Begini Potret Cioray, Desa Tertinggal yang Lokasinya Sangat Dekat dengan Gemerlapnya Ibu Kota

Cioray desa tertinggal

Siapa pun juga mungkin tahu, masih banyak sekali daerah tertinggal di Indonesia. Wilayah-wilayah belum tersentuh pembangunan, berbagai fasilitas, dan kenyamanan yang kita nikmati sehari-hari di kota-kota besar. Makanya jangan buru-buru frustasi atau merasa paling menderita kalau ada pemadaman listrik bergilir maupun gangguan sinyal, ingatlah, banyak daerah lain di negeri ini bahkan belum dialiri listrik lo.

Advertisement

Jangan dulu bicara soal aliran listrik, masih banyak desa yang bahkan bisa dibilang terisolasi dari ‘dunia luar’ karena tidak punya akses jalan memadai. Bukan cuma di luar Jawa atau di pulau-pulau terpencil saja, desa tertinggal seperti ini bahkan bisa ditemukan di dekat Ibu Kota, Jakarta. Seperti di daerah bernama Kampung Cioray, yang terletak di Desa Leuwikaret, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Meski terletak di Bogor, kampung ini kabarnya masih belum dialiri listrik dan tidak memiliki jalan yang layak. Padahal dekat banget lo sama Jakarta 🙁

Meski sangat dekat dengan wilayah metropolitan, Cioray mirisnya masih sedikit sekali tersentuh pembangunan. Jalanan terjal tak beraspal jadi satu-satunya penghubung desa ini dengan dunia luar

Kondisi jalanan Cioray via bit.ly

Seperti yang telah ditulis di atas tadi, kalau kalian mendengar sebuah daerah yang tertinggal, pasti langsung kepikiran derah pelosok di luar Jawa. Tapi faktanya, ada lo satu desa tertinggal yang minim tersentuh pembangunan, padahal letaknya tak jauh dari Jakarta. Kampung Cioray yang letaknya tak jauh dari kawasan Jakarta Timur ini, ternyata terbilang masih terisolasi karena ketiadaan infrastruktur jalan yang memadai. Bahkan aliran listrik pun belum rata dan baik di daerah ini.

Bisa dibayangin ‘kan, kalau misalnya listrik masih termasuk hal yang baru — tentunya kondisi infrastruktur lain seperti infrastruktur informasi maupun pendidikan, juga masih sangat tertinggal.

Pernah juga diceritakan oleh Kika Syafii lewat tulisannya di Kompasiana yang berjudul Kampung Cioray Bogor Tak Beraspal, Lapangan Tenis Aher Rp 1,35M‘ , masyarakat di Kampung Cioray sebagian besar diketahui bermatapencaharian sebagai petani. Namun untuk sampai ke pasar paling dekat yang berjarak 15 km saja, mereka membutuhkan waktu perjalanan sekitar 3 jam. Kontur jalanan di desa tersebut rata-rata masih berbentuk jalanan licin dan berbatu.

Di tengah segala keterbatasan itu, hebat banget sih anak-anak Cioray yang masih semangat pergi ke sekolah untuk menimba ilmu ini. Mereka terkadang sampai harus menginap dalam perjalanan ke sekolah

Anak-anak Cioray via bit.ly

Seperti yang telah ditulis di sebuah thread di laman Kaskus ini, anak-anak pelajar tingkat SMP di Cioray terkadang harus rela bermalam di desa-desa tetangga untuk bisa aman menuju sekolahnya. Sebab jika melakukan perjalanan dari rumah masing-masing tiap harinya, akan memakan waktu yang lumayan lama. Perjalanan di desa tersebut dapat membahayakan keselamatannya jika tanpa didampingi oleh orang dewasa. Selain jalanan yang sangat licin, babi hutan sering muncul di pekarangan sekitar

Advertisement

Bayangin aja mereka hendak berangkat ke sekolah, kemudian di tengah perjalanan turun hujan lebat dan bertemu dengan babi hutan, ngeri sekali ya.

Namun, hal itu tak menyurutkan semangat belajar mereka. Mereka tetap antusias untuk menuntut ilmu di tengah kondisi yang penuh dengan keterbatasan dan berbagai halangan tersebut.

Padahal seperti banyak tempat lain di Indonesia, Kampung Cioray pun menyimpan banyak keindahan yang sebenarnya bisa dimaksimalkan potensinya

Kontur alam Cioray via bit.ly

Jalanan yang masih asri dan penuh pemandangan hijau sejauh mata memandang, adalah daya tarik tersendiri yang sebenarnya mungkin bisa dikembangkan potensinya. Tetapi jangankan potensi wisata, banyak aspek kehidupan sehari-hari di Cioray masih sangat terbatas karena kondisi pembangunan yang minimal.

Cioray hanyalah satu potret kesenjangan dan ketimpangan pembangunan yang masih jadi masalah kronis di negeri ini. Lihat saja perjuangan-perjuangan mendistribusikan logistik pemilu ke wilayah-wilayah terpencil kemarin, atau sekelompok siswa SMP di Kalimantan Selatan yang baru saja diberitakan harus mengarungi lautan selama 17 jam demi mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Ibu Kota Kabupaten. Kamu juga mungkin mengetahui desa atau daerah-daerah tertinggal lain yang berada dekat wilayahmu.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE