Cuma Orang Kurang Piknik yang Bilang, “Lelaki Jawa dan Gadis Sunda Nggak Boleh Nikah!”

Sudah jadi mitos ratusan tahun bahwa orang Jawa dan Sunda tidak bisa bersatu. Lebih spesifiknya, lelaki Jawa dan gadis Sunda tidak diperkenankan menikah. Beragam sekali alasannya, ada yang bilang keluarganya nanti tidak akan bahagia dan banyak masalah. Ada juga yang selalu bilang cewek Sunda materialistik, atau cowok Jawa terlalu kolot bahkan suka menipu. Banyak lah yang jadi alasan buat menghakimi bahwa Jawa dan Sunda nggak bisa berjodoh? Duh, kok segitunya ya.

Hipwee Travel kali ini mau mengulas mitos pernikahan antar daerah yang cukup tabu ini. Sejarah sampai realita masyarakat saat ini akan kami ulas tuntas. Kenapa sih nggak boleh nikah Jawa-Sunda? Ah, yang bilang itu jangan-jangan kurang piknik aja. Butuh traveling mungkin. Hehe.

Kata orang tua sih, jangan pernah nyari calon istri dari Suku Sunda. Katanya bakal nggak cocok sama mertua

duh, ampun yah...

duh, ampun yah… via www.shutterstock.com

Ayah Koko : Ko, kamu nggak serius kan sama Neneng?

Koko : Serius lah Yah, udah cocok banget sama doi

Ayah Koko : Heh, Neneng itu orang Sunda. Nggak cocok buat orang Jawa kaya kamu.

Koko : Kok gitu sih, Yah 🙁

Usia kamu mungkin sudah wajib usia nikah. Teman-temanmu entah kenapa seperti sepakat kasih undangan berturut-turut. Kamu sekarang pun tiap pekan rutin datang kondangan. Duh, kondangan mulu kapan giliran kamu dikondangin ya? Yang ditanya dan bertanya sama-sama tidak tahu jawabannya.

Perihal restu orang tua emang rumit ya. Kamu yang ngejalanin tapi nggak bisa dipungkiri kalau orang tua selalu ikut campur urusan seperti itu. Gadis Sunda nggak boleh nikah sama pria dari Jawa. Ya gadis Sunda katanya matre lah, hedon lah, nggak tau unggah ungguh (sopan santun) lah. Pria Jawa nggak baik lah, suka bohong, ndeso dll. Aneh dan nggak beralasan kan?  Ya, maklum sih, mereka ingin yang terbaik buat anaknya. Tapi kalau masih terjerat mitos jadul macam itu, kan kita juga yang repot? Masa iya udah cocok dan sama-sama cinta eh nggak jadi nikah gara-gara suku doang.

Oke deh, kita coba cari tau dulu sejarah permusuhan Jawa-Sunda itu darimana. Eh ternyata perang dingin itu sudah dimulai sejak Perang Bubat, zaman Majapahit

pernikahan sunda

pernikahan sunda via thebridedept.com

Alkisah Putri Kerajaan Sunda Galuh yang bernama Dyah Pitaloka dilamar oleh Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit paling terkenal. Dalam perjalanannya ke Majapahit, rombongan Kerajaan Sunda Galuh dicegat oleh Patih Gadjah Mada dan pasukannya. Sebagai informasi, Sumpah Palapa tentang janji penyatuan Nusantara oleh Majapahit tinggal menyisakan Kerajaan Sunda Galuh saja. Jadi Gadjah Mada meminta dengan baik agar kerajaan itu bergabung di bawah Majapahit. Raja Sunda yang akan menikahkan anaknya merasa terhina dengan permintaan itu. Timbullah pertempuran tidak imbang antara kedua belah pihak. Raja Sunda terbunuh dan Dyah Pitaloka nan cantik itu pun bunuh diri. Sebuah akhir tragis bagi Kerajaan Sunda Galuh. Dendam itu terasa hingga sekarang.

Nah, itulah kenapa laki-laki Jawa dan perempuan Sunda sering dikatakan tidak cocok dan keluarganya bakal tidak langgeng. Di Jawa Barat juga tak akan ada Jalan Majapahit maupun Gadjah Mada. Dendam ratusan tahun yang kini masih sering digunakan untuk melarang pernikahan Jawa-Sunda.

Ealah, hari gini masih ngeributin mitos, jodoh mah jodoh aja. Dia bisa datang dari suku apapun kok

traveling yuk

traveling yuk via www.shutterstock.com

Mitos ada karena kepercayaan tentang hal itu yang berlangsung turun temurun. Jadi bisa benar bisa enggak. So, nggak usah diambil pusing. Kalau sudah waktunya, jodoh akan datang bisa dari mana saja. Dari suku Sunda, Minang, bahkan Papua. Bisa muncul dari Jakarta, Bandung atau Jogja. Jodoh mah jodoh aja. Mitos nggak usah terlalu dipercaya ya.

Kalau kamu suka traveling dan sering jalan-jalan ke berbagai daerah pasti bisa lebih berpikiran terbuka. Hal-hal diskriminatif seperti itu seharusnya sudah tidak ada

suka piknik

suka piknik via www.shutterstock.com

Buat kamu yang doyan traveling pasti pikiranmu jadi lebih terbuka. Pergaulan dengan banyak orang dari berbagai daerah dan suku membuat tak ada lagi rasa curiga. Berbaur bersama orang lain membuatmu merasa bahwa tidak selayaknya kita mendiskriminasi sesama hanya karena suku dan warna kulitnya. Perjalanan hidup telah menempamu jadi pribadi moderat dan saling menerima apa adanya.

Pun dengan jodoh, kamu akan lebih terbuka untuk mencari pendamping. Bukan hal remeh temeh sebagai pertimbangan dalam memilih pasangan. Memilih jodoh akan lebih mengutamakan kepada perilaku, kepribadian, kualitas spiritual alih-alih hanya memilih berdasar suku atau ras tertentu. Kalau kamu masih mikir jodoh Jawa-Sunda itu nggak bakal langgeng, udah lah kamu piknik dulu yang jauh sana.

Jodoh akan datang dari arah dan waktu yang tepat. Terima saja, asal tidak berbenturan dengan hal-hal yang prinsipil

shutterstock_438829816

Jodoh bisa datang di waktu yang tidak bisa ditentukan. Bisa memang datang tiba-tiba, atau memang harus menunggu lama. Tapi yakinlah, jodoh akan datang dari arah dan waktu yang tepat. Tugas kamu adalah memantaskan diri. Perbaiki kualitas diri, tingkatkan ibadah, serta bekerja keras adalah bentuk usaha untuk menjemput jodoh terbaik. Bukan malah berpikir suku mana yang cocok atau tidak. Percayalah, kalau memang dia jodohmu, mau kamu apakan ya tetap akan jadi jodohmu. So, tenang aja Mblo. Nggak usah panik ya kalau kelamaan jomblo. Hahaha

Selain itu, perbanyaklah bergaul dan traveling. Ya siapa tau jodohmu datang pas kamu lagi jalan-jalan. Dan ketika berbeda suku dan daerah dari kamu, nggak ada masalah kan? Kalau cinta, suka dan tidak berbenturan dengan hal prinsip seperti perbedaan agama dan jenis kelamin yang sama, tentu nggak masalah lah ya. Hehehe.

Yuk banyakin piknik biar asik!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Traveler Baper, Penghulu Kaum Jomblo