*sedang di restoran*

Cewek : “Ayah, pesen es krim rasa vanila aja yuk. Enak nih buat siang-siang gini.”

Cowok : “Iya Bunda, Ayah juga memikirkan hal yang sama dengan Bunda.”

Orang lain yang mendengar : “Tampang masih SMA gitu manggilnya udah Ayah-Bunda. Oh, Tuhaaaaaaan!”

Bukan bermaksud mengecilkan atau mematahkan keyakinan kalian. Panggilan Ayah-Bunda itu terdengar sangat tidak logis kalau usia kalian masih muda, dan belum sama sekali punya rencana untuk menikah. Panggilan ini seolah memaksa telinga orang lain bekerja lebih keras dari biasanya, karena saking ‘merdunya’.

Advertisement

Nah, inilah beberapa alasan yang akan Hipwee Wedding tuangkan bagi kalian, Ayah-Bunda lovers yang belum paham bahwa panggilan itu bukan jaminan untuk melenggang ke pelaminan. Simak, ya!

Mungkin menurut kalian, panggilan ini adalah tanda sayang. Tapi bagi orang lain, ini namanya ngajakin perang

wah, ngajakin perang nih!

wah, ngajakin perang nih! via forum.onverse.com

Jangan marah atau merasa tersindir dulu, guys. Inilah realita yang hampir setiap orang geli atau risih saat melihat atau mendengarnya secara langsung. Mungkin kamu pikir, mengumbar panggilan-panggilan semacam ini itu manis dan menunjukkan rasa sayang, tapi bagaimana dengan orang lain? Apakah kamu tidak kasihan jika mereka tiba-tiba terkena penyakit pendengaran?

Sebaiknya, panggilan Ayah-Bunda itu buat konsumsi kalian sendiri saja. Bukan untuk diumbar atau bahkan dipamerkan di sosial media. Iyuuuuuh!

Daripada mikirin panggilan sayang saat pacaran, mending obrolkan impian-impian seru dan menyenangkan soal pernikahan

kira-kira kita mau nikah digedung apa di rumah aja ya, yang?

kira-kira kita mau nikah digedung apa di rumah aja ya, yang? via youtube.com

Advertisement

“Ayah, kira-kira kalau menikah nanti kita mau di gedung apa di rumah aja, ya?”

“Di pantai aja, Bunda. Lebih seru tuh kayaknya.”

Waduh, masih Ayah-Bunda aja manggilnya -___-

Zaman sekarang, tak sedikit pasangan yang berdebat hanya gara-gara panggilan sayang. Label yang sebenarnya tidak terlalu penting ini pun tak jarang membuat hubungan menjadi tidak akur lagi, bahkan jadi rela membagi hati. Duuuuh, jangan sampai deh!

Walau masih terlalu dini, membicarakan soal rencana indah pernikahan itu tak selamanya buruk, kok. Kalian berdua bisa menghayal seru seputar gedung atau busana pernikahan, meski masih jauh sekali dalam angan. Hal ini akan menjadikan masing-masing dari kalian lebih dewasa, dan mengerti apa yang diinginkan pasanganmu selama ini.

Panggilan Ayah-Bunda, Papa-Mama atau Pipi-Mimi itu fana. Kalian yang masih begini, memang tahu itu maknanya apa?

itu fana lho...

itu fana lho… via verapavlovaphotography.com

“Emang kalian sudah tinggal bareng? Udah bobo bareng? Kok manggilnya Ayah-Bunda sih?”

Jangan menganggap orang lain itu jahat dulu kalau kesal dengan panggilan sayangmu ke pasangan ini. Mereka cuma bicara apa adanya saja, kalau panggilan sayang semacam ini itu fana. Fana karena kalian tak tahu apa arti yang sebenarnya, fana karena kalian hanya ikut-ikutan tren saja.

Panggilan Ayah-Bunda itu sakral dan biasa dilontarkan bagi mereka yang sudah serius membina hubungan, berikut dengan sakralnya romansa pernikahan. Kalau kalian masih belum cukup umur atau masih nodong orang tua sana-sini, nggak logis lah menggunakan Ayah-Bunda sebagai panggilan sayang. Think again!

Masih ada panggilan lain yang lebih elegan. Sayang atau Cinta, misalnya

Sayang atau Cinta aja bisa?

Sayang atau Cinta aja bisa? via tylerbranchphoto.com

Selain lebih enak didengar, panggilan seperti Sayang atau Cinta itu jauh dari kesan kekanak-kanakan. Orang lain yang menyaksikan pun jadi lebih maklum adanya, meski kalian sedang berada di buai-buai cinta. Asalkan tak terlalu diexplore di depan umum, panggilan sayang sejuta umat ini sangat layak kamu coba sebagai tanda cinta kepada pasangan.

Nah kalau sudah begini, apa nggak malu kalau akhirnya kalian nggak jadi? Nggak jadi nikah, nggak jadi Ayah sama Bunda beneran deh :(((

'kan syeeeddiiiiiih

‘kan syeeeddiiiiiih via likegif.com

Kalimat inilah yang akan kalian dengar jika panggilan sayang ini akhirnya harus sirna, karena pernikahan yang diimpi-impikan tak jadi terwujud :

“Panggilan sih Ayah-Bunda, tapi yang dipanggil Bunda siapa, yang dinikahin siapa. Duh!”

“Makanya jangan muluk-muluk, pacaran itu sekadarnya saja. ‘Kan sayang banget kemarin 5 tahunnya…”

Ini sakit banget sih, ciyuusss!

Ibarat sudah kelelahan karena berjalan jauh, kalian tak kunjung sampai karena ternyata kesasar nggak tahu di mana 🙁 KZL!

KZL! KZL!

KZL! KZL! via victorycamel.com

Gimana sih rasanya kesasar? Kesasar di tempat asing dan belum pernah terjamah sama sekali. Pasti kesal dan kecewa bukan? Ini sama halnya ketika kamu dan dia ternyata tidak berjodoh, tapi sudah mengumbar kemesraan di mana-mana dengan panggilan Ayah-Bunda. Nggak cuma malu, tapi juga mengundang orang lain untuk menggerutu. Hmmm, jangan sampai deh ya…

Gimana? Masih PD manggil dia Ayah atau Bunda? Coba share di kolom komentar!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya