Baik kamu tinggal di Sumatra, Jawa, maupun Papua, pernikahan adat Jawa terutama Jogja tentunya cukup familiar. Yup! Keanggunan bangsawan-bangsawan Kraton Yogya  sudah sejak lama menjadi inspirasi banyak orang ketika kita membicarakan pernikahan adat Jawa. Dan dari mereka inilah, kemudian lahir tradisi rias pernikahan seperti Jogja putri, Jogja basahan, maupun Paes Ageng.

Meskipun memiliki beberapa perbedaan yang mendasar, semua rias pernikahan adat Jawa selalu memiliki aksesoris yang cukup sama. Apik digunakan dan tentunya oke kalau difoto, sudah tahukah kamu berbagai filosofi di balik aksesoris paesmu? Agar lebih khidmat saat menikah nanti, kamu mesti tahu berbagai filosofi ini 🙂

Cundhuk Mentul yang diletakkan di atas kepala. Mau 1,3, atau 9 jumlahnya aksesoris ini melambangkan adanya pencahayaan dalam hidup!

cundhuk mentul lima biji via www.isigood.com

Cundhuk mentul  adalah hiasan yang menyerupai kembang goyang yang digunakan diatas kepala pengantin wanita. Secara umum, bentuknya yang menyerupai matahari melambangkan harapan agar pernikahan kedua mempelai selalu disinari oleh matahari, Sang pemberi kehidupan.

Cundhuk mentul sendiri biasa digunakan dalam nomor ganjil mulai dari 1,3,5,7, ataupun 9. Banyaknya cundhuk mentul yang dipakai pun memiliki makna yang berbeda dalam adat Jawa. 1 cundhuk mentul melambangkan Tuhan Yang Maha Esa, 3 melambangkan nilai-nilai Trimurti, 5 melambangkan rukun Islam, 7 melambangkan perkawinan yang penuh pertolongan, dan sembilan melambangkan wali songo.

Bagaikan gapura rumah tangga, centhung menandai masuknya wanita ke gerbang kehidupan baru

Advertisement

centhung dengan hiasan berlian via www.isigood.com

Centhung merupakan sepasang aksesoris sisir dengan hiasan batu permata yang disematkan di kiri dan kanan kepala si pengantin wanita. Bentuknya sendiri menyerupai gerbang atau gapura, oleh karena itu hiasan yang satu ini sering dimaknai sebagai simbol bahwa si wanita siap memasuki gerbang pernikahan.

Gunungan jadi tanda sakralnya ikatan pernikahan. Juga jadi pengingat bagaimana perempuan harus menjaga kecantikan

gunungan via www.isigood.com

Gunungan merupakan hiasan yang menyerupai gunung dan dipasang dibagian tengah kepala. Seperti halnya gunung yang sering dianggap agung dan besar, gunungan merupakan simbolisasi dari kesakralan pernikahan kalian. Dalam adat Jawa, gunung sendiri sering dianggap agung dan sakral karena gunung merupakan tempat tinggalnya nenek moyang kita.

Gunungan juga sering dipasang terbalik, dengan bagian depan menghadap ke belakang. Hal tersebut pun memiliki arti tersendiri, bahwasanya seorang perempuan harus terlihat cantik dari belakang sebagaimana dia terlihat cantik dari depan.

Gelang naga kelat bahu dipakai sang perempuan sebagai perlambangan kekuatan.

kelat bahu! via www.isigood.com

Kelat bahu merupakan sebuah gelang yang disematkan pada bahu wanita. Gelang tersebut pun berbentuk naga yang melilit bahu perempuan sebagai lambang bersatunya pola rasa dan juga pikir setelah menikah. Naga sendiri, dalam adat Jawa, merupakan hewan agung yang sering dikatakan melambangkan kekuatan. Oleh karena itu, bersatunya kedua pola tersebut, rasa dan pikir, pun berdampak pada munculnya kekuatan dalam hidup terutama pernikahan bagi si perempuan.

Karena wanita adalah makhluk yang setia, itulah makna dari si gelang binggel kana.

gelang bingge kan via mulpix.com

Gelang binggel kana adalah gelang emas yang biasa terlihat disematkan pada pergelangan pengantin wanita. Gelang yang tak bermula dan tak berujung itu bagaian sebuah perlambangan kesetiaan wanita terhadap suaminya, kesetiaan yang tanpa batas. Duh, dalam juga ya artinya?

Kecantikan kalung Sungsun bukan cuma hiasan saja. Kalung sungsun jadi simbol kehidupan yang fana

kalung sungsun pada kedua mempelai via neverendingstoryme.blogspot.co.id

Kalung sungsun merupakan kalung tersusun dari tiga lempengan emas berbentuk bulan sabit. Selain untuk penghias dada, kalung sungsun melambangkan tiga fase kehidupan manusia yang harus dijalani; yaitu lahir, menikah, kemudian meninggal. Pada waktu yang bersamaan, kalung sungsun juga melambangkan tiga alam dimana manusia hidup yaitu alam baka, alam perantara, dan alam fana.

Cincin yang disematkan di jari manis sebagai simbol bahwa wanita harus bisa berkata manis!

cincin pada jari manis via thediaryofelly.wordpress.com

Dalam pernikahan adat Jawa, terutama Jogja, penyematan cincin pada jari pun memiliki banyak makna. Pada umumnya, si pengantin wanita memakai cincin pada jari manis. Hal tersebut merupakan harapan bahwa wanita akan selalu bertutur baik dan manis. Namun, ada pula makna yang berbeda ketika cincin disematkan pada jari lain. Cincin pada jari kelingking merupakan harapan bahwa wanita akan selalu terampil dalam urusan rumah tangga. Sedangkan cincin di ibu jari merupakan harapan bahwa wanita selalu ikhlas dalam berumah tangga.

Wah, ternyata aksesoris paes itu penuh dengan simbolisasi dan doa ya? Nah, dengan mengetahui makna-makna di balik aksesoris paes Jogja tersebut, semoga kamu nantinya semakin khidmat dalam menjalani ritual pernikahan ya!