiosnya setiap hari mulai pukul 08.00-16.00. Tapi jika tidak ingin kehabisan sebaiknya datang lebih awal, karena biasanya toko kecil ini telah kehabisan lunpia pada pukul 14.oo. Cukup dengan membayar Rp. 12.000 kamu bisa menikmati satu porsi lunpia yang biasanya sudah dipotong jadi empat untuk memudahkan pelanggan memakannya. Kamu juga bisa membungkusnya untuk dijadikan oleh-oleh: 1 besek biasanya berisi 10 lunpia lengkap dengan saus yang dibungkus daun pisang.

Toko kecil ini terletak di Jl. Gang Lombok, no. 11, atau tepat berada di dekat Klenteng Tay Kak Sie di sekitar Pasar Johar.

2. Tahu Gimbal “Lumayan” adalah sajian yang rendah hati. Perpaduan bakwan dan saus kacangnya sungguh lezat dan membuatmu selalu mau lagi.

Nikmatnya tahu gimbal Plampitan via lesarosahat.wordpress.com

Makanan yang terdiri dari potongan tahu goreng, lontong, tauge, telur, rajangan kubis mentah, dan gimbal ini menjadi ciri khas Semarang sejak dulu. Gimbal sendiri sebenarnya adalah bakwan udang yang disiram dengan saus kacang. Sekilas, sajian ini terlihat seperti tahu campur atau pecel khas Madiun. Bedanya, saus kacang tahu gimbal lebih encer daripada saus pecel. Makannya pun dilengkapi dengan petis udang yang hanya bisa kamu temukan di Semarang.

Pedagang tahu gimbal ini banyak tersebar di daerah taman KB, depan SMA 1 Semarang, jalan Menteri Supeno, atau sekitar Masjid Baiturrahman. Tapi, yang menjadi andalan warga Semarang adalah Tahu Gimbal Lumayan atau populer dengan sebutan tahu gimbal Plampitan. Yang menjadi ciri khas warung ini adalah ukuran tidak tanggung udang yang berada di dalam gimbal, nikmati dengan perlahan gurihnya bagian yang paling nikmat yaitu lemak yang terletak di dekat kepala udang. Tahu gimbal Plampitan ini cocok buat kamu yang sedang kelaparan, karena kuantitasnya yang tidak main-main.

Dengan merogoh kocek sebesar Rp. 20.000, kamu dapat menikmati gurihnya tahu gimbal yang terletak di Jl. Plampitan, no.54, warung kecil ini buka mulai pukul 11.oo-21.00. Dan bersiaplah mengantri karena tahu gimbal di warung ini biasanya habis lebih awal.

3. Mau tahu yang bisa dimakan sambil keliling kota? Kalau begitu, bungkus saja satu tahu pong Gajah Mada.

Tahu pong gajah mada via dewo.wordpress.com

Kamu tahu kenapa tahu ini disebut tahu pong? makanan ini berwujud tahu yang digoreng garing, tetapi kosong di dalamnya, rasanya yang gurih mampu memanjakan lidah kamu. Tahu ini cocok dimakan ketika masih panas, bisa dicocol dengan petis udang yang encer apalagi jika dicampur dengan acar dan ulegan kasar cabai hijau.

Tempat yang paling pas buat kamu datangi buat menikmati tahu pong adalah tahu pong Gajah Mada yang berseberangan dengan gereja Bethel, tepatnya di Jl. Gajah Mada, no. 63 B. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp. 8.000 – Rp. 11.000.

4. Mumpung masih di Jl. Gajah Mada, jangan lupa cicipi pisang plenet yang punya beragam variasi rasa.

Hangatnya pisang plenet via laurentiadewi.com

Kuliner yang satu ini bukan berasal dari planet lain, kata “plenet” berasal dari bahasa jawa yang berarti pipih. Untuk menjaga kualitas rasa, hanya pisang kepok yang digunakan dalam kuliner ini. Pisang dibakar hingga layu diatas arang, kemudian di-“plenet” atau dipipihkan menggunakan papan kecil seperti telenan. Agar rasanya menarik ditaburi gula halus putih di atasnya, kamu bisa memilih variasi rasa lainnya seperti selai nanas, coklat, atau keju.

Untuk menikmati makanan yang memiliki bentuk mirip sandwich ini, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp. 8.000. Pisang plenet ini biasa dijajakan sore hari mulai pukul 18.00 hingga tengah malam. Sayangnya, jajanan ini kini mulai jarang ditemui, pisang plenet Pak Tuko yang biasa mangkal di Pasar Semawis dan pusat jajanan toko Sri Ratu adalah salah satu pedagang yang masih setia berjualan sejak tahun 1960, dengan pelanggan yang semakin menurun tetapi tetap mempertahankan kualitas makanannya, makanan ini menjadi destinasi kuliner yang wajib kamu sambangi.

5. Untuk orang-orang tercinta di rumah, belilah sepaket bandeng presto yang awet dan murah.

Bandung presto yang nikmat via oursemarang.com

Duri yang lembut di dalam bandeng berasal dari proses pengolahan yang kompleks. Bandeng dibumbui dengan bawang putih, kunyit, dan garam kemudian dimasak dalam panci bertekanan tinggi (presto) beralaskan daun pisang. Bandeng ini kemudian disimpan dalam kemasan yang kedap udara sehingga bisa awet selama beberapa minggu jika disimpan di dalam kulkas, penyajiannya mudah, cukup digoreng begitu saja atau dibaluri telur terlebih dahulu. Dilengkapi dengan sambal, kuliner ini akan terasa nikmat apabila kamu makan bersama nasi putih yang masih panas.

Kamu bisa mengunjungi Bandeng Presto Juwana yang terletak di Jl. Pandanaran, no. 57. Harga bandengnya bervariasi, mulai dari Rp. 35.000 – Rp. 68.ooo per kilogramnya.

6. Wingko babad juga bisa jadi alternatif buah tangan. Untuk yang asli, belilah wingko cap “Kereta Api”

Lezatnya cemilan wingko babad via pips-project.com

Panganan khas kota Atlas ini biasa dikemas dalam besek atau kardus kotak. Wingko sendiri merupakan jajanan yang terbuat dari ulenan beras ketan dan kelapa yang dibakar. Tidak usah khawatir, karena walau kuliner ini dibuat tanpa bahan pengawet, ia bisa awet selama 2-5 hari. Saat ini tersedia berbagai varian rasa yang dapat kamu nikmati, seperti kelapa muda, nangka, coklat, hingga durian.

Wingko Babad cap “Kereta Api” adalah wingko babad yang asli, karena menjadi pioner berdirinya usaha wingko yang lain. Kata “Babad” sendiri berasal dari nama daerah asal D. Muljono di Jawa Timur, beliau merintis usaha tersebut dari tahun 1946. Terletak di Jl. Cenderawasih, no.4, Bubakan, ia buka mulai pukul 07.00 -18.00 dan mematok harga begitu terjangkau, mulai dari Rp. 2.000- Rp 2.800 per buah.

7. Taco? Bukan, ini kue lekker Pak Paimo!

Lekker Pak Paimo yang menggoda via www.tripadvisor.com

Ingat makanan yang kita beli seharga Rp. 200 ketika SD dulu? yups, lekker adalah makanan populer sebelum cepres melanda. Di Semarang terdapat pedagang kue lekker yang beroperasi sejak tahun 1978 di lapak kaki lima depan SMA Kolose Loyola di Jl. Karang Anyar. Tidak terlalu jauh dari rumah sakit Telogorejo, Pak Paimo berjualan dari pagi hingga sore.

Dengan harga mulai dari Rp. 1.000- Rp. 15.000, kamu dapat menikmati 2 macam varian yang ditawarkan, jika biasanya lekker yang kamu temui tersaji tipis dengan isian gula pasir, maka kuliner pak Paimo tersaji dalam 2 ketebalan. Yang tipis kering berisi karamel atau coklat, biasa disebut tipker, atau yang tebal dengan varian isi antara lain telur sosis keju, keju abon, jagung manis, hingga telur sosis tuna keju plus sambel pedasnya yang memanjakan lidah. Melihat bentuknya, mungkin kita bisa bilang kalau ini tacos asli Semarang.

8. Semarang memang bisa keterlaluan panasnya. Namun Es Cong Lik alias “Kacung Cilik” akan membuat rasa gerahmu reda.

Segarnya es Cong Lik via shesailormoon.blogspot.com

Kota Semarang memang terkenal dengan cuacanya yang panas, tetapi panasnya kota metropolitan itu akan hilang begitu kamu menyantap es Cong Lik, es puter khas Semarang yang terkenal dengan citarasa buah yang segar. Tanpa bahan pengawet olahan ini terdiri dari berbagai macam varian rasa. Seperti, coklat, sirsak, kopyor, leci, kelengkeng hingga belewah dan kacang hijau. Tapi kamu harus mencoba varian durian dan alpukat yang populer.

‘Cong Lik’ sendiri berasal dari kata “Kacung Cilik” atau pembantu cilik. Sebab, Sukimin, pemilik warung ini, saat kanak-kanak pernah menjadi pelayan orang Jepang yang tinggal di Hotel Jansen. Dulu, Sukimin memulai bisnis es putar ini di malam hari karena keterbatasan biaya. Sekarang, kamu dapat menikmati es Cong Lik di siang hari dengan harga mulai dari Rp. 9.000 – Rp. 12.000, letaknya berada di dekat rumah sakit Telogo Rejo Jl. KH Ahmad Dahlan.

9. Tak sempat ke Pati? Kamu juga bisa merasakan kenikmatan nasi gandul di Semarang

Nikmati nasi gandul di malam hari via seputarsemarang.com

Bagi kamu yang belum tahu, nasi gandul sebenarnya termasuk kuliner khas daerah Pati. Tapi, di Semarang rasa nasi gandul yang ditawarkan tidak berbeda dengan yang disajikan di daerah asalanya. Nasi gandul sendiri merupakan basi hangat yang disajikan dengan kuah santan kecap yang sangat gurih, disajikan dengan potongan daging sapi atau jeroan empuk serta telur diatasnya.

Kuliner hangat yang cocok kamu santap di malam hari ini dapat kamu nikmati di nasi gandul Pak Subur yang terletak di Jl. KH Ahmad Dahlan, tepat di seberang rumah sakit Tegal Rejo dan sebelah timur Hotel Horison. Buka dari sore hingga malam hari dengan harga terjangkau.

Berhubung jeroannya “wow”, kamu yang punya kolesterol tinggi jangan banyak-banyak makan nasi gandul ini ya!

10. Sebelum meninggalkan Semarang dan kembali pulang, pastikan sepiring mie kopyok telah “mampir” ke perutmu

Mie kopyok Pak Dhuwur via resepcaramemasak.info

Mie kopyok khas Semarang biasa dijual di pagi hari. Isinya? Mie kuning dicampur tauge dan remahan karak (semacam krupuk dari nasi) kemudian disiram kuah berupa air bawang putih, daun seledri dan bawang goreng, serta kecap manis.

Kamu dapat dengan mudah ditemui. Tapi, menurut orang Semarang, mie kopyok yang terkenal adalah mie kopyok Pak Dhuwur, warung tenda sederhana yang terletak di belakang kantor PLN di Jl. Tanjung. Cukup merogoh kocek seharga Rp. 7.000, kamu bisa merasakan lezatnya kuliner yang hanya kita temui di Semarang ini. Jadi sebelum pulang kembali ke rumah, pastikan seporsi mie kopyok yang lezat ini sudah mampir ke dalam perutmu!

Gimana? Lidahmu cukup tergoda untuk mencicipi kuliner khas Semarang ini? Kalau ada yang lupa Hipwee ulas di artikel ini, tolong beri tahu kami lewat kolom komentar, ya.