Pergi menyusuri ekostisme alam Indonesia dan dunia adalah barisan mimpi yang selalu menari dipikiranku. Rasanya dibandingkan dengan memiliki mobil dan barang mewah, hasrat untuk bisa melihat setiap jengkal keajaiban dunia dan segala isinya selalu terasa lebih menggoda.

Tapi di balik impian melakukan pesiar ke berbagai tempat memikat, ada satu khayalanku yang juga senantiasa membayangi. Khayalan tersebut adalah membawa ibu untuk pergi bersamaku menikmati setiap petualangan yang selalu diidamkan. Ya, bersamamu aku ingin membuktikan sendiri betapa cerlangnya isi semesta ini. Seperti aneka cerita yang pernah mampir di telinga tentang betapa hebatnya lekuk dunia.

Advertisement

Sehat-sehat ya Bu. Aku masih ingin mengajakmu menyaksikan keelokan dunia ini

Jadi dewasa ternyata membuat kakiku terpancang karena berbagai kewajiban. Maaf ya Bu, kalau hingga saat ini aku belum bisa membawamu mengecap perjalanan

aku sangat sibuk bekerja

aku sangat sibuk bekerja via www.flurtmag.com

Setelah tenggelam dalam kesibukan dunia kuliah yang banyak menghisap waktu kebersamaan kita, kini setiap detik yang kupunya kembali tersita dengan aktivitas kantoran yang mengakuisisi hampir sebagian besar hariku. Mulai dari pagi hari hingga malam, aku hanyut dalam rutinitas orang dewasa. Menyelesaikan tugas kantor yang seperti tidak ada habisnya. Aku pun disibukkan dengan agenda harian bergulat merampungkan kewajiban di depan layar.

Jika sebelumnya kita masih punya waktu untuk mengobrol bersama, kini kebiasaan tersebut terasa begitu langka. Percakapan di pagi hari sebelum aku melangkah luar rumah memang masih ada namun dengan kualitas yang jauh berbeda. Begitu pun saat malam harinya, aku yang sudah kelelahan sudah tidak lagi punya cukup tenaga untuk sekedar mengajakmu bercengkarama. Ibu memang tidak pernah mengajukan protes sama sekali. Tapi tetap saja ada sesal setiap kali perbincangan hangat yang biasa ada tak lagi bisa dilakoni.

Advertisement

Sejujurnya aku ingin sekali mengajak ibu keluar berganti suasana. Menghabiskan sore dengan secangkir teh di kota berbeda. Menapaki setiap daerah yang katanya punya aroma dan kejutan yang tidak bisa kuduga. Tapi apa daya, kesibukanku kini nampaknya belum bisa mengizinkan kita untuk merealisasikan itu semua. Pun dengan tabungan yang belum terkumpul seolah menghadang aku untuk mengajak ibu berpetualang.

Keinginan untuk melakukan pelesiran sesekali pernah ibu utarakan. Namun sayangnya harap itu berkali-kali gagal untuk kita wujudkan

mimpi itu harus tertunda

mimpi itu harus tertunda via www.google.co.id

Tidak adil memang kalau bila hingga hari ini aku belum bisa memanjakanmu dengan perjalanan menyenangkan. Masa muda yang kau punya dihabiskan membanting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Pendapatan ayah yang tidak seberapa membuatmu tidak bisa berpangku tangan begitu saja. Biar pun ibu adalah seorang wanita, mencari nafkah kau masukkan dalam daftar kewajibanmu pula.

Sepulangnya dari kantor kegiatan sebagai ibu rumah tangga masih juga kau genapkan dengan sempurna. Mulai dari membimbingku mengerjakan pekerjaan sekolah sampai dengan memastikan asisten rumah tangga menyelesaikan tugas yang tidak bisa dikerjakan olehmu sepenuhnya. Usaha untuk menyeimbangkan antara pekerjaan kantor dengan tugas sebagai ibu selalu tuntas dikerjakan. Maka dari itu tidak heran bila selama masa itu kau tidak sempat untuk melakukan banyak petualangan. Seluruh tenaga dan waktu yang dipunya di dedikasikan guna mengurus keluarga sebaik-baiknya.

Sesekali ibu pernah bercerita tentang mimpi bersantai dan berjalan-jalan. Cerita tentang betapa romantisnya kota-kota di Eropa yang kau dengar di tempat kerja kau ceritakan ulang kepadaku. Begitu pula dengan keelokan pulau-pulau Indonesia yang kau dapat dari sanak saudara yang pernah berangkat sana. Waktu kecil dulu aku hanya bisa mendengarnya dengan baik. Namun setelah dewasa kini sudah tiba waktunya aku mewujudkan berbagai keinginan itu.

Kini anakmu sudah beranjak dewasa. Aku mulai punya daya mewujudkan mimpi jadi nyata. Membawa Ibu traveling salah satunya

Membawa Ibu traveling jadi impianku

Membawa Ibu traveling jadi impianku via tumblr.com

Sebetulnya jika mau egois ibu bisa saja pergi melanglang buana dengan gaji yang setiap bulannya diterima. Dengan uang tersebut kesempatan untuk menjamahi setiap kota impian sangat mungkin dilakukan. Namun sayangnya besar kebutuhan bulanan yang diperlukan tidak cukup jika harus dibagi lagi dengan alokasi dana berjalan-jalan. Ibu pun kembali harus menggenggam mimpi menapaki daerah-daerah terindah yang selalu menanti untuk dikunjungi.

Ya, ibu adalah sosok yang selalu mengutamakan kepentingan anak-anaknya dibandingkan dengan diri sendiri. Aku juga ingat ibu hobi sekali mengumpulkan kiriman kartu pos yang datang dari berbagai kenalan di berbagai daerah. Setelah menerima kiriman tersebut biasanya ibu akan mengatakan kalimat-kalimat seperti:

Kumpulin dulu kartu pos-nya nanti kalau sudah punya uang baru ke sana

Nanti kalau kamu sudah besar ajak ibu ke sini ya. Kita jalan-jalan

Barisan-barisan kalimat yang masih tersimpan rapi di ruang ingatanku itulah yang selalu membakar api semangatku untuk mewujudkan impian itu. Semoga saja ibu belum melupakan berbagai tempat indah yang selalu ibu ingin datangi. Bu, aku ingin sekali mengajakmu bersantai menunggu matahari tenggelam di pinggir pantai Gili Trawangan. Merasakan ajaibnya dingin salju di Eropa, atau mungkin yang paling sederhana duduk melihat orang berseliweran di suasana malam kota Yogyakarta.

Ibu sudah mengorbankan banyak hal. Sekarang giliranku membalas kebaikan Ibu dengan membawamu ke tempat-tempat yang selama ini cuma ada di bayangan. Ini pasti akan jadi perjalanan yang menyenangkan ‘kan Bu?

Semoga Tuhan mengizinkan

Semoga Tuhan mengizinkan via www.google.co.id

Berbagai mimpi untuk bisa datang membelah dunia sudah kupikiran sebaik mungkin. Diam-diam selalu kusisihkan sebagian pendapatan untuk bekal kita melakukan perjalanan. Jika nanti uangnya sudah ada, kuserahkan pilihan kepada ibu semuanya. Mau terlebih dahulu pergi mendatangi Rumah Tuhan di tanah suci, berlibur ke pantai-pantai eksotis yang lihat dulu, atau bersantai di villa atas gunung? Semuanya terserah kepadamu, Bu.

Untuk semua harap yang sedang kuusahakan, kumohon ibu turut pula mendoakannya. Semoga keinginanku untuk membawamu menyaksikan berbagai tempat indah itu bisa segera terlaksana. Tidak pernah lupa pula aku senantiasa memanjatkan mohon pada Tuhan untuk memanjangkan umur dan menganugerahimu kekuatan untuk tetap bisa berjalan dan menyusuri destinasi impian kita. Tentu ini akan jadi pengalaman yang tidak akan pernah kulupa selamanya.

Perjalanan seru sudah kurancang, uang tabungan diam-diam sudah mulai dikumpulkan, kini tinggal menunggu waktu dan restu dari Sang Maha Kuasa itu mewujudkan itu.

Semoga kita bisa segera melakukan perjalanan ya, bu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya