NAMAKU Kalatimur Merona, nama pemberian ibuku tercinta. Aku lahir di waktu sangat pagi, orang menyebutnya “waktu fajar”. Selamat kepadaku, aku lahir di keluarga yang penuh kasih. Namaku Kalatimur Merona, aku tak tahu … sepertinya nama ini begitu berharga bagiku. Nama ini selalu kudengar di setiap lantunan doa bapak dan ibuku, di waktu pagi, siang, sore, dan malam. Atau mungkin di setiap embusan napas mereka.

***

Advertisement

HARI ini, tepat pukul 6 sore nanti, adalah pengumuman di mana aku akan melabuhkan hidupku selama beberapa tahun ke depan. Dari semalam bahkan, mataku sulit terpejam. Aku takut jika keinginanku melanjutkan pendidikan hanya sebatas angan. Aku tahu, bukan aku saja yang harap-harap cemas. Pun dengan ayah dan ibuku. Di satu sisi mereka ingin aku melanjutkan kuliah, di sisi lain mereka harus siap dengan tanggungan nanti.

Aku memilih tiga perguruan tinggi negeri. Satu di kotaku, dan dua di pulau seberang yang katanya pendidikan jauh lebih maju daripada di tanahku sendiri.

“Bu, kalau nanti nggak ada satu pun yang lulus, bagaimana?” tanyaku setelah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Pertanyaan tersebut terlintas ketika aku merasa ujian yang aku kerjakan tak memuaskan sama sekali. “Nggak apa-apa, nanti kuliah swasta saja di sini,” jawab ibu.

Advertisement

Jarum jam tegak lurus di angka enam. Aku pun bergegas membuka internet untuk melihat hasil ujianku. Lama. Sampai aku harus berulang kali membuka situs pengumuman itu. Sementara teman-temanku sudah saling memberi kabar. Pengumuman hasil ujianku keluar. Betapa tertegunnya aku melihat ada namaku tercantum dengan perguruan tinggi negeri pilihan satu. Mengucap syukur pada Sang Penentu Jalan, aku lulus di universitas favorit nomor tiga di negeriku.

Ada perasaan bahagia sekaligus kaget di raut wajah kedua orangtuaku. Mereka bahagia aku lulus di perguruan tinggi yang aku inginkan, namun di sisi lain mereka sadar bahwa inilah saatnya melepas si anak gadis ke perantauan yang tak ada sanak saudara ataupun karib kerabat.

***

BELUM ayam berkokok, aku sudah siap berangkat subuh ini. Satu koper yang baru saja dibeli kemarin telah penuh dengan semua kebutuhanku nanti. Di sampingnya ada juga satu kardus yang berisi makanan. Ibu memasukkan beras dan lauk yang telah dimasak. Pun satu set peralatan makan. Ia takut sesampainya aku di tanah rantau nanti, aku tak tahu di mana harus membeli makanan.

Ayah dan ibu sudah sibuk sedari tadi. Bahkan sebelum aku bangun. Mungkin saja mereka belum tidur karena memikirkan keberangkatanku. Ya, aku akan pergi sendiri. Ke tanah yang sama sekali belum pernah aku jajaki. Aku sudah meyakinkan ayah dan ibu tak perlu mengantarku sampai di sana. Saatnya aku mandiri.

“Nggak usah, Yah, Bu. Nanti aku kan ada teman di sana yang akan menunggu. Dia juga di terima di jurusan yang sama kok. Lagian kan tiketnya mahal. Kalau dikali tiga, belum lagi ayah dan ibu pulang nanti, terlalu banyak uang habis,” jelasku. “Setidaknya biar ibu mengantarmu ke terminal,” sahut ibu.

Kucium tangan ayahku yang sedang menahan tangis itu. Juga adik-adikku. Semakin berkuranglah anggota keluarga di rumah ini. Karena beberapa tahun lalu, kakakku juga bertandang ke perantauan untuk mengadu nasib. Di dalam travel, aku duduk di sebelah ibuku. Perjalanan yang akan kami tempuh untuk sampai di terminal cukup panjang. Sekitar tiga jam. Aku pun tertidur di bahu ibuku yang nyaman.

Semakin dekat dengan terminal tempat aku memulai perjuangan baruku, semakin kudengar isakan ibu. Suara tangisnya bisa ditahan, tapi tidak dengan sesenggukannya. Isakan itulah yang semakin menguatkanku untuk membalas jerih payah ayah dan ibu selama ini dengan gelar sarjana dan keberhasilan. Aku harus.

***

“TIMUR, ayo. Nanti kamu nggak kebagian tempat lho. Nanggung banget kalau naik ojek,” teriak Fara dari atas odong-odong yang merupakan angkutan kampus gratis. Aku segera beranjak dan berlari menyusulnya. Satu semester berlalu sejak kali pertama aku menatap gedung utama universitasku yang megah. Masih dengan tentengan koper, kardus, dan ransel di belakang. Masih dengan semangat yang menggebu-gebu untuk menuntut ilmu dan mengenal lingkungan baru.

Di kampus, aku termasuk orang yang populer. Bukan karena wajahku yang cantik atau kepintaranku yang di atas rata-rata, melainkan aku yang gampang bergaul dengan siapa saja. Hampir semua teman satu angkatan mengenalku, tapi aku sulit menghafal nama mereka. Aku ingin mengenal semua orang, karena pikirku, punya banyak kenalan akan membantu kehidupanku selama di kampus nanti.

Kalian pasti mengira kehidupanku selalu bahagia. Dikelilingi orang banyak yang kenal dan senang berada di dekatmu. Mereka bahkan terlihat tak berhenti tertawa saat bercengkrama denganmu. Tapi inilah faktanya: memiliki banyak teman tak menjauhkanmu dari rasa kesepian.

***

AKU tersentak. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Sedangkan kuliahku pagi ini dimulai sejak pukul 8.30. Segera kuperiksa ponsel, siapa tahu ada yang menanyakan keberadaanku atau alasan kenapa aku tak masuk kelas pagi ini. Hasilnya? Nihil. Tak seorang pun dari mereka yang menanyakan kabarku pagi ini.

“Hai, Guys, tadi pagi aku telat bangun nih. Nggak sempat masuk kelas. Tadi bahas apa sih?” tegurku pada anak-anak yang sedang memenuhi kursi dan meja di kantin. “Lah, kamu tadi nggak masuk? Aku malah nggak sadar kalau kamu nggak ada,” timpal seorang temanku yang mulutnya sedang mengunyah mi ayam Mas Taqy.

JLEB.

Entah itu sebuah pujian atau apa, tapi kalimat itu membuat sesuatu berderak di hatiku. Sesuatu yang menggambarkan kekecewaan. Seseorang yang menganggap dirinya selama ini selalu ada di sekitar teman-temannya, ternyata tak dianggap. Ya, kehadiranku selama ini tak lebih dari teman satu kelas. Bodohnya, selama ini aku hanya ingin punya banyak teman. Aku lupa bahwa kita butuh seorang sahabat yang tak hanya ada di saat kita tertawa, tapi juga di saat kita menolak bangun karena dunia terasa jahat. Sosok ini yang luput dari perhatianku. Tak seorang pun yang pada akhirnya dekat dan menganggapku sebagai teman dekat.

Sejak saat itu, aku menjadi canggung. Aku tak lagi menjadi orang yang paling vokal saat di tongkrongan. Kehidupan kampusku tak lagi menarik karena perasaanku yang terluka karena pemikiranku sendiri. Perlahan, aku mulai menarik diri dari mereka. Mencoba memperkecil lingkaran pertemananku. Aku mulai menutup diri, lalu menggunakan topeng kebahagiaan. Aku ikut tergelak saat ada yang bercanda, aku seolah semangat mengikuti semua, tapi tiap langkah yang kuseret pulang, setiap itu pula hatiku kembali merasa kesepian. Rasanya ingin aku pulang saja. Lelah harus menjadi dua pribadi yang berbeda. Ingin aku kembali ke pelukan ibu yang hangat, agar semuanya kembali semangat. Tapi setiap kali aku menyerah, setiap itu pula isakan ibu saat mengantarku ke terminal kembali nyaring terdengar.

***

Kisah Kalatimur merupakan seri cerita bersambung dari Hipwee yang terbit setiap hari Jumat. Ikuti terus kisahnya dan temukan kejutan menarik di akhir cerita!

Baca episode sebelumnya di sini:

#1 – Musim Hujan Turun dari Timur

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya