Mungkin kamu sudah nggak asing lagi dengan kata ‘mitos’ yang sering disebutkan oleh banyak orang. Yap! Kata itu memang sudah seperti hal yang begitu lumrah untuk didengar. Pasalnya, berbagai aspek kehidupan yang ada di Indonesia seringkali dikaitkan dengan bermacam-macam mitos. Nggak ketinggalan dalam hal pernikahan.

Berbagai macam mitos tentang pernikahan pun banyak tersebar dari telinga ke telinga. Salah satunya ada berbagai mitos soal pernikahan beda suku, terutama pada suku Jawa dan Sunda. Kedua suku tersebut memang disebut-sebut sebagai suku yang sebaiknya nggak bersama demi kebaikan rumah tangga. Sebab, cerita turun-temurun dari sejarah yang belum diketahui kebenarannya itu mengatakan akan membawa banyak masalah di dalam pernikahan.

Berangkat dari hal tersebut, Hipwee Wedding mencoba merangkum pendapat para anak muda soal pernikahan beda suku tersebut. Yuk, simak langsung apa kata mereka!

1. Bagi cewek yang kerap disapa Lady ini, sekarang sudah bukan zamannya lagi untuk menyoalkan pernikahan beda suku

Andhika Lady Maharsi. via www.instagram.com

Nikah beda suku nggak masalah sebetulnya buat yang nikah, tapi bukan tidak mungkin ada keluarga yang menolak.

Untuk itu tetap perlu berhati-hati, terlebih jika keluargamu memandang pernikahan beda suku itu nggak oke. Jawa dan Sunda memang pernah ada perseteruan zaman dulu. Tapi itu kan zaman Majapahit, sekarang kan zaman Jokowi.

Positifnya ya anak kita jadi nggak kurang piknik, karena orangtuanya dari budaya yang berbeda. Negatifnya ya kadang ada budaya atau kebiasaan yang harus disesuaikan dengan pasangan.

– Andhika Lady

Advertisement

Menurutnya nggak ada yang salah dengan pernikahan beda suku bagi yang mau menikah, asal mereka saling menyukai. Tapi, akan jadi masalah jika kedua keluarga yang nggak menyetujui. Menurut Lady pun pernikahan beda suku bisa membawa dampak baik bagi anak nantinya, supaya nggak kurang piknik lantaran ada beberapa kota yang bisa disambangi. Menyenangkan, ‘kan? 🙂

2. “Itu hanya persepsi yang keliru dan telah menjadi sugesti.”

Samsul Arifin. via www.facebook.com

Samsul Arifin memiliki pendapatnya tentang pernikahan beda suku, terutama Jawa-Sunda. Menurutnya, itu bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Dia menganggap pernikahan Jawa-Sunda yang dilarang berangkat dari adanya persepsi yang keliru dan telah menjadi sugesti bagi banyak orang. Samsul pun menekankan jika sebuah pernikahan rusak, bukanlah salah dari suku mana mereka berasal, melainkan sikap dan sifat dari masing-masing yang perlu diperbaiki.

Bagi aku nggak ada masalah sama sekali, selama nggak ada perbedaan norma dan adat. Kalau konteksnya Jawa-Sunda itu nggak ada masalah, itu hanya persepsi yang keliru dan telah menjadi sugesti. Bukan masalah sukunya yang berbeda kalau ada pernikahan yang rusak, melainkan sikap dan sifat dari masing-masing mempelai yang perlu diperbaiki. Positifnya tentu dapat memperkaya budaya dalam keluarga dengan toleransi. Kalau negatifnya, aku rasa nggak ada.

3. Lain dengan Hairum yang lebih menyukai pernikahan sesama suku, agar budaya asalnya tetap bisa bertahan.

Hairum Fellayati. via www.instagram.com

Kalau aku selagi bisa dihindari sih ya hindarin, karena aku lebih tertaruk untuk nikah sama suku yang sama. Biar sukuku masih tetap bisa bertahan. Kalaupun soal nikah beda suku yang dilarang, alasannya pasti ada kan. Nah, kalau alasannya masuk akal sih aku setuju.

Hairum Fellayati memiliki pendapatnya sendiri soal pernikahan beda agama. Dia sendiri mengutarakan jika lebih ingin menikah dengan yang sesuku. Alasannya simpel, agar suku yang dimilikinya masih tetap bisa bertahan. Kalaupun kemudian ada pernikahan beda suku yang dilarang, buatnya selama alasan larangan tersebut masuk akal, maka dia akan berusaha menerimanya.

4. Armando punya pendapat jika pernikahan beda suku akan mewujudkan nilai Pancasila. Jadi, nggak sekadar dibaca saat upacara saja!

Armando Yanuar Radityawan. via www.instagram.com

Armando punya pendapat jika pernikahan beda suku akan mewujudkan nilai-nilai yang terdapat di dalam Pancasila. Ya, dengan begitu secara nggak langsung Pancasila bisa dipraktikkan dan nggak sekadar dibacakan dalam upacara saja.

Kalau aku pribadi sih toleran ya, selama anaknya cinta dan membuktikan bahwa memang cintanya itu cinta yang bertanggung jawab. Aku pernah dengar kalau ini sebenarnya berdasarkan cerita rakyat zaman kerajaan dulu yang belum ada kebenarannya. Tapi kalau dari adat sih memang Jawa dan Sunda sangat berkebalikan.

Positifnya sih bisa mempererat tali kebangsaan. Jadi, Pancasila akhirnya dipraktikkan, nggak sekadar dibacain pas upacara. Negatifnya, ya, friksi menuju ke pernikahannya itu, bisa jadi malah batal nanti.

– Armando YR

5. “Beda suku itu menurutku positifnya bisa saling memelajari budaya masing-masing.”

Neneng Pratiwi. via www.facebook.com

Positifnya beda suku itu menurutku positifnya bisa saling mempelajari budaya masing-masing. Biar kalau pulkam Lebaran, kamu bisa ngerasain mudik ke kampung orang. Nggak di Jawa Barat mulu, misalnya.

Negatifnya karena manusia itu bagaimanapun sesuai dengan akar budayanya, kadang susah sih menyatukan orang Sunda yang boros dengan orang Jawa yang pinter nyimpen uang. Jadi, masing-masingnya tertekan gitu. Kan orang Sunda biasa apa-apa kumaha engke, beda sama orang Jawa yang 10 tahun ke depan sudah dipikirin.

– Neneng Pratiwi

Buat Neneng, meski ada sisi negatifnya tapi nilai positif dari pernikahan beda suku bisa diambil. Sebab, pernikahan tersebut akan memberikan pelajaran baru, yakni dengan saling mempelajari budaya masing-masing. Selain itu, akan ada momen jalan-jalan ke kampung orang saat Lebaran tiba. Yuhu~

Yuk, lihat apa kata mereka yang lainnya!