Ada Tradisi Perjodohan Sejak Kecil, Ini 5 Detail Pernikahan Suku Biak di Papua. Belum Tahu kan?

Pernikahan suku biak

Indonesia terdiri dari berbagai suku dan tradisi dari Sabang sampai Merauke. Di bagian paling timur Indonesia, yaitu Papua, memiliki berbagai tradisi yang masih kental melekat di dalamnya. Mulai dari tradisi yang dilakukan saat adanya kelahiran hingga terjadinya kematian. Di antaranya ada juga serangkaian prosesi yang dilakukan selama proses perjodohan hingga menikah.

Advertisement

Jika kamu penasaran bagaimana proses pernikahan suku di Papua, Hipwee Wedding melansir dari laman resmi Budaya Indoonesia akan menjabarkan seputar pernikahan suku Biak untukmu. Simak sampai habis ya!

1. Lamaran di suku Biak dilakukan sejak calon pengantin masih kecil atau saat berumur 15 tahun. Masing-masing ada prosesinya

Dijodohkan sejak kecil via www.bbc.com

Jika perjodohan dilakukan saat sang anak masih kecil tradisi ini dinamakan sanepen, prosesnya dilakukan antara orang tua dari kedua belah pihak. Sedangkan prosesi yang lainnya bernama fakfuken yang dilakukan setelah kedua calon mempelai berumur 15 tahun.

2. Dalam tradisi ini pihak laki-laki akan membawa sesuatu yang bernama kaken, pihak perempuan pun akan membawanya juga nanti

Kalung manik-manik via id.carousell.com

Dalam tradisi fakfuken, pihak laki-laki akan membawa kaken yang berupa gelang atau kalung manik-manik. Tidak ada aturan baku dalam jumlahnya, namun biasanya disesuaikan dengan kemampuan pihak laki-laki yang akan membawanya. Saat lamaran diterima, pihak perempuan juga akan membawakan kaken yang akan diberikan ke pihak laki-laki.

Advertisement

3. Selanjutnya, kedua belah pihak akan menentukan mas kawin yang akan diberikan pihak laki-laki ke pihak perempuan dan menentukan tanggal

Gelang dari kulit kerang via kebudayaan.kemdikbud.go.id

Konon katanya, pada zaman dahulu, laki-laki yang berasal dari keluarga terpandang akan membawakan mas kawin berupa perahu lo. Sedangkan laki-laki dari kalangan biasa akan membawakan gelang yang terbuat dari kulit kerang atau biasa disebut kamfar. Tapi, seiring perkembangan zaman, banyak juga pihak laki-laki yang membawakan mas kawin berupa perhiasan dari perak.

Setelah itu, orang tua kedua belah pihak akan mendatangi tetua adat untuk menanyakan hari baik untuk pernikahan.

4. Upacara pernikahan suku Biak dari Papua berjalan dengan prosesi yang tak terlalu rumit, namun sarat akan makna

Prosesi pernikahan via www.kompasiana.com

Acara pernikahan diawali dengan penyerahan seperangkat benda pusaka oleh keluarga wanita ke pihak laki-laki sebagai simbol bahwa orang tua telah mempercayakan anak perempuannya ke keluarga pihak laki-laki. Hal ini dibalas oleh pihak laki-laki dengan memberikan barang yang sama sebagai simbol bahwa keluarga laki-laki menerima anak perempuan tersebut dan akan menjaganya sepenuh hati bak anak sendiri.

Advertisement

5. Acara selanjutnya ternyata tak kalah sakralnya. Sebuah prosesi dilakukan sambil diiringi doa-doa dan mantera

Tetua akan berdoa via lifestyle.okezone.com

Kedua mempelai akan menghisap sebatang rokok yang berbentuk cerutu secara bergantian. Sang lelaki akan memulai menghisap rokok ini lalu dilanjutkan ke pihak perempuan. Setelah itu tetua akan memberikan masing-masing satu untuk kedua pengantin. Tetua ini juga akan membacakan doa-doa serta mantera.

Doa yang diberikan biasanya berupa permohonan restu pada Yang Maha Kuasa dan harapan agar kedua mempelai selalu bahagia. Setelah itu, kedua mempelai saling menyuapi ubi. Pernikahan suku Biak diakhiri dengan acara makan-makan bersama keluarga besar.

Tak perlu hajatan besar-besaran, suku Biak di Papua melakukan prosesi demi prosesi dengan sederhana tapi sakral dan penuh dengan makna. Pernikahan adat ini juga penuh dengan doa-doa. Hmm, jadi tertarik ikut merasakan suasana pernikahan di Papua nih! Yang punya pengalaman, boleh lo bagikan ceritamu ke Hipwee~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE