Apakah antrian manusia bisa menyebabkan kematian? Agak mustahil sih sebenarnya, tapi harus dilihat antrian tersebut terjadi di mana. Jika terjadi di Mount Everest, siapapun bisa meninggal dunia hanya karena antrian manusia. Sayangnya itulah yang terjadi di Everest, pegunungan Himalaya beberapa hari lalu.

Pada tanggal 22 Mei 2019 lalu, ratusan pendaki mencoba untuk meraih puncak tertinggi dunia, Mount Everest. Pendaki gunung dari berbagai belahan dunia mencoba untuk menaklukkan puncak setinggi 8.848 meter tersebut. Namun antrian pendaki terjadi saking banyaknya yang mendaki dalam waktu bersamaan. Hingga bikin oksigen makin tipis bagi siapapun yang tengah berada di sana.

Ramainya pendakian di Everest bikin kemacetan panjang terjadi di puncak tertinggi dunia tersebut. Setiap tahunnya ribuan pendaki ingin menggapai Everest

antrian manusia di everest via edition.cnn.com

Advertisement

Sebagai puncak tertinggi dunia, Mount Everest yang terletak di Nepal begitu didamba oleh pendaki dunia. Puncak berketinggian 8.848 mdpl ini selalu jadi mimpi untuk disinggahi. Meskipun pendakian ke sana begitu mahal (bisa ratusan juta rupiah) peminatnya nggak ada habisnya. Ribuan orang mendaki Mount Everest setiap tahunnya.

Namun ada satu hal yang harus dipahami, bahwa tidak setiap hari bisa dilakukan pendakian menuju puncak Everest. Waktu terbaik mendaki hanya beberapa hari saja. Jadi wajar apabila terjadi penumpukan pendaki di satu waktu. Pendaki pun mengantri untuk meniti trek pendakian yang berbahaya sekaligus dengan udara yang begitu tipis.

Dikarenakan antrian pendakian terlalu panjang akhirnya menimbulkan kemacetan di trek menuju Everest. Tipisnya oksigen bikin dua pendaki harus kehilangan nyawa di atas sana

antri sepanjang ini dengan oksigen tipis emang bahaya banget via thehimalayantimes.com

Rabu lalu (22 Mei 2019) pendakian ke Everest dipadati pendaki. Terhitung ada sekitar 320 pendaki yang mendaki secara hampir bersamaan karena cuaca sedang bagus. Namun antrian manusia yang terlalu panjang bikin perjalanan kian lambat dan terjebak kemacetan di ketinggian 8.000 mdpl di kawasan yang disebut sebagai zona kematian (Death Zone). Di area ketinggian seperti ini, oksigen cuma tersisa sepertiga dibandingkan di permukaan laut. Manusia hanya bisa bertahan beberapa menit di lokasi tersebut. Oksigen tipis, perjalanan terhambat karena macet, bakal berakibat fatal pada fisik pendaki. Dua pendaki pun harus kehilangan nyawa di sana.

Dua pendaki itu bernama Anjali Kurkarni asal India dan Donald Lynn Cash asal Amerika. Keduanya sama-sama berusia 55 tahun

camp di everest via phys.org

Advertisement

Anjali Kurkarni, 55, adalah pendaki asal India yang harus meninggal dunia sekembalinya turun dari Everest. Dia terjebak di atas pos 4 pendakian karena terjadi kemacetan saking banyaknya pendaki. Oksigen yang tipis dan fisik yang sudah lemah membuat Anjali harus menutup mata di gunung yang didambanya.

Begitu pula dengan Donald Lynn Cash, 55, yang juga harus meninggal dunia di Everest. Ia meninggal tepat setelah mencapai Everest. Cash menghembuskan nafas terakhir di ketinggian 8.770. Namun melalui penuturan anaknya, Cash bersyukur bisa mencapai puncak yang telah ia impikan selama 40 tahun. Mati di sana pun jadi salah satu hal yang membanggakan baginya.

Lebih dari 200 pendaki telah meninggal dunia di Everest sejak tahun 1922. Sebagian besar mayat pendaki berada di bawah es dan terawetkan secara alami. Pemerintah Nepal akan melakukan pembersihan sampah dan mayat pendaki dari puncak tertinggi dunia tersebut.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya