Fakta Miris di Balik Pernikahan Mahal; Campur Tangan Orang Tua Sampai Tekanan Tradisi Keluarga

polemik menikah mahal

Pro kontra terkait bujet yang dihabiskan untuk pernikahan masih menjadi isu hangat sampai sekarang. Seolah nggak ada habisnya memperbincangkan soal kenapa menikah mahal atau murah itu baik atau buruk sambil makan gorengan. Banyak yang berpikiran bahwa pernikahan itu baiknya yang sederhana saja sehingga uangnya bisa ditabung untuk melanjutkan kehidupan nanti. Namun tak sedikit juga yang menganggap karena hal ini cuma terjadi sekali, maka tak ada salahnya menguras uang untuk menunjukkan yang terbaik. Hedeh, pusing kan kalau semua kata orang harus didengarkan?

Advertisement

Sebenarnya tak ada yang salah dari kedua pilihan tersebut asal sesuai kemampuan dan tak ada pihak mana pun yang dirugikan. Namun, sedihnya ternyata ada beberapa fakta miris di balik hingar bingar pernikahan mahal yang berhasil mengesankan tamu yang datang. Biar nggak sampai kejadian di kamu, simak nih ulasannnya berikut ini.

Tak bisa dimungkiri saat ini media sosial memiliki pengaruh besar dalam seseorang menentukan pilihan, semuanya dengan embel-embel ‘Instagramable’

Demi medsos/ Credit: Healing Manor Hotel via www.healingmanorhotel.co.uk

Karena alasan ini, bujet yang tadinya paling besar dialokasikan untuk katering kini juga bersaing dengan pengeluaran untuk dekorasi yang akan menjadi daya tarik utama terlebih lagi saat akan diunggah ke Instagram. Berdasarkan wawancara Hipwee kepada vendor dekorasi, walaupun rustic yang paling banyak diminati terlihat lebih minimalis dibanding yang lain ternyata harganya yang paling mahal lo. Selain dekorasi, lighting juga menjadi salah satu elemen yang saat ini tak hanya jadi pelengkap, namun juga menjadi salah satu bagian besar dari dekorasi itu sendiri. Hal ini yang menyebabkan pengeluaran ikut membengkak.

Lagi-lagi, nikah Instagramable itu nggak ‘dosa’. Salahnya itu kalau nggak sesuai kemampuan kantongmu.

Banyak yang berkata bahwa pernikahan bukan hanya milik pengantin namun juga orang tua dan keluarga masing-masing

Milik orang tua juga/ Credit: Pinterest via www.pinterest.it

Mungkin sepasang kekasih sudah memiliki konsep pernikahan impian yang tak mengundang begitu banyak orang, namun hal ini berakhir menjadi angan-angan semata karena begitu ada kumpul keluarga atau sedang duduk santai saja tiba-tiba tercetus ide dari orang tua bahwa teman-teman mereka juga harus turut menyaksikan betapa ayu dan gagah anaknya saat itu. Mereka juga tak mungkin menggelar pernikahan dengan biasa saja saat sudah mengundang banyak tamu yang siap mengomentari setiap detail kekurangan yang mungkin ada. Hal ini akhirnya melebar kemana-mana, jumlah undangan, katering, dekorasi, dan lain sebagainya yang akhirnya berimbas pada jumlah pengeluaran juga.

Advertisement

Di beberapa tradisi yang berlaku di Indonesia, masih ada juga beberapa prosesi yang harus diikuti yang menyebabkan bengkaknya bujet

Prosesi yang banyak/ Credit: Idang Priadi via idangpriadi.wordpress.com

Biasanya pernikahan tradisional akan identik dengan prosesi panjang yang membutuhkan berbagai hal untuk disiapkan. Yang paling populer, beberapa daerah memiliki aturan dalam menentukan jumlah mahar yang tinggi demi menunjukkan status sosial. Selain itu, berbagai rangkaian acara yang harus digelar dengan mewah pun juga dilaksanakan demi mengikuti tradisi. Nggak salah juga melestarikan adat istiadat nenek moyangmu. Tapi perhitungkan juga, habis pesta kamu dan pasangan masih bisa makan enak dan tidur nyenyak nggak?

Sedihnya, berbagai pengeluaran tersebut kadang dilaksanakan di luar kemampuan sehingga pasangan harus rela berutang

Stres pasca menikah/ Credit: Elite Daily via www.elitedaily.com

Berbagai tekanan yang muncul entah untuk mengesankan orang lain, memenuhi keinginan orang tua, hingga mengikuti tradisi yang sudah berlaku secara turun menurun akan membuat pengeluaran membengkak yang mana jika tidak disesuaikan dengan kemampuan maka akan ada kemungkinan untuk berutang. Walau beberapa alasan mungkin karena orang lain, bisa jadi yang menanggung utang tersebut ya akhirnya pengantin sendiri. Akhirnya kehidupan setelah menikah bukannya sejahtera namun masih harus mencari cara untuk menutup kekurangan tersebut.

Menikah dengan bujet berapapun sebenarnya tidak salah. Toh, banyak yang menikah dengan menghabiskan dana miliaran namun masih bisa honeymoon ke luar negeri dan hidup bahagia tanpa beban setelah menikah. Namun demikian jangan lupakan juga adanya fakta bahwa banyak yang berutang dan malah cerai tak lama setelahnya. Hidup itu pilihan, mau pilih yang masuk akal atau nggak?

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE