NAMAKU Kalatimur Merona, nama pemberian ibuku tercinta. Aku lahir di waktu sangat pagi, orang menyebutnya “waktu fajar”. Selamat kepadaku, aku lahir di keluarga yang penuh kasih. Namaku Kalatimur Merona, aku tak tahu … sepertinya nama ini begitu berharga bagiku. Nama ini selalu kudengar di setiap lantunan doa bapak dan ibuku, di waktu pagi, siang, sore, dan malam. Atau mungkin di setiap embusan napas mereka.

***

Advertisement

TIBA-tiba dari arah belakang, pohon mangga yang malang itu disambar petir jalang dan mengagetkan murid-muridku tersayang. Suaranya meraung dari pojok ruangan sampai ke sudut hati anak-anakku yang manis ini. Mereka takut, dua di antara sepuluh bocah manis ini bahkan menangis sesenggukan. Dasar petir!

“Ibu! Kami takut, kami ingin pulang!” teriak bocah-bocah kecil polos sambil berlari ke arahku.

“Sini, Nak! Berkumpul di sini, sebentar lagi hujan reda, kita pulang ramai-ramai! Jangan takut!”

Advertisement

Memang sudah jadi kebiasaanku mengantar mereka kembali ke rumah bertemu orangtua terkasih.

Sejenak, sembari menunggu hujan reda, aku menyaksikan ketakutan murid-muridku. Aku melihat mata-mata purnama itu mengenang, sedikit berkaca-kaca sepertinya mereka sedang menarik ingatan. Ingatan manis bersama pohon mangga itu, kami namai Elephant, karena dahannya kuat nan elok selayak belalai gajah. Dulu setiap istirahat, aku mesti kerepotan menasihati mereka, anak-anak cowok, agar turun dari ranting-rantingnya yang perkasa.

Ada sebersit penyesalan dariku, melihat pohon mangga yang gosong itu. Setiap Oktober wangi bunganya tak tertahankan harumnya. Kalau boleh, mungkin aroma wangi yang paling wangi sudah pasti aroma tubuh Elephant itu. Semasa kecil dulu, Elephant belum tumbuh sebesar itu, dia kecil dan setiap pukul tujuh dari arah timur, cahaya matahari bikin daunnya berkilau jingga. Belum jua dia berbuah, malang nasib Elephant malah gosong duluan.

Hujan pun reda dan kami ramai-ramai pulang ke rumah masing-masing. “Jangan lupa besok bawa payung, ya!” Betapa angin sore itu juga tak bersahabat, bau walang sangit dari kebun singkong Pak Danu terbawa semilirnya menuju hidung-hidung lucu kami. Meski sudah terbiasa, tapi bau walang sangit tak pernah bisa diajak bercanda, tak pernah jadi teman yang baik di musim hujan.

***

AKHIRNYA aku sampai di rumah, senyum bapak menyambutku. Setelah kuucap salam, seketika dia menjawab lalu dengan yakin dia memamerkan satu lagi koleksi andalan.

“Ini namanya batu pancawarna, coraknya beragam, warna-warni, kalau ini diibaratkan orang bisa jadi ini kamu, cerewet tapi indah,”

“Bapak ini ada-ada saja, kok aku disamakan dengan batu akik,” keluhku setengah bergerak menyambut tangan bapak. Kucium tangannya, lelaki ini punya aroma khas, layaknya bau manis dari kulit pohon pinus selepas diterpa hujan mendung putih.

Aku tak tahu pasti kenapa bapak tak pernah sedikit pun gelisah tentang pekerjaan yang sedang kujalani ini. Dia seorang PNS, umurnya sudah tak lagi muda. Sering aku bertanya-tanya dalam hati, “Apa bapak benar-benar tak kecewa denganku?” Aku hanya seorang guru biasa, tanpa gaji. Aku mengelola yayasan non-profit yang artinya semua pekerjaan ini bersifat sukarela, tak ada pemasukan keuangan, kecuali bantuan warga dan pemerintah daerah a la kadarnya.

Yayasan yang fokus di dunia pendidikan ini kunamai Rumah Angkasa. Selayaknya doa, semoga nama ini membawa murid-muridku ke dalam rumah paling nyaman, lalu akan mereka temui segala hal di dunia lewat buku dan hal sederhana yang akan kubagikan. Semoga doaku terkabul, semoga semua merestui. Aku hanya berharap bisa memberikan secercah harapan bagi mereka, adik-adik kecil yang belum beruntung.

Aku baru ingat satu hal, setengah terkantuk di kasur kamar depan, aku baru sadar ada sekitar 20 anak bebek belum kumasukkan ke kandang. Berikut dua induknya yang super cuek itu. Seketika tanpa babibu aku bergegas menuju Rumah Angkasa, gerimis turun lembut, hari mulai petang, dan mendung semakin bikin langit gelap.

***

SUDAH kali ketiga kejadian serupa ini terjadi. Tadinya ada 25 anak bebek, lima hilang dan sekarang tersisa 20 anak bebek yang super bandel. Sempat aku dan muridku menamai mereka satu per satu, sehari kemudian kami lupa mana si A dan mana si B. Selain muka dan badan mereka sama, kadang karena tubuhnya yang belepotan lumpur semakin menambah susahnya membedakan keduapuluh anak bebek itu.

Akhirnya aku sampai di bagian belakang Rumah Angkasa, gedung ini kecil dan sederhana, dari belakang sini hanya tampak tembok dari anyaman bambu berkelindan dengan bilik-bilik kayu pohon kelapa. Dan dua kandang bebek berukuran lima meter itu tampak sepi, sudah kuduga si induk sudah pulang duluan.

“Heh! Sis, mana anakmu?” Dia diam seribu bahasa. Aku sudah tahu pasti, mereka tersangkut di tebing curam belakang gudang gula aren. Setelah sedikit berlari, benar saja mereka terperangkap di batu-batu cadas. Biasanya aku dibantu orang-orang di gudang gula, tapi hari ini pasti mereka pergi menyetor gula ke kota.

Aku menuruni bukit curam itu, rok yang kukenakan kotor dan basah, sandal kutinggal di atas bukit itu. Mereka berteriak, dua puluh anak bebek itu berteriak seolah mengharap bantuan. Tiba-tiba hujan semakin deras, aku sedikit gemetar, tanganku masih kukuh berpegang di batu-batu tapi mataku sedikit terganggu karena hujan begitu deras.

Tiba-tiba petir menyambar, tanah bukit bergemuruh, seperti lepas dari akarnya, tanganku masih kukuh memegang batu yang berguguran menimpaku ini … lalu semua gelap.

***

NAMAKU Kalatimur Merona, nama pemberian ibuku tercinta. Aku lahir di waktu sangat pagi, orang menyebutnya “waktu fajar”. Selamat kepadaku, aku lahir di keluarga yang penuh kasih. Namaku Kalatimur Merona, aku tak tahu … sepertinya nama ini begitu berharga bagiku. Nama ini selalu kudengar di setiap lantunan doa bapak dan ibuku, di waktu pagi, siang, sore, dan malam. Atau mungkin di setiap embusan napas mereka.

Kini aku terbaring, bisa saja ini kasur kamarku, bisa saja ini kasur rumah sakit. Aku tak bisa membuka mataku, aku berteriak di dalam tempurung kepalaku sendiri. Suara orang-orang menyebut namaku, kemudian melemah, dan semua semakin gelap.

Baiklah, akan kuceritakan perjalanan panjangku 5 tahun yang lalu, masa-masa yang penuh perjuangan, menguras tenaga, dan batin. Hari ini, di sela kegelapan yang membelengguku dalam keadaan koma, akan kuceritakan semua hal tentang diriku. Namaku Kalatimur Merona, dan inilah kisahku …

***

Kisah Kalatimur merupakan seri cerita bersambung dari Hipwee yang terbit setiap hari Jumat. Ikuti terus kisahnya dan temukan kejutan menarik di akhir cerita!

Episode yang akan datang:

#2 – Sebuah Perkenalan, Sebuah Kebimbangan

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya