Kata Penelitian, Kamu dan Dia Jodoh atau Nggak Bisa Diungkap dalam 15 Menit Saja lo. Begini Caranya~

pernikahan awet

Selain doa “Semoga sakinah, mawaddah, warahmah” doa lain yang sering diucapkan oleh tamu yang datang ke pernikahan adalah “Semoga bisa awet hingga mau memisahkan.” Yang namanya doa, kita tinggal mengamini saja sambil berusaha menjadi yang terbaik untuk satu sama lain. Namun, ada juga lo ternyata sebuah cara untuk memprediksi apakah kamu dan ia akan benar-benar berjodoh dalam kehidupan pernikahan dan awet sampai maut memisahkan.

Advertisement

Bukan sekadar ujian asal-asalan, tapi hal ini dilakukan secara ilmiah dan dilakukan oleh psikolog yang mempelajari hubungan pasangan selama 40 tahun. Kita simak yuk bagaimana caranya berdasarkan situs Inc. berikut ini!

Sebelum mengetahui rumusnya, ada baiknya kamu ketahui bahwa menikah dengan orang ‘tepat’ ternyata berpengaruh terhadap performa dalam aspek kehidupan

Lebih sukses/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Menurut sebuah penelitian di Washington University, St. Louis, orang yang memiliki partner bijaksana dan dapat diandalkan akan memiliki performa yang lebih baik dalam pekerjaan, mendapatkan kesempatan promosi yang lebih, menghasilkan lebih banyak uang, dan lebih puas dengan pekerjaannya.

Pasangan yang bertanggung jawab akan menjalankan lebih banyak pekerjaan rumah. Mereka akan menunjukkan kebiasaan baik yang membuat pasangan ingin menyeimbangi sehingga membuat kehidupan rumah tangga lebih memuaskan. Jadi, hal ini bisa membuat kalian saling mendukung untuk memperoleh tujuan bersama atau masing-masing.

Advertisement

Pasangan yang ‘tepat’ mungkin bisa membuat kalian bersama, namun kalian juga perlu untuk ‘tetap’ menikah dalam waktu yang lama

Bisa awet/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Selain menikahi orang yang tepat, kalian juga perlu menikah dalam waktu yang lama. Ternyata ada hitung-hitungannya untuk hal tersebut. Seorang psikolog dan matematikawan bernama John Gottman membuat penelitian sederhana di mana pasangan diminta menghabiskan waktu selama 15 menit untuk mengobrol tentang hal ini:

  • Menceritakan bagaimana hari ini, apa yang terjadi dan apa yang dilakukan
  • Menceritakan sesuatu yang postif, sesuatu yang disuka dan sesuatu yang dinikmati
  • Menceritakan hal yang tidak disetujui, penyebab pertengkaran, politik, seks, keuangan, makanan, dll

Kemudian pasangan ini akan dinilai berdasarkan emosi yang ditunjukkan mulai dari marah, bertikai, menghina hingga rasa sayang, kehangatan, dan humor.

Advertisement

Dari respons yang diberikan oleh masing-masing pasangan, dapat diketahui kemungkinan untuk bercerai atau justru awet

Semoga bukan di awal doang/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Jika pasangan ini tertawa bersama terhadap suatu humor maka itulah bentuk kehangatan dan kedekatan, namun jika hanya salah satu yang tertawa maka hal ini adalah bentuk tidak menghormati dan penghinaan. Emosi ini harus dinilai dari -4(penghinaan) hingga +4 (humor yang sama-sama dirasakan). Perbandingan hasilnya mengindikasi bagaimana pasangan ini menyelesaikan konflik.

Beberapa pasangan yang memiliki rata-rata 5 komentar positif untuk setiap komentar negatif maka mereka kemungkinan tidak akan bercerai. Namun jika rata-rata ada satu komentar positif pada setiap komentar negatif maka kemungkinan pasangan akan bercerai dalam waktu empat tahun.

Kunci dari suksesnya sebuah hubungan rupanya adalah validasi. Hal ini membuat pernikahan semakin awet

Butuh validasi/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Bertahannya sebuah hubungan menurut peneliti yang sama adalah validasi. Pikirkan bagaimana respons kamu saat berselisih. Jika kamu memilih untuk menyeringai, menggulirkan mata, hingga mengata-ngatai maka hal ini akan membawa ke masalah yang lebih besar. Jika kamu lebih banyak berpikir apa yang harus dikatakan sehingga tak medengarkan daripada memilih peran dalam perselisihan untuk meredamkan, maka ada kemungkinan hubungan ini akan berakhir karena permusuhan.

Hal lain yang juga mesti dilakukan adalah mengakui bahwa ‘aku salah’ saat melakukan kesalahan, mengatakan ‘kamu benar’ yang juga bisa menjadi bentuk apresiasi, serta permohonan maaf ketika melakukan kesalahan tersebut.

Intinya harus dilakukan banyak kompromi dalam sebuah kehidupan pernikahan. Menurunkan ego juga tak kalah penting untuk menghindari konflik yang kemungkinan akan terus terjadi. Tak ada salahnya mengakui kesalahan alih-alih mencari pembenaran.

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE