Memilih Makeup Artist/MUA untuk pernikahan memang gampang-gampang susah. Ada yang harganya murah, tapi hasil makeup-nya terlihat kurang bagus. Ada juga yang hasil makeup-nya seperti widodari, tetapi harganya selangit. Kerap juga terjadi masalah klasik: MUA yang dipesan ogah menerima masukan klien, karena sudah sesuai pakem katanya. Padahal si klien misalnya sudah meminta no cukur alis, nggak menor-menor, dan sebagainya.

Padahal kalau kita menilik lebih jauh, pekerjaan mereka sama sekali nggak gampang lho. Wajar saja kalau harga yang mereka patok bisa sampai setara sewa gedung dengan kapasitas 2000 undangan. Mau tau alasannya? Simak liputan dari Hipwee Wedding yang satu ini.

1. Alat-alat makeup yang mereka pakai harganya sudah mahal. Apalagi yang membutuhkan kualitas high-end dengan riasan yang tak mudah luntur

senjata para MUA via www.youtube.com

Produk makeup yang dipakai oleh MUA profesional biasanya adalah produk high end yang dibeli dengan harga tidak murah. Namanya saja riasan pengantin yang dipakai selama berjam-jam, harus yang awet dong. Belum lagi ada kemungkinan air mata keluar karena terharu selesai akad. Nah, di situlah tantangan seorang MUA, bagaimana caranya agar membuat riasannya tidak luntur sama sekali. Untuk itu, mereka melakukannya dengan menggunakan alat makeup yang berkualitas baik.

2. Mereka belajar makeup bertahun-tahun, menjadi asisten perias juga sudah bertahun-tahun

belajar merias

Advertisement

Untuk menguasai teknik riasan yang bagus, perlu belajar selama bertahun-tahun. Bukan menyontek tutorial Youtube kemudian langsung bisa. Selain belajar, mereka juga perlu merias banyak jenis wajah dan kulit yang berbeda-beda. Riasan untuk si wajah bulat dan wajah kotak tentu berbeda. Juga berlaku untuk si kulit berminyak vs kulit kering, produk dan teknik yang dilakukan juga berbeda. Mereka nggak boleh protes dengan bentuk wajah klien. Pokoknya semua klien ya inginnya dibuat jadi cantik di hari spesial mereka.

3. Untuk merias wajah diperlukan kontur agar wajah semakin cantik. Yang begini ini mana mungkin dipelajari seminggu-dua minggu

kontur wajah via poutperfection.com

Yang dipelajari MUA itu tak hanya soal memakaikan foundation dan bedak saja. Namun juga ada teknik kontur yang mengharuskan mereka mempelajari bentuk wajah setiap orang. Teknik kontur adalah model pengaplikasian foundation dengan karakter gelap-terang di tempat yang seharusnya. Tujuannya agar wajah klien bisa terlihat 3D dan nggak flat begitu saja. Hal ini nggak bisa dikuasai sehari-dua hari lho.

4. Aksesori untuk pengantin juga nggak dibeli dengan harga murah lho. Tahu harga sunting seperti ini? Jutaan

Yang begini ini nggak murah via www.skyscrapercity.com

Menjadi MUA pengantin, artinya juga harus menyiapkan segala sesuatunya, termasuk aksesori pengantin. Mahkota, perhiasan, melati, dsb harus mereka siapkan sendiri. Barang-barang ini biasanya sudah pakem dan memiliki karakter yang rumit khas adat daerah masing-masing. Untuk mendapatkan hal itu, bisa jadi si perias sudah modal banyak. Namanya saja demi mempercantik klien. Jadi, hargailah modal yang mereka persiapkan.

5. Sebagai MUA pengantin, apalagi kalau akad pagi, mereka rela bangun dini hari untuk klien

bangun dini hari via ehloo.com

Bagi MUA, nggak ada istilah bangun pagi, yang ada adalah bangun dini hari. Ada yang malah nggak tidur malamnya untuk merias pengantin di pagi hari. Karena rata-rata akad nikah pengantin itu sekitar pukul 8 pagi, si perias biasanya sudah persiapan berjam-jam sebelumnya. Kamu yang jarang bangun pagi pasti paham dong, bagaimana susahnya membangunkan diri di pagi hari sebelum semua orang pada bangun.

6. Meronce melati, harus teliti, butuh ketrampilan khusus, dan tidak bisa dilakukan jauh-jauh hari agar melatinya selalu segar

roncean melati via www.skyscrapercity.com

Seperti kita tahu, hampir semua adat pengantin di Indonesia menggunakan bunga melati sebagai salah satu syarat. Melati-melati ini disusun membentuk roncean yang indah untuk menghias sang pengantin. Dan untuk melakukan hal ini butuh ketelitian dan ketelatenan. Apalagi yang dilakukan adalah menyusun ratusan butir melati menjadi roncean yang indah. ‘Kan demi klien juga.

7. Memakaikan riasan adat sesuai pakem, hmm, yakin kamu bisa melakukannya sendiri?

Paes Ageng Jogja via kamalaputri.com

Memasang paes dan hiasan lain-lainnya termasuk sanggul dan sederet hiasannya satu-satu itu nggak bisa dilakukan sembarangan. Semuanya butuh aturan yang baku dan pakem. Jadi nggak boleh dilewatkan begitu saja. Tahu Paes Ageng kan? Itu butuh dihias dengan perada emas di sekeliling garis paesnya. Dan itu memakan waktu lama dan ketelitian tinggi. Belum lagi teknik membentuk alis menjangan yang bercabang itu. Ada caranya yang nggak bisa dilatih dalam tempo singkat lho.

8. Menuntun ritual adat juga menjadi bagian tanggung jawab para dukun manten

Prosesi cuci kaki suami via www.seputarpernikahan.com

Dukun manten adalah istilah untuk perias yang juga melakukan panduan tata cara prosesi adat. Kadang nggak semua pengantin memahami dan tahu langkah-langkah menata adat. Untuk itulah bantuan sang perias diperlukan. Jadi mereka nggak cuma belajar cara nge-blending eyeshadow saja, tapi belajar adat, filosofi, ritual, dan hal-hal yang diperlukan untuk memandu jalannya upacara pengantin.

9. Susah untuk menangani satu pengantin sendirian, mereka pasti membawa bala tim. Timnya kan tetep butuh digaji

Perias pengantin itu nggak mungkin bekerja sendirian. Mereka pasti membawa sejumlah tim untuk membantu merias. ‘Kan yang dirias tak hanya pengantinnya. Belum lagi asisten-asisten yang siap membantu hal remeh seperti memakaikan foundation, membawa peniti, jepit biting, mengecek sanggul, dan sebagainya. Menjadi perias itu identik dengan chaos dan keribetan. Apalagi jika sudah dikejar dengan waktu. Nah bayangkan saja kalau para asisten-asisten itu nggak mendapat uang saku. Kan itu butuh biaya juga.

10. MUA itu nggak cuma merias pengantin, tapi Ibu, Ibu mertua, keluarga, among tamu, buku tamu. Beuhh, capeknyaa

Yang dirias nggak cuma pengantinnya via babymoontravelling.wordpress.com

Merias acara pengantinan itu yang dirias tak cuma sang pengantin. Namun juga hampir seluruh keluarganya, baik cewek maupun cowok. Yang cowok sekalipun, mereka kadang masih butuh dibantu untuk mengenakan beskap kan? Nah, di situlah tantangan seorang perias ketika dikejar waktu. Masih merasa kerjaan perias itu gampang?

11. Kadang job MUA tak hanya merias saja, tapi juga menenangkan pengantin yang resah di hari H

“Bu, saya kepingin curhat” via ikashanti.wordpress.com

Salah satu job terselubung yang sering dilakukan MUA pengantin adalah: mendengar curhatan sang pengantin wanita. Entah dari pertanyaan seputar malam pertama, cara menjadi istri, cara melayani suami, sampai resep agar tetap awet muda. Dan seorang MUA yang profesional hampir selalu bisa menjawab dengan komunikatif. Skill mereka tak terbatas hanya dalam lingkup riasan, manajemen dan penguasaan budaya saja Guys.

Gimana? Sudah ada bayangan ‘kan, kenapa profesi mereka dihargai mahal? Ya memang menjadi MUA itu nggak mudah. Kalau kamu mau yang bayarnya murah, hati-hati lho, bisa-bisa riasanmu di nikahan jadinya seperti ini: